Jun 182018
 

JakartaGreater.com – Bukti dari masa lalu tampaknya menegaskan bahwa pilot jet tempur Prancis pernah “membunuh” pesawat tempur siluman F-22 Raptor Amerika Serikat dalam simulasi pertempuran, seperti dilansir dari laman National Interest.

Meskipun belum pernah terjadi sebelumnya, simulasi penembakan jet tempur F-22 masih menjadi masalah besar dikarenakan beberapa alasan.

Salah satunya, F-22 buatan Lockheed Martin ini seharusnya menjadi pesawat tempur yang paling menakutkan dalam sejarah, keajaiban teknologi senilai seperempat miliar dolar per unit, mampu terbang lebih tinggi dan lebih cepat daripada lawannya sambil menghindari deteksi radar.

Pentagon pun mengandalkan sejumlah kecil F-22 Raptor yang mahal (sekitar 180-an unit)  untuk menangkal pesawat musuh yang mungkin jauh lebih banyak untuk masa mendatang. Setiap kekalahan F-22 dalam simulasi tempur dapat merusak rencana Pentagon untuk dominasi udara.

Plus, Prancis masih memiliki reputasi yang sama sekali tak layak di kalangan militer non Prancis untuk ketidakmampuan di medan perang – yang sebagian besar didasarkan pada sejarah Perang Dunia II yang buruk.

Jet tempur Dassault Rafale Angkatan Udara Prancis di landasan pacu. © Mark Harkin via Wikimedia Commons

Bahwa seorang pilot jet tempur Rafale Prancis dapat mengalahkan F-22 Raptor berbicara banyak tentang keterbatasan pada Raptor dan tentang kemampuan tempur udara Prancis dalam tujuh dekade setelah Paris menyerah kepada Nazi Jerman.

Kemenangan Rafale Prancis atas F-22 AS terjadi di bulan November 2009. Sebuah skuad F-22 dari Fighter Wing 1 Angkatan Udara AS di Virginia terbang menuju Al Dhafra, UEA, untuk berlatih dengan Rafale milik Angkatan Udara Prancis dan Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris.

Bulan berikutnya, Kementerian Pertahanan Prancis merilis rekaman video dari kamera depan jet tempur Rafale dan menunjukkan jet siluman F-22 dalam posisi dogfighting yang tak menguntungkan, menyiratkan bahwa pesawat Prancis telah memenangkan setidaknya satu putaran simulasi tempur.

Namun para pilot F-22 AS bersikeras bahwa pesawat mereka tidak terkalahkan melawan Prancis selama latihan di bulan November – dan faktanya, F-22 dapat “menembak jatuh” Rafale dalam enam kali duel udara. Lima simulasi tempur lainnya berakhir dengan “seri”, menurut pilot Amerika. Para pilot AS hanya pernah kalah sekali dalam simulasi perang – ketika sebuah F-22 dikalahkan oleh Mirage 2000 yang diterbangkan oleh Angkatan Udara Uni Emirat Arab.

Namun sebuah video yang dipasang oleh situs Prancis pada tanggal 18 Juni membuktikan bahwa orang Amerika telah berbohong – atau setidaknya tidak benar. Video dari kamera Rafale dengan jelas menunjukkan pesawat Prancis itu melakukan manuver ke posisi yang bagus untuk meluncurkan rudal Mica yang dipandu infra-merah melawan F-22.

Agar adil, tidak jelas skenario apa yang dimainkan dalam simulasi itu: misalnya, apakah F-22 Raptor sengaja diperlambat serta terbang lebih rendah untuk membiarkan Rafale unggul demi tujuan pelatihan.

Namun demikian, video itu menunjukkan bahwa Rafale, satu dekade lebih tua dan kurang canggih bila dibandingkan dengan jet siluman F-22, dapat secara kasar sebanding dengan Raptor ketika bermanuver dengan kecepatan rendah dalam pertempuran jarak dekat.

Bahkan sebelum Mirage 2000 Uni Emirat Arab dan Rafale Prancis menang di tahun 2009, Amerika mengetahui bawha F-22 dapat dikalahkan, meskipun mereka jarang mengungkap fakta yang tidak mengenakkan tersebut.

Selama latihan udara gabungan terbesar pertama Raptor tahun 2006, F-16 dari Angkatan Udara AS yang berasal dari tahun 1980-an berhasil “membunuh” F-22. Bahkan EA-18G Growler, yang dirancang untuk mengacak radar musuh, mengulangi prestasi pada tahun 2008 atau pada awal 2009.

“Tidak peduli seberapa ajaibnya F-22 Raptor, setiap pilot dapat membuat kesalahan”, kata Letnan Kolonel Dirk Smith, komandan skuadron Raptor.

Dan simulasi perang 2009 tidak akan menjadi yang terakhir untuk menghasilkan Raptor yang “mati”. Pada bulan Juni 2012, kontingen pilot Jerman yang menerbangkan Typhoon baru bersama dengan Inggris menemukan taktik terbaik untuk menjatuhkan F-22.

Delapan kali selama pertandingan perang dua minggu di Alaska, duel Typhoon Jerman melawan F-22 dalam manuver tempur dasar yang dimaksudkan untuk mensimulasikan dogfights jarak dekat. “Kami berimbang”, kata Mayor Jerman Marc Gruene.

Menurut Gruene, kuncinya adalah untuk bisa sedekat mungkin dengan F-22 dan tetap ada di sana. “Mereka [F-22 AS] tidak mengharapkan kita [Typhoon Jerman] berubah begitu agresif”.

Gruene mengatakan Raptor hanya unggul dalam pertempuran di “luar jangkauan visual” dengan kecepatan dan ketinggian, radar berteknologi tinggi serta rudal jarak jauh. Namun dalam pertempuran yang lebih lambat, jarak dekat – pilot menyebutnya sebagai “merge”, F-22 yang lebih berat berada dalam posisi yang kurang menguntungkan.

“Setelah Anda berada pada posisi merge, Typhoon tidak perlu takut pada F-22”, kata Gruene.

Begitu juga dengan F-16 tua yang berusia 30 tahun, pesawat Growler atau Rafale era 90-an yang diterbangkan oleh Prancis. Implikasinya yang mengkhawatirkan, tentu saja, adalah bahwa pesawat tempur buatan China, Rusia dan lainnya juga tidak perlu khawatir kepada jet tempur utama Angkatan Udara AS.

Bagikan: