Terbang Bersama Helikopter Apache

61
128

Banyuwangi – Latihan bersama Garuda Shield-8/2014 antara TNI AD dengan US Army akan diselenggaraan September 2014 di Malang dan Asembagus Situbondo, Jawa Timur. Transportasi logistik dan armada perang AS, menggunakan fasilitas Pelabuhan Tanjung Wangi.

PT Pelindo III Tanjung Wangi menjadi tempat bersandarnya Kapal Cargo Ocean Giant untuk kegiatan bongkar muat berupa sekitar 22 jenis kendaraan perang, pesawat helicopter US Army, lapis baja dan perlengkapan lainnya yang dimuat dalam ± 40 container 40 ukuran feat.

Setelah Apache dan Black Hawk rampung dirakit, helikopter diterbangkan ke Semarang, Jawa Tengah (pp3.co.id / SHNS/ Jakartagreater.com)

Helikopter Apache di Indonesia (jakartagreater.com)
Helikopter Apache di Indonesia (jakartagreater.com)

61 KOMENTAR

          • gak boleh bung, kalo didelete kasihan crewnya punya anak bini 🙂
            yang mungkin tapi masih agak ribut ya cut and paste alias diklaim milik ndiri he..he…

        • Bung Satrio, maksut saya beli secukupnya saja, trus pelajari secara ditail dalemanya skaligus ambil teknologi yang bisa dikembangkan di dalam negri sendiri, secara alamiah kan DI sudah merampungkan prototype gandiwa tinggal disempurnakan untuk menjadi helicopter asli anak bangsa, DI sudah berpengalaman puluhan thn dlm menjalin kerja sama dg eourocopter maupun airbus military dalam merakit helicopter

          Saya rasa apabila TNI dan pemerintah memberikan perintah yg tegas agar TNI mau membeli tidak kurang dari 5th DI bisa melahirkan heli serang ringan buatan indonesia

          • Itu sudah pernah kita diskusikan
            Pembelian apache memang paling sedikit ada satu skuadron,
            Mencopy paste paling sulit ya radar dan sensor2nya ,,

            Gandiwa berbasis heli bell 205 , yang lisensinya sudah dicabut lama oleh produsennya,
            Gandiwa akan tetap menjadi sekedar sketsa diatas kertas bila tidak ada komitmen dan pesanan pasti dari pemerintah.
            kalaupun pesanannya hanya 1 skuadron PT DI akan rugi dengan biaya developmentnya
            Karena PT DI tidak mendapat subsidi dari pemerintah dan diharuskan menjadi perusahaan yang untung

            Sedangkan user karena belum tahu kapasitas gandiwa karena belum ada prototypenya tidak bisa memberikan pesanan,

            Kecuali ada langkah besar pemerintah misalkan mendorong PT DI mengembangkan heli serang produk dalam negeri dibiayai oleh pemerintah dan pesan dalam jumlah besar misal 3 skuadron,

            Kalau gandiwa aja masih tidak ada kepastian bagaimana PT DI mau nyontek teknologinya apache,, apalagi persyaratan pembelian apache yang diantaranya tidak boleh diutak atik atau perawatan dan servicenya harus di produsen resmi,atau garansi nya akan hilang ,diembargo sukucadangnya dll

        • Sekitar 2thn yang lalu di kota kecil di jawa tengah ada bengkel kecil ala rumahan yang bekerja sama dengan anak2 SMA yang mempunyai cita2 dan cinta tanah air mempunyai ide membuat. Mobil nasional dengan nama ESMKA dan ide itu didukung penuh oleh walikota tersebut beserta jajajranya sehingga ide tersebutr dapat diwujudkan dan di suport penuh oleh bapak walikotanya, kemudian stelah jadi mobil ESMKA dibeli oleh pemerintah untuk digunakan menjadi kendaraan dinas, setelah kabar ini menjadi hot berita nasional dan kemudian dilakukan pengujian pemerintah oleh suatu badan yang menggunakan standar tinggi dan hasilnya mobil ESMKA belum boleh dijual secara bebas (produksi masal)
          Yang pelu dicatat adlah kalau mobil ESMKA dibuat dibengkel rumahan dan yg mengerjakananak2 SMK, bagaimana kalau DI yang sudah mempunyai pengalaman puluhan thn dan sudah sering merakit heli baik itu kerjasam dgeourocopter maupun aibusmilitary pastilah DI tidak akan membutuhkan waktu lama kalaudiminta oleh pemerintah membuat heli apache rasa indonesia

          Maukah pemerintah dan TNI mendukung dan memberikan suntikan modal untuk membuat heli serang ringan apache rasa indonesia, ayo TNI di tunggu tanda tangan orderanya 😀

          • Esemka mah mobil china yang dirakit um, untuk tujuan kepentingan….ah masak gitu saza gak tau, atau pura2 gak tau sih 😀

    • Radar/konde Apache jauh lebih kuat mengendus sasaran dibanding radar Manpad. Bahkan bisa megendus banyak sasaran sekaligus. Soal kecepatan, apache adalah pesawat rotary yang bisa terbang tinggi dan diam (hovering) di atas jangkauan Manpads, -versi AH 64 guardian/E. melacak sasaran -imho

  1. Lapor pak diego,, kenapa JKGR skrg hanya mengulas info yg bgini2 saja ya? Sekian lama sya jd SR, jadi sdikit banyak tau perkembangannya. Trus terang sya gak melihat quality beritanya dari yg skrg, klu dulu para sesepuh sangat piawai mengolah ataupun membuat berita sehingga bisa membangun dan menggiring opini para pembaca. Seperti teka teki gitu, dan luar biasa sya pikir. Dari yg awalnya sya kurang tertarik dgn forum ttg alutsista/militer, jadi sangat antusias berkat forum ini.
    Maaf ini hanya skedar pandangan sya, skrg sepertinya cuma mengejar kuantitas sedangkan kualitas diabaikan. Contohnya berita ttg kedatangan american army ini, dipecah2 dan dibuat banyak berita (sub)? Maka berlebihan menurut sya. Sya pikir bisa membuat berita yg lebih menarik lagi. Trims

  2. Garuda Shield Exercise ini cuman program bantuan dari Amerika Serikat yang namanya International Military Education and Training (IMET). Untuk tinggalin barang itu sulit, jika kita mau pinjam untuk parade HUT TNI nantinya pun harus melalui suatu protokol bersama antara Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat yg masuk kedalam ranah perjanjian antar Kementrian Luar Negeri. Begitu juga hibah, nantinya akan dibuatkan amandeme berupa perjanjian Hibah nanti akan melalui proses seperti proses pendanaan dan pelaksanaan yaitu bisa melalui Foreign Military Sales (FMS) dan Direct Commercial Sales (DCS). Nanti ada lagi proses penanganan Excess Defense Aricle (EDA) dll…

    Jadi nitip barang itu tidak segampang yg teman-teman kira, malah sampai dengan ratifikasi UNCLOS, karena ini berkaitan dengan kepentingan maupun keamanan setiap negara. IMHO