Kendaraan pendukung tempur, BMPT-72 Terminator-2 buatan UVZ, Rusia © Vitaly V. Kuzmin (8/9/2016) via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Militer Rusia sedang mengembangkan tank dukungan tempur yang berbasis pada sasis BMPT-72 dan dijuluki sebagai Terminator-3, sebagaimana dilansir dari laman National Interest.

Kendaraan lapis baja yang dirancang untuk mendukung armada tank dan infanteri itu juga akan mampu menembak jatuh drone, menurut media Rusia.

“Kendaraan baru akan dapat beroperasi menghadapi semua jenis target baik udara, darat, pasukan musuh dan target material”, menurut Sergei Abramov, direktur perusahaan senjata milik negara Rostec, kepada Sputnik News.

Perubahan dapat termasuk “proyektil permukaan-ke-udara dengan lintasan yang dapat disesuaikan, yang akan memungkinkan Terminator-3 untuk menghancurkan kendaraan udara tanpa awak, serta proyektil serbu dan senjata utama kaliber lebih besar”, terang pejabat industri pertahanan lainnya. Abramov berkata bahwa jumlah awak kendaraan bisa dipangkas dari lima menjadi tiga orang melalui peningkatan otomatisasi.

Meskipun Terminator-3 didasarkan pada sasis tank T-72, BMPT-72 berbobot 44 ton itu secara teknis bukanlah tank tempur utama seperti T-72 biasa atau M-1 Abrams buatan Amerika Serikat.

Alih-alih menggunakan senjata besar, kendaraan tersebut hanya dipersenjatai dengan dua autocannon 30 mm, 2 peluncur granat otomatis, 4 rudal anti-tank Ataka serta senapan mesin berat.

Terminator-3 ini dimaksudkan untuk menjadi kendaraan pendukung tempur, cadangan yang akan melengkapi kendaraan lapis baja (tank) dan infanteri biasa, terutama yang akan beroperasi di medan perkotaan dimana senjata seperti meriam cepat dan peluncur granat sangat berguna.

Terminator 2 saat ini telah dikerahkan dengan pasukan Rusia di Suriah dan dengan tentara Kazakhstan, sedangkan Aljazair dilaporkan akan menerima 300 unit tahun ini. “Dengan mempertimbangkan pengalaman penggunaan tempur Terminator, kami sekarang bekerja pada bentuk modifikasi baru dari mesin ini”, kata Abramov.

BMPT-72 diproduksi pada tahun 1990-an, berdasarkan pengalaman Rusia di Afghanistan dan Chechnya, di mana banyak kendaraan lapis baja Rusia dihancurkan oleh gerilyawan yang dipersenjatai dengan roket anti-tank dan rudal.

Membekali kendaraan lapis baja berat dengan senjata api yang lebih kecil tapi cepat untuk menggunakan senjata infanteri dan senjata anti-tank, harus membiarkan tank-tank reguler bebas menggunakan meriam berat mereka terhadap mangsa yang lebih besar.

Namun, mengubah Terminator menjadi sebuah platform anti-drone tentu memunculkan beberapa pertanyaan.

  • Di mana proyektil anti-drone – tidak jelas apakah mereka akan berbentuk senjata atau rudal – dipasang pada sasis yang sudah dikemas dengan sembilan senjata yang berbeda?
  • Di mana kendaraan akan memasang radar pertahanan udara?
  • Jika tidak memiliki radar, maka hanya akan menargetkan drone kecil dalam garis pandangnya?

Bukannya kendaraan lapis baja dwi-tujuan itu baru. Meriam otomatis quadruple pada kendaraan pertahanan udara Soviet ZSU-23-4 yang legendaris sudah terbukti merusak target-target darat (seperti yang dilakukan pada M42 Duster AS di Vietnam).

Tapi mempersenjatai Terminator 3 dengan meriam, peluncur granat, dan senapan mesin, rudal anti-tank serta senjata anti-drone? Itu terlalu banyak menjejalkan senjata pada satu kendaraan, dan banyak yang harus ditangani kru.

Seperti apakah konsep tank pendukung tempur masuk akal, memang masih harus dilihat. Rusia mengklaim bahwa Terminator 2 telah berhasil di Suriah, meskipun itu demonstrasi yang sangat terbatas. Secara historis, tank pendukung tempur digunakan dalam Perang Dunia II: Inggris mempersenjatai beberapa tank A15 Crusader menggunakan howitzer 3 inci, sementara Amerika mempersenjatai M4 Sherman dengan howitzer 105 mm.

Meskipun kendaraan ini memiliki lapis baja yang bagus serta menawarkan kemampuan khusus, terutama melawan infanteri dan target lunak lainnya, mereka pun membutuhkan biaya. Tank adalah mahluk berat dan rumit yang membutuhkan perawatan intensif.

BMPT-72 mungkin akan lebih bertahan hidup di medan perang daripada kendaraan yang lebih ringan, tetapi juga membutuhkan lebih banyak perawatan. Memang, Terminator asli didasarkan pada sasis tank T-90, namun ditolak oleh militer Rusia karena terlalu rumit untuk misi.

Sementara itu, Angkatan Darat AS (US. Army) mengadopsi versi pertahanan udara dari kendaraan pengangkut personel Stryker. Pertimbangkan implikasinya jika AS mencoba membuat pertahanan udara atau kendaraan anti-tank berdasarkan sasis M1 Abrams.

Meskipun memiliki nama yang keren seperti “Terminator”, namun masih harus dilihat apakah BMPT-72 akan dapat membuktikan ide terbaiknya.

Bagikan:

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY