JakartaGreater.com - Forum Militer
Dec 022014
 

Roket V-2, Cikal bakal Roket Modern

Replika roket V-2 di musium Peenemünde

Replika roket V-2 di musium Peenemünde

Roket V-2 (bahasa Jerman: Vergeltungswaffe 2) adalah peluru kendali balistik buatan manusia pertama yang bisa mencapai titik sub-orbital di luar angkasa. Roket ini telah menginspirasi berbagai roket modern termasuk roket Saturn V yang dipergunakan dalam perjalanan ke bulan. Lebih dari 3,000 buah roket tipe ini diluncurkan sebagai senjata oleh militer Jerman untuk membidik sasaran dari pasukan Sekutu dalam Perang Dunia Kedua, yang mengakibatkan kematian lebih dari 7,250 dari pihak militer dan penduduk sipil, sedangkan tidak kurang dari 20,000 orang menemui ajalnya di Mittelbau-Dora selama proses pembuatannya.

Mengikuti suksesnya di desa Kummesdorf dengan dua roket seri Aggregate, Wernher von Braun dan Walter Riedel mulai memikirkan rancangan roket yang jauh lebih besar pada musim panas 1936 dengan dasar sebuah mesin yang diprojeksikan memiliki gaya dorong 25 metrik ton. Proyek A-4 ditunda setelah test stabilitas aerodinamis model A-3 pada tahun 1936 memberikan hasil mengecewakan, von Braun memberi perincian perfomance A-4 pada tahun 1937, dan desain dan konstruksi A-4 dilaksanakan sekitar tahun 1938-1939.

Pada tanggal 28-30 September 1939, Konferensi Der Tag der Weisheit (hari kebijakan) diadakan di Peenemunde untuk memulai pembiayaan riset universitas untuk memecahkan masalah keroketan. Pada ahir 1940, Pusat Riset Angkatan dara di Peenemünde berhasil memecahkan teknology inti yang erat dengan suksesnya tipe A-4. Teknologi itu adalah mesin roket besar berbahan bakar cair, aerodinamika supersonik, gyroscopic guidance dan sirip pengontrol semburan jet. Pada saat itu, Hitler tidaklah terlalu terpesona dengan V-2, ia menunjukan bahwa roket V-2 hanyalah sebuah peluru artileri yang memiliki jarak lebih jauh dan harga yang jau lebih tinggi!

Pada awal September 1943, von Braun menjanjikan Komisi Pengeboman JarakJauh bahwa pengembangan A-4 telak selesai, tetapi kenyataannya sampai pertengahan 1944, daftar komponen A-4 yang lengkap belum siap. Hitler kemungkinan masih tetap tidak terpesona dengan kemampuan senjata itu tetapi mengagumi dedikasi tim pengembang V-2, dan Hitler juga memerlukan sebuah “wonder weapon” (senjata yang menakjubkan) untuk menjata moral bangsa Jerman. Hitler menyetujui implementasi jumlah besar senjata V-2.

Pada saat peluncuran tipe A-4 meluncurkan diri dengan tenaganya sendiri sepanjang 65 detik dan sebuah motor program mengontrol sudut hidung pada derajat yang ditentukan saat mesin dimatikan, yang kemudian roket ini melanjukan penerbangan dengan trajektor jatuh-bebas (free fall). Roket ini mencapai ketinggian 80 km sebelum mesin dimatikan.

Pompa bahan bakar dan bahan oksidasi ditenagai oleh turbin uap,yang uapnya dihasilkan oleh pencampuran Hidroken peroksida dan katalist potasium permanganate. Tanki alkohol dan tanki oksigen, keduanya terbuat dari aloi magnesium-aluminium.

Reaksi di ruang pembakaran mencapai 2500?2700 °C. Bahan bakar air-alkohol dipompa melalui ruang berdinding dua dari ruang pembakaran utama (bagian bawah). Ini mendinginkan dinding ruang pembakar utama dan memanasi bahan bakar (regenerative cooling). Bahan bakar kemudian dipompa kedalam ruang bakar utama melalui 1.224 nossel, yang memastikan ketepatan campuran alkohol dan oksigen selama pembakaran. Lubang-lubang kecil juga memperbolehkan sebagian alkohol masuk ke dalam ruang bakar membentuk lapisan tipis (boundary layer) dingin yang melindungi dinding ruang pembakar, terutama pada leher bagian sempit dari ruang. Lapisan tipis (boundary layer) alkohol ini menyala jika membuat kontak dengan atmosfer, yang menghasilkan ekor jet api yang panjang dan lembut (difuse) (mesin desain akhir setelah V-2 tidak menggunakan effek alkohol tipis untuk mendinginkan dinding dan memperlihatkan ekor berpola “shock diamond”)

V-2 diarahkan dengan menggunakan empat sirip ekor dan empat kipas terbuat dari grafit pada bagian akhir motor roket. LEV-3 guidance system (sistem kontrol) terdiri dari dua giroskop bebas (horisontal dan vertikal) untuk stabilisasi lateral dan sebuah giroskop akselerometer yang disambung ke elektrolitik integrator (mesin dimatikan saat lapisan perak tipis habis terelektrolisa pada sisi dasar yang berkonduksitasi rendah). Beberapa model akhir V-2 memakai “sinar penuntun” (signal radio yang dipancarkan dari tanah) untuk bernavigasi ke arah target, tetapi mode-model awal menggunakan komputer analog sederhana yang mengontrol azimuth roket, jarak terbang dikontrol melalui jumlah waktu sampai mesin dimatikan, dan “Brennschluss”, pengontrolan dari darat dengan menggunakan sistem doppler atau berbagai akselerometer integrasi di dalam roket. Roket kemudian berhenti menambah kecepatan set dan mencapai titik terbang tertinggi (kira-kra berbentuk parabola)

Tipe: single stage ballistic missile (area bombing)
Negara asal: Nazi Jerman
Masa penggunaan: 8 September 1944–19 September 1952
Digunakan oleh: Nazi Jerman, Amerika Serikat (pasca perang) dan Uni Soviet (pasca perang).
Produsen: Mittelwerk GmbH (pengembangan oleh Pusat Penelitian AD Peenemünde)
Biaya produksi: 100.000 RM Januari 1944, 50.000 RM Maret 1945
Diproduksi: 16 Maret 1942

Spesifikasi

Berat: 12.500 kg (28,000 lb)
Panjang: 1.400 m (4,600 kaki)(14 m)
Diameter: 165 m (540 kaki)
Hulu ledak: 980 kg (2,200 lb) Amatol
Wingspan: 356 m (1,170 kaki)
Bahan bakar: 3.810 kg (8,400 lb) dari 75% ethanol dan 25% air + 4.910 kg (10,800 lb) oksigen cair

Daya jelajah: 320 km (200 mil)
Ketinggian terbang: 88 km (55 mil) ketinggian maksium dalam lintasan jarak jauh, 206 km (128 mil) ketinggian maksimum bila diluncurkan secara vertikal.
Kecepatan maksimum: 1.600 m/s (5,200 ft/s); saat tumbukan 800 m/s (2,600 ft/s)
Sistem penuntun: Giroskop sebagai pengendali ketinggian, akselerometer giroskopik tipe bandul Müller untuk penghentian mesin di kebanyakan roket yang diproduksi (10% roket Mittelwerk digunakan sebagai balok penuntun saat penghentian mesin)
Alat peluncur: Mobile (Meillerwagen)

by Telik Sandi

Berbagi

  22 Responses to “Teknologi Rahasia Jerman sejak Perang Dunia II”

  1.  

    Mantaaab.

  2.  

    test

  3.  

    jerman mantabbb

  4.  

    Hebat…

  5.  

    Senjata yang mengerikan…

  6.  

    Teknologi yang sangat maju pada jamannya..

  7.  

    banyak mesin2 perang yang sekarang ada di timur dan barat merupakan karya ilmuan jerman, yang setelah perang dunia di jadikan peneliti di US. atau rusia.

    kebebasan yang masih di miliki jerman sebagai negara kalah perang, yaitu di sektor otomotiv. lihat produck otomotive jerman technologinya salah satu terbaik dunia. bagai mana jika di sektor alutsista tidak ada batasan atau control oleh negara pemenang perang???? hmmm mungkin bulava akan secantik tekhnologi mercedes. hahahaaa.

    maaf khayal tingkat tinggi.

  8.  

    Hmmm saya takjub dengan TeknoLogi jerman di Zaman ERA FUHRER HITLER , Hubungan EmosionaL kita dekat dengan jerman kenapa gak minta teknoLoginya aja yah?!

    •  

      lobi Amrik/IMF g setuju-lah..termasuk ketika Habibie digusur secara cepat..walau ada kenang2annya yaitu BI yg mengadopsi sistem Bank Sentral Jerman…shg teruji disaat krisis…..

  9.  

    kl di pikir2 beda tipis sm yakhnot soal jangkauan, ukuranya itu ky gajah banding semut.

  10.  

    Itu Duluu …

  11.  

    soal teknologi militer memang jerman jagonya, bahkan bisa dibilang jerman nih pelopornya modern warfare

  12.  

    Teknologi jerman memang luar biasa bisa menghasilkan produk baru dan inovasi yg mencengangkan tp yg ane bingung rahasianya apa ya mungkin tmn2 warjag bisa kasi tau to ada artikel yg menjelaskan itu… Sbg bhn referensi kita dan usulan ke pemerintahan kita mungkin…

    •  

      Mgkin kita sudah meniru alias mengkloning teknologinya x [email protected], mungkin tapi ya…? Amin klu beneran sich…

    •  

      Semua negara asalkan tingkat pendidikannya sudah mengarah ke ristek, pasti bisa mengembangkan teknologi baru yang inovatif.

      Khusus Jerman, kondisi waktu itu sangat memungkinkan mengungguli Rusia dan Eropa/Amrik kenapa?
      1. Dari sisi permintaan, ada kebutuhan mendesak untuk memenangkan perang.
      2. Dari sisi biaya, karena kondisi perang, menyebabkan anggaran untuk kebutuhan perang dan aktifitas pendukungnya melonjak sangat besar.
      3. Dari sisi SDM, baik karena semangat nasionalis, maupun paksaan (hukuman mati), maka para peneliti berlomba-lomba mengejar target.
      4. Hambatan-hambatan bisa diminimalisir, contoh masalah keselamatan kerja, biasanya diabaikan, padahal pada masa damai hal ini sangat krusial dan bisa membatalkan riset. Selain itu misal penggunaan lahan dan korban dari sipil, pada masa perang tidak pernah dipusingkan. Apalagi masalah demo-demo menolak riset (seperti demo anti nuklir) bisa diredam dengan cepat.
      5. Yang terakhir, masalah kerahasiaan menjadi nomor 1 dan dikontrol ketat oleh negara tanpa memandang HAM dll, sehingga riset dapat dilakukan diam-diam, mencakup sejumlah besar peneliti dan targetnya sangat jelas.
      Dengan kepemimpinan terpusat atau diktator, riset bisa digenjot lagi lebih cepat dan lebih maju dibanding negara lain yang decentralize.

      Itulah yang menyebabkan kenapa Jerman bisa mengungguli lawan-lawannya dalam teknologi.

      Karena itu, saya termasuk salah satu yang sangat setuju bila Perguruan Tinggi disatukan dengan Ristek supaya penelitian mahasiswa dan dosennya sinkron dengan cetak biru pembangunan teknologi nasional.

  13.  

    jangan kuatir indonesia tidak bisa membuat roket untuk kepentingan nasional,apabila pecah perang dunia ke 3,indonesia+kekaisaran slavitlavia+kekaisaran slovenia pasti akan menang perang di kawasan asia tenggara.

  14.  

    buat bung admin masa nick spt ini diijinkan? nick kotroversi neh moho di ganti atau di banned nick spt ini

  15.  

    artikel yang bagus bung @Telik Sandi (Y) 🙂

 Leave a Reply