Jun 152018
 

JakartaGreater.com – Perusahaan Automatica Concern asal Rusia telah mengumumkan tiga senjata elektromagnetik baru yang akan diuji di Suriah bersamaan dengan senjata Kalashnikov baru.

Seperti dilansir dari laman Russia Beyond, senjata terbaru tersebut dibagi menjadi versi kecil, sedang dan besar, tergantung kepada jenis target udaranya. Fokus utama mereka adalah pada UAV (kendaraan tak berawak) yang memenuhi langit Suriah.

Senjata Elektromagnetik Portabel

Senjata terkecil dijuluki sebagai “Pishchal”. Ini adalah senapan elektromagnetik portabel yang dirancang untuk melumpuhkan sinyal Wi-Fi dan GPS yang berasal dari teroris ISIS yang menggunakan drone untuk mengintai. Ia mampu merontokkan musuh di jarak hingga setengah kilometer, menggagalkan unit-unit mesin yang sepenuhnya akan menghalangi pandangan mereka.

Sementara itu, senjata medan elektromagnetik ini tidak akan memengaruhi si penembak karena radiasi mundur yang minim dan telah memenuhi standard medis. Rincian sisanya masih rahasia dan akan diresmikan selama pameran militer Army-2018 di Moskow pada Agustus nanti, setelah uji pertempuran selesai dan hasil sudah diketahui.

Namun, diketahui bahwa senjata “Pishchal” sama dengan senjata elektromagnetik REX-1 buatan Kalashnikov yang baru. Prinsip kerja mereka sama yakni dengan menekan saluran komando dan kontrol dari drone yang paling sering kita temui di dunia seperti GSM, GPS, GLONASS dan Galileo.

“Sesuai dengan tujuan dan target khusus, adalah mungkin untuk mengubah laras REX-1 dan memasang komponen yang diperlukan dalam hitungan detik, sama seperti mengganti magasin pada senapan serbu”, ujar Nikita Khamitov, kepala khusus departemen proyek di Zala Aero Group kepada Russia Beyond.

Berkat ini, penggunanya dapat menghemat baterai. Senapan masih digunakan menembak terus-menerus selama empat jam. Pengguna kemudian bisa mengisi ulang baterai selama empat jam dengan menggunakan soket 220 volt umum, atau pun memasukkan baterai tambahan tanpa hambatan.

Reaksi drone akan berbeda-beda terhadap tembakan semacam ini. Akan tergantung pada modelnya, drone punya 2 mode default jika komunikasinya dengan operator hilang, yakni kembali ke titik awal atau mendarat secara otomatis.

Saudara Besar

Senjata elektromagnetik medium dan besar yang dibuat oleh Automatica Concern dijuluki sebagai “Ram” dan “Peregrine Falcon”. Yang disebut terakhir adalah yang paling kuat dan dirancang untuk melawan semua jenis drone, mulai dari sebuah mesin pengintai kecil sampai yang dipersenjatai dengan bom ataupun rudal.

Peregrine Falcon mendeteksi UAV melalui sistem pelacakan multi-kanal dalam spektrum inframerah, visual, radio dan radar pada jarak hingga 100 km. Peregrine Falcon akan mendeteksi, mengikutinya di radar dan “mematikannya”. Tetapi, jika drone ini membawa senjata dan tidak bisa diatasi dengan spektrum elektromagnetik, maka “Peregrine Falcon” akan mengirimkan koordinat mereka ke sistem pertahanan udara seperti Pantsir-S1 yang kemudian akan menembakkan peluru kaliber 30 mm.

Senapan elektromagnetik anti-jamming jarak menengah stasioner disebut sebagai “Ram” dan sangat efektif terhadap serangan UAV besar-besaran dari berbagai arah. Saat drone terdeteksi, ia langsung “membangun” medan elektromagnet yang sangat kuat di sekitar pangkalan yang mampu melumpuhkan drone. Meskipun memiliki banyak frekuensi, radiasi gelombang elektromagnetna benar-benar tidak berbahaya bagi orang-orang di bawah kubah.

“Poin utama dari sistem ini adalah untuk mendeteksi serta menghilangkan target udara berukuran kecil yang tidak terlihat oleh mesin dan radar yang lebih besar seperti S-400 Triumph dan Pantsir-S1. Karena mereka ini dibuat untuk mendeteksi jet tempur, bomber, misil, bom dan ancaman udara besar lainnya, bukan drone kecil”, terang Dmitry Safonov, mantan analis militer surat kabar Izvestia.

Menurut dia, jika ketiga sistem senjata elektromagnetik ini lulus uji pertempuran, mereka akan menjadi tambahan yang bagus untuk pertahanan udara militer Rusia dan negara-negara lain di seluruh dunia