Dec 252014
 
Hutan Malinau Kalimantan (foto: Nationalgeographic.co.id).

Hutan Malinau Kalimantan (foto: Nationalgeographic.co.id).

Pagi yang cerah di tanggal 17 November 2014, Pratu TNI Agus Yulianto dan tiga prajurit lain pergi mencari air bersih di tengah rimba pedalaman Malinau, Kalimantan Utara.

Dua jam kaki mereka melangkah, air bersih tak kunjung didapat. Pagi itu, menjadi awal mereka tersesat selama empat hari di tengah rimba belantara.

“Jujur, kami takut sekali tersesat di hutan yang tidak kami kenal sebelumnya,” kenang Agus saat Kompas.com jumpai pada awal Desember 2014.

Agus adalah salah satu prajurit yang bertugas di Pos Pengamanan Perbatasan (Pospamtas) Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, yang dipindahkan ke Pospamtas Long Bulan bersama dua rekannya per 9 November 2014.

Rencananya, Pospamtas Apau Ping hendak ditiadakan lantaran terlalu jauh dengan patok batas perbatasan Indonesia-Malaysia.

Situasi Pospamtas Long Bulan berbeda dengan Pospamtas Apau Ping. Long Bulan berada di tengah hutan rimba, butuh waktu berhari-hari berjalan dari pos itu ke pedesaan terdekat. Logistik pun harus dikirim memakai helikopter setiap satu bulan sekali.

Pada pagi di pertengahan November itu, para prajurit di Pospamtas Long Bulan kehabisan cadangan air bersih. Hujan yang merupakan sumber air satu-satunya bagi pos ini, tak kunjung turun.

Air tanah di lokasi pos tak bisa diandalkan sebagai sumber air bersih, karena warnanya kemerahan dan berbau tak enak.

“Pagi itu saya sama tiga adik llifting (angkatan TNI) inisiatif mencari air bersih di hutan,” ujar Agus.

Tanpa bekal

Pagi itu, mereka sama sekali tak berpikir bakal tersesat berhari-hari di tengah hutan. Mereka tak membekali diri dengan makanan maupun minuman.

Agus hanya berkaos loreng dan bercelana training, begitu juga dua prajurit lain. Satu prajurit lagi bahkan hanya berkaos loreng dan memakai celana selutut.

“Saya hanya bawa senjata laras panjang satu,” lanjut cerita Agus. Setiap langkah mereka ayun masih dengan pikiran sumber air tak akan terlalu jauh dari pos.

Di sepanjang perjalanan, hanya ada pepohonan besar–berukuran sepelukan hingga enam pelukan lelaki dewasa–di sekitar mereka. Pemandangan lain hanya semak belukar.

“Kami mengikuti jalan setapak keluar pos. Kami sempat bertemu jalan sama dua kali. Tapi kok ke arah pos lagi, ke pos lagi? Kami merasa aneh kan, akhirnya kami ambil jalur beda,” ujar Agus.

Dua jam pun berlalu. Agus memutuskan kembali saja ke pos karena air tak kunjung ditemukan. Namun, kali ini justru jalan pulang menuju pos “menghilang”.

Saat menatap berkeliling, pemandangan terasa asing. “Sadarlah kami telah tersesat,” ujar Agus. Seharian itu mereka masih berupaya terus berjalan mencari jalan pulang tetapi tak juga bisa.
image
Pesan kepala adat

Lelah, lapar, dan dahaga, merusak konsentrasi keempat prajurit ini. Hari pun merembang petang. Sebagai prajurit tertua, Agus berupaya mengingat dan menyusun strategi dengan tenaga yang tersisa.

Pelahan Agus lalu teringat perkataan kepala adat Dayak di Desa Apau Ping saat pertama kali bertugas di sana. “Kepala adat bilang sama saya, kalau tersesat di hutan adat ini jangan takut. Ikuti saja awal matahari terbit, pasti akan menemui sungai Bahau,” kenang Agus.

Sungai Bahau memiliki hulu di salah satu bukit yang merupakan perbatasan Indonesia-Malaysia. Jika mengikuti aliran sungai itu ke hilir, ujar Agus menirukan pesan kepala adat itu, dipastikan akan bertemu desa.

Perkataan kepala adat tersebut terus terngiang selama keempat prajurit ini melangkah. Sembari berjalan ke arah matahari terbit, mereka mengumpulkan buah-buahan hutan dan daun yang sekiranya bisa dimakan untuk mengganjal perut yang lapar.

Untuk menghapus dahaga, mereka memeras air dari tumpukan lumut yang menempel dari batang pohon. Meski membawa senjata, Agus mengaku tidak berani menembak binatang hutan yang sering mereka temui.

Agus mengaku dia dan teman-temannya khawatir ketika membunuh binatang di hutan adat secara sembarangan malah akan berakibat celaka bagi mereka.

Malam pertama

Seharian berjalan, “pasukan” ini pun memutuskan mencari tempat beristirahat pada pukul 17.00 Wita. Mereka juga bersepakat akan tidur bergantian hingga fajar menyingsing.

Tidur beralas tanah, mereka masih harus menahan pedihnya gigitan agas–serangga kecil semacam nyamuk yang juga mengisap darah–selain kekhawatiran didatangi binatang buas. “Sudah enggak tahu malam itu rasanya kayak apa. Semuanya campur-aduk jadi satu,” ujar Agus.

Mental mereka pada malam itu sempat jatuh karena mimpi salah satu prajurit. Pada saat giliran tidur, prajurit itu bermimpi minum kopi bersama prajurit TNI yang tewas karena helikopternya jatuh di tengah proses pembangunan Pospamtas Long Bulan pada November 2013.

Hanya lantunan doa yang membuat mereka saling menguatkan diri dan menjaga pikiran tetap jernih pada saat itu. “Meski sangat sulit,” aku Agus.

Agus mengatakan dua hari pertama mereka jalani dengan kalut. Makan dan minum tak cukup, lelah karena terus berjalan kaki mulai terasa mendera, ditambah efek mimpi salah satu dari mereka itu.

Pada titik terendah kondisi mereka, tutur Agus, alam menunjukkan kekuatannya. Pada saat itulah mereka akhirnya menemukan sungai, meskipun baru sungai kecil dan bukan Sungai Bahau.

Meski demikian, keempat prajurit ini memutuskan untuk mengikuti alur sungai kecil tersebut. “Untungnya lagi, hari ketiga dan keempat hujan. Jadi meski lapar kami tidak kehausan,” lanjut Agus.

image
Jawaban alam

Terasa sangat lama, kata Agus, sudah empat hari mereka berempat menyusuri kelebatan hutan Malinau ini. Namun, pada petang hari keempat itu, mereka akhirnya menemukan Sungai Bahau.

Semangat keempat prajurit pun timbul kembali. Benar saja, tak berselang lama mereka berpapasan dengan rombongan ketinting kepala desa yang memang sedang mencari mereka.

“Kami akhirnya ditemukan. Saya tidak ingat lagi bagaimana kami ditemukan. Katanya, baju kami sudah compang-camping, badan penuh pacet. Pas di kampung, saya timbang, berat badan saya turun 15 kilogram,” tutur Agus.

Petang itu adalah 21 November 2014. Setelah dirawat beberapa hari di desa terdekat, Agus kembali bertugas di Pospamtas Apau Ping, sementara tiga prajurit lain dikembalikan ke batalyonnya di Tarakan.

Agus mengaku tidak kapok bertugas di perbatasan sekalipun mengalami peristiwa ini. Dia mengaku, peristiwa itu menguji kemampuan keprajuritan mereka, dan jelas tak terlupakan.

“Tidak kapok. Asalkan tidak tersesat sampai ke Malaysia saja…” ujar Agus, kali ini sembari tertawa mengingat kisah sengsaranya itu. (Kompas.com).

Bagikan Artikel :

  50 Responses to “Tersesat di Rimba Perbatasan Indonesia – Malaysia”

  1. AssalamuaLaikum warjager..selamat pagii

  2. Selamat natal untuk rekan kristiani…

  3. Apa sebaiknya wilayah perbatasan dijadikan tempat latihan Dasar TNI dan kecabangang infantri..?
    mengenali kontur halaman sendiri tentu menjadi keunggulan tersendiri jika terjadi kontak senjata.

  4. Selamat natal untuk rekan kristiani…

  5. saya berharap KSAL berikutnya dari jendral mariner….insyaallah lebih berani….

  6. Bupati yang punya wilayah ini apa lebih suka nongkrong di Jakarta ya?

    • APBD kab malinau 1,25 Triliun (2013) – DAU rp 620.970.044.000.-(2013)

      APBD 2014 Diusulkan 1,595 Triliun
      http://www.malinau.go.id/berita-185-apbd-2014-diusulkan-1595-triliun.html

      • Gile. APBD rata2 2x kabupaten kecil di Jawa, dng anggaran segitu semua akses jalan antar kecamatan sudah beraspal mulus.
        Semoga daerah perbatasan mulai diperhatikan dan dibangun terutama oleh pemda kabupaten setempat. Paling awal yg harus dibangun adalah akses jalan penghubung antar kecamatan menuju ibukota kabupaten. Kalau akses jalan sudah tersedia dng baik dan lancar, lain2nya akan mengikuti. mimpi.com

        • bung pitik … jangan disamakan di Jawa kami di Kalimantan rata2 anggaran APBD diatas 1 T namun luas wilayah di kab. 2 x prov. DIY bahkan ada yang 4x luas DIY. belum kebutuhan pokok semen dll banyak import dari jawa ato sulawesi otomatis harga lebih tinggi…

          • Salam kenal Bung, semoga daerah perbatasan mendapat perhatian serius sehingga bisa berubah menjadi teras depan NKRI yg bisa membanggakan bagi warganya. amin.

  7. Kalau merunut kisah pada artikel diatas, bgm TNI akan menempatkan material Alutsista berat di sana?

    • Dijabarkan sedikit disini bung, biar lebih paham arahnya kebijakan akan kmn..,trims

      • Arahnya adalah rencana penggelaran MBT Leo dan MLRS ke Perbatasan Kalimantan dan Malaysia, seperti pernyataan para pejabat militer baik daerah mauun pusat.

        Jangan-jangan belum sampai titik yg di inginkan, material Alutsista yg akan di gelar tersebut sdh fatique ” lelah” secara teknis, dan kedodoran logistiknya sebelum sempat bertempur.

        Di satu sisi, kapan infantery kita di lengkapi kaporlap moderen dan berkualitas agar tidak terjadi lagi kejadian seperti artikel diatas.

        • jangan kuatir bung , tahun 70 an saja indonesia siap dengan logistik ketika perang dgn timor timur. bapak saya marinir dikirim ke timor thn 78 , semua logistik tdk pernah kekurangan semua makanan kaleng ada minuman susu ovaltine jaman dulu cukup. bahkan sempat dikirim ke rumah tiap 3 bulan sekali sisa jatah. saking bosennya dengan makanan kaleng yg berlimpah kadang berburu kuda , kerbau. jadi klo thn 70 an saja dalam berperang logistik mampu apalagi sekarang.

          • Dukungan Logistik yg saya maksud bukan logistik untuk prajurit, tapi dukungan logistik untuk material Alutsista yg di kirim ke perbatasan.
            BBM, Olie, Sukucadang, serta Amunisi.
            Kalau merunut artikel diatas, apakah logistik spt hal diatas harus di pikul manusia kapan sampainya????
            Piye tho.!!!!!

    • Heli angkut berat….

      kalo melihat lebatnya hutan2 kalimantan dan Irian,
      tetaplah infantri kualifikasi riders akan sangat efektif, disamping batalyon mekanis.

      • Kalau kalimantan sih ga masalah. Kalau papua saya tidak yakin..hehehe. Jangankan rider, setiap pasus yg ikut infiltrasi mengejar GPK di pegunungan papua akan ciut nyalinya. Alam papua itu unik dan mematikan. Saya dan 3 rekan pernah ketemu ular sebesar batang pohon pisang sedang melilit di pohon beringin. Saya juga pernah menyaksikan warga yang memakan hidup-hidup warga lainnya. Rekan saya pernah menyekolahkan GPK dengan memenggal kepalanya tapi yang berangkutan masih bisa berlari. Dihajar GLM baru dia bisa diam tersunggur manis. Gangguan makhlus halus jangan ditanya lagi

  8. mencoba menyelami semangat juang prajurit penjaga perbatasan…. Innallaaha m’aa shobirin.. sesungguhnya Allaah bersama orang yang sabar. BRAVO TNI..!!!!

  9. Tidak ada GPS? Eh… jangankan GPS, air saja tidak ada! You bayangkan lah jika haus tidak ada air. Ini benar-benar horor. Perlu list A1 neh.

  10. Selamat pagi & selamat merayakan hari natal bgi sodara2 kita yg sdng merayakanya. salam sejahtera & damai slalu bersama kta smua,amin.

  11. hal2 seperti ini salah satu alasan yang membuat saya ingin jadi anggota TNI, sayang fisik gk mendukung.

  12. Jadi teringat kisah2 Satuan Rajawali

  13. Uang buat beli GPS nya sdh di tilep ama tikus2 kali hehehehe… heran juga ya…ASLI BENAR2 HERAN… padahal dulu saya liat di TVone..ada alat penyulingan air mandiri dari karya anak bangsa..bahkan dari alat itu..air sekotor apa pun termasuk air kencing (kkwkwkw) dapat di suling jd air bersih.. (asal jangan air sperma kakakakkaka). Harusnya Pos2 TNI di perbatasan ada Alat Suling Air, Listrik Mandiri pake energe Surya/angin sekalian Nuklir kalo bisa (kwkwkw) biar kalo perang tinggal tembak aja tuh,GPS portable, Komunikasi yg mumpuni Plus Zimat/Wifiq dari dukun ato Ulama (kakakkaa) biar gk takut nembak hewan buruan buat makan daging….. MASA SIH.. anggaran TNI gk bisa mengadakan alat gituan..MASA SIH …. NIH BAPAK JOKOWI HARUS BACA KAYA GINI…

  14. AWAS ADA TENTARA JIN JUGA LAGI LATIHAN SECAPA/SECABA DI HUTAN2 KALIMANTAN KWKWKWKWKWKW.

  15. Miris memang nasib prajurit2 TNI… yang enak2 cuma petinggi-petingginya saja. Semoga pemerintahan Jokowi bisa membenahi dan memberantas tikus2 yg menggerogoti TNI

  16. Selamat Natal, untuk rekan-rekan yang merayakannya. God Bless You

  17. Mungkin itu hanya gemblengan prajurit pratu ,, coba klo pasukan raiders ? Lain cerita nyaa

  18. Institusi segede TNI gak membekali anak buahnya dengan gps????, bahkan hp harga dibawah 1 jt rupiahpun sudah ada gpsnya…..

    Gak banyak komen…..terlalu

  19. Salut pada anda..Pratu Agus Yulianto, dan ketiga rekan anda…Salut..pada rekan2 TNI yang berjaga di perbatasan….Hormat kami dari Rakyat Indonesia….Kami Bangga Pada Anda Semua….Jayalah TNI..Jayalah NKRI!!!

  20. ini bkn cm memilukan tp jg memalukan..apa yg terjadi dgn prajurit klo nggak ktemu sm org2 lokal,bgmn jk nyasar sampe ke negri jiran..ditangkap bs saja diblg mata2,mending ditangkap gtu aja,klo di siksa gmna yah..
    pemerintah cm suruh prajurit setor badan doank nggak mikiran fasilitas pendukung utk prajurit di medan operasi..puji Tuhan semua prajurit selamat berkat kepedulian masyarakat perbatasan

  21. SAYA MENDUKUNG KALAU HUTAN RIMBA DIPERBATASAN DI JADIKAN PUSAT LATIHAN ANGGOTA TNI SECARA TOTAL UNTUK LEBIH AKRAB DENGAN KONDISI GEOGRAFIS YANG ADA.SALAM NKRI

 Leave a Reply