Tender Pesawat KFX Dimulai

Konsep Pesawat Tempur KFX / IFX
Konsep Pesawat Tempur KFX / IFX

Kabar gembira datang dari Korea Selatan. Negara ginseng ini akhirnya benar benar menjalankan proyek KFX, di mana Indonesia terlibat 20 persen saham di dalamnya. KAI menggandeng Lockheed Martin dari AS. Sementara Korea Air Line menggandeng Airbus Defence and Space, Eropa. Tender pertama gagal, karena Korea Air Line dan Airbus Defence and Space, mencapai kesepakatan di akhir waktu.

Dengan masukknya Lockheed Martin (AS) dan Airbus Defence and Space (Eropa), memberi jaminan, program ini tidak akan mangkrak di tengah jalan, karena reputasi kedua perusahaan internasional itu, tidak perlu diperdebatkan. Kita belum tahu seperti apa kemampuan pesawat itu nantinya, yang jelas akan menggunakan platform mesin ganda.


Seoul, 9/02/2015 – Bidding untuk program pengembangan pesawat tempur dalam negeri Korea Selatan gagal pada hari Senin, karena kurangnya pihak yang ikut tender, dan akan dilakukan lelang kedua di akhir bulan ini, ujr Anggota Badan pengadaan senjata Korea Selatan.

Dengan code nama KF-X, proyek 8,5 triliun won atau (US $ 8,3 miliar) ini merupakan ambisi Korea Selatan untuk megembangkan pesawat sendiri dan memproduksi sekitar 120 jet tempur sekelas F-16 untuk menggantikan armada F-4s dan F-5 yang menua.

“Setelah menutup tawaran pada hari Senin, Korea Aerospace Industries (KAI) Ltd menjadi satu-satunya pelamar,” kata seorang pejabat dari Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) kepada wartawan. KAI maju dengan menggandeng Lockheed Martin dari AS untuk proyek tersebut.

Korean Air Line Co yang menggandeng Airbus Defence and Space (Eropa) tadinya diduga akan ikut tender ini. Tapi mereka akihirnya gagal. Untuk membuat proyek ini sah dan bisa berjalan, dibutuhkan setidaknya dua peserta tender.

“Proses untuk penawaran kedua akan mulai besok akan ditutup sekitar akhir bulan ini,” kata pejabat itu, mencatat bahwa Korea AirLine dan Airbus “akan membuat tawaran mereka pada kurun waktu itu.”

Setelah mencapai kesepakatan verbal pekan lalu, kedua perusahaan dijadwalkan untuk menandatangani nota kesepahaman untuk ambil bagian dalam proyek ini, tetapi “mereka tampaknya membutuhkan lebih banyak waktu,” kata pejabat lain.

“Kegagalan penawaran saat ini akan menyebabkan keterlambatan dalam proyek tersebut,” katanya. Setelah menutup tawaran pada hari Senin, DAPA telah merencanakan untuk memilih pemenang lelang bulan depan sebelum seleksi akhir sekitar awal bulan Juni.

Para ahli dan pengamat industri mengharapkan adanya persaingan sengit antara KAI dan Korean Air Line.

KAI memiliki keunggulan teknis atas Korean Air berdasarkan pengalaman mengembangkan pesawat latih supersonik T-50 Golden Eagle dan helikopter serbaguna, Surion. Sementara Korean Air memiliki kapasitas investasi yang lebih besar.

Airbus juga akan mampu melengkapi Korean Air dalam hal masalah teknis, mereka menambahkan. Militer Korea Selatan memutuskan untuk menggunakan platform bermesin ganda dan Airbus akrab dengan platform tersebut setelah membangun pesawat tempur multi-peran, Eurofighter. (yonhapnews.co.kr),

Tinggalkan komentar