Nov 062015
 

Ongkos teknologi satelit memang tergolong mahal. Namun pemerintah harus mengubah mindset dalam memandang prioritas atas hal ini, kebutuhan teknologi satelit militer sejajar dengan kebutuhan akan Alutsista yang selama ini mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan angkatan bersenjata.

sat1

Memang tidak ada jaminan tak akan terjadi pencurian data jika Indonesia tetap tidak punya satelit sendiri. Yang patut diingat sebagus apapun cara sebuah institusi menyimpan dan mengamankan data penting, namun kalau masih menggunakan jaringan tetangga dipastikan rawan disadap. Dalam hal ini, memiliki satelit utuk kepentingan militer amat bermanfaat untuk kepentingan nasional.

Drone

Optimalisasi drone untuk militer yang beberapa kali dilontarkan pejabat militer Indonesia, seakan melupakan arti penting satelit. Dengan cukup meminjam satelit PT Indosat, seolah Indonesia tidak memiliki masalah dalam pertahanan angkasa.

satelit-drone

Inilah grafik Drone Sentinel AS. Jika jarak Drone sudah melebihi 200 km, mau tak mau harus pakai satelit untuk komunikasi (panjang Indonesia 5000 km). Sebab meski di pesawat tidak ada pilotnya, di darat tetap saja harus ada yang mengontrol sehingga pesawat bisa pulang dgn selamat. Contohnya, AS yang punya Satelit Militer sendiri saja Drone-nya bisa dibajak Iran karena komunikasi satelitnya dijamming. Bagaimana dengan Indonesia yg satelitnya tumpang tindih dengan kebutuhan sipil?

Satelit Indonesia

sat1

Sampai saat ini, TNI hanya menggunakan teknologi satelit dalam bentuk menyewa transponder milik sipil, yaitu PT Telkom. Frekuensi yang digunakan adalah frekuensi C-Band. Dalam beberapa sumber, disebutkan teknologi C-Band yang digunakan oleh TNI masih belum bersifat “all weather proof”, yang sebenarnya kurang mendukung kebutuhan militer yang membutuhkan komunikasi handal di segala cuaca.

Penggunaan teknologi satelit di TNI juga belum berfungsi maksimal. Kondisi Komando dan Pengendalian (Kodal) TNI khususnya Angkatan Laut saat ini masih terbatas dimana belum tersambung ke kapal. Itu artinya sampai saat ini kemampuan Komando dan Pengendalian kita terbilang lemah, sebab untuk antar perangkat dalam satu matra saja kita belum terkoneksi dengan baik.  Misalkan saja ada kapal perang asing yang melanggar kedaulatan negara kita, kita tentu sulit berbuat banyak, karena keputusan untuk menembak kapal perang asing tersebut ada di petinggi militer, sedangkan untuk berkoordinasi dengan petinggi militer di ibukota sulit.

sat2

Contoh di atas baru di tingkat matra laut, belum di matra yang lain, angkatan udara misalnya, bagaimana kita harus menunggu hampir 5-6 jam untuk menerbangkan F-16 ke pulau Bawean untuk mencegat penerbangan F-18 AS. Hal ini tentu riskan.  Kita butuh teknologi yang dapat menghubungkan operator dilapangan dengan pengambil keputusan, sehingga suatu kasus dapat dieksekusi dengan cepat dan efisien. Disinilah komunikasi satelit berbicara. Kita memang sudah menggunakan teknologi komuikasi satelit untuk militer, tapi faktanya belum optimal. Kita harus memiliki sistem dimana antar perangkat yang ada dapat terintegrasi dengan baik, kemudian apa yang didapat dari perangkat itu dapat diketahui pengambil keputusan dan operator perangkat-perangkat yang kita miliki dapat mengeksekusinya. Lepas dari itu, kita juga harus memiliki satelit khusus militer sendiri tanpa berhubungan dengan sipil. (bersambung)

  11 Responses to “Teknologi Satelit Militer Jadi Kebutuhan Utama (2)”

  1. mantap

  2. Berharap segera punya satelit militer yg bisa mengcover seluruh wilayah nusantara.

  3. Dengan semangat 10 November Indonesia pasti bisa..dan ilmuwan Indonesia pernah bersumpah anda percaya kami pasti bisa..sebentar lagi pesawat kebanggaan kita roll out

  4. jelas butuh banget satelit militer,dan itu harus bikin sendiri,,,Indonesia pasti bisa,,!!

  5. Biasanye klo sebuah artikel diangkat & berulang-ulang/bersambung bung diego punya bocoran nih tentang Satelit buat pertahanan..salam bung diego, & semua warjager..!!!

    ….NKRI HARGA MATI….

  6. satelit yang BRI ,beli…, sangat jauh berbeda dengan satelit pertahanan..
    untuk satelit pertahanan juga ada bermacam2 jenis,,,sdm operator harus teliti sekali,,
    bila ingin memiliki satelit pertahanan,..agar di perhitungkan negara pemilik dan penghancur satelit, seperti rudal,dan senjata laser,.(usa,rusia,china )
    biaya yang sangat mahal sekali demi harga diri sebuah bangsa….belajar.belajar,belajar dan indonesia pasti bisa……….cb

    • sebagai tambahan,..memiliki satelit pertahanan juga harus memiliki.PERTAHANAN UNTUK SATELIT ITU SENDIRI..,jangan satelit pertahanan itu telanjang sendirian diatas,tampa perlindungan
      kalau tampa pertahanan satelite tinggal di tembak dari bawah,atau dari SATELIT LAWAN,.di angkasa
      kini di atas angkasa sudah ada ribuan satelit dengan bermacam2 jenis dan tujuan,..dan sangat sulit membedakan kawan atw lawan,…

      https://en.wikipedia.org/wiki/Anti-satellite_weapon

      cb

  7. abis baca, sepertinya cukup mendesak ya? sedangkan lapan baru bisa membuat satelit operasional tahun 2025

    http://tinyurl.com/pjjsr9q

    kira” tahun berapa satelit militer keluar?

  8. Indonesia akan segera memiliki Satellite ( militer ) sendiri asal Indonesia tidak sampai ke posisi paillite .
    TNI akan semakin Kuat selama hubungan TNI – pemerintah dan rakyat terjalin dengan erat
    Indonesia akan kembali menjadi jaya , syarat’a pemerintah menjalankan UUD 1945 dan ber-pancasila
    Indonesia akan menjadi negara makmur sentosa , jika rakyat dan pemerintah dalam ridho Tuhan Yg Maha Esa
    Indonesia akan menjadi macan asia , asal pemerintah menjamin kebutuhan alutsista dengan Produk Rusia seperti SU tiga Lima juga Ks tipe Akula dan berusaha melupakan tawaran palsu amerika dengan senjata odong2’a 😀 :D:D:D

  9. Apa Kemenhan punya rencana ingin punya Satelit Pengintai /Pemantau / Mata mata ?

  10. Lanjutkan program satelit mikro tujuan militer/pertahanan sekelas satelis lapan A-2 atau A3……

    Salam NKRI !!!

 Leave a Reply