Agu 032018
 

Rudal jelajah jarak jauh Storm Shadow (Ingris) alias SCALP EG (Prancis) © Corrado Baldassi via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Prancis berusaha mengurangi ketergantungan pada persetujuan AS untuk ekspor alutsistanya sendiri karena Washington menahan izinnya untuk komponen buatan Amerika pada rudal jelajah Prancis, yang mengakibatkan pemblokiran penjualan jet tempur Rafale tambahan kepada Mesir.

“Memang benar bahwa kita bergantung pada mekanisme lalu lintas senjata internasional rancangan AS. Kita berada di bawah belas kasihan orang AS ketika peralatan kita dikhawatirkan”, kata Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly kepada Komite Pertahanan Nasional seperti dilansir dari laman Defense News.

Prancis tidak memiliki sarana untuk dapat benar-benar independen dari AS, katanya, menambahkan bahwa otoritas Prancis kini mencari cara untuk meningkatkan otonomi. Parly menjawab sebuah pertanyaan dari anggota parlemen Jean-Jacques Ferrara tentang penjualan yang diblokir dari sejumlah pesawat tempur Rafale pesanan Mesir.

“Apakah kita ingin memperbaiki situasi?”, kata Parly. “Jawabannya ya. Dalam kasus yang diajukan oleh Tn. Ferrara, kita tidak bisa meminta AS untuk dapat membatalkan larangannya terhadap penjualan rudal SCALP ke Mesir”.

“Apa solusinya? Bahwa pabrikan dari rudal ini, yaitu MBDA, telah membuat investasi dalam penelitian dan teknologi untuk dapat membuat komponen serupa, yang akan menghindari ITAR”, tambahnya. “Kami meyakini dapat melakukannya untuk kontrak ini karena komponen dapat dibangun dalam waktu yang bersamaan bahkan jika klien, secara alami, melihatnya terlalu lama”.

Namun MBDA sendiri menolak berkomentar untuk kabar tersebut.

Kementerian Pertahanan Prancis perlu mengadopsi pendekatan yang lebih sistematis yang akan melibatkan pembicaraan dengan industri pertahanan serta Kementerian Ekonomi dan Keuangan “untuk menganalisis” ketergantungan Prancis kepada AS.

Rudal jelajah Storm Shadow yang dikenal juga sebagai SCALP EG buatan MBDA. © David Monniaux via Wikimedia Commons

Pihak berwenang Prancis perlu mengidentifikasi komponen-komponen kunci apa saja yang berisiko terhadap penolakan izin AS, serta bagaimana Prancis dapat melindungi dirinya dari perundang-undangan Amerika Serikat, yang digunakan berturut-turut oleh pemerintah AS sebagai tanggapan terhadap faktor-faktor di luar kendali Prancis.

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah berusaha untuk meyakinkan mitranya dari AS, Presiden Donald Trump, untuk memberikan izinnya atas komponen rudal jelajah selama kunjungannya ke Washington pada bulan April, menurut sumber pertahanan Prancis.

Sumber itu juga mengklaim bila Trump merekomendasikan para ahli Prancis berbicara dengan rekan-rekan Amerika mereka untuk bisa memperoleh izin, tetapi itu semua tak menyelesaikan masalah.

AS adalah pemimpin dunia dalam ekspor senjata, terhitung lebih dari sepertiga dari total penjualan militer asing, kata Parly kepada anggota parlemen.

“Itu telah terjadi selama lebih dari 70 tahun dan sepertinya itu akan berlanjut untuk beberapa waktu”, katanya. Negara-negara Eropa akan perlu membeli sedikit dari AS untuk sedikit mengurangi supremasi itu, katanya.

Ia pun menambahkan bahwa negara-negara Eropa akan dapat menemukan peralatan Eropa sendiri karena inisiatif yang diambil untuk mempromosikan pertahanan Eropa.

Eropa dapat bernegosiasi dalam kerangka ITAR sehingga mengurangi ketergantungan pada AS dan mempromosikan otonomi dan pengadaan Eropa, katanya. “Tapi kami tahu betul bahwa hal-hal tersebut tidak akan segera berubah besok”, tambahnya.

Macron telah meminta program penjualan militer asing dari Perancis yang memudahkan jalan untuk kesepakatan antar pemerintah, katanya. Negara-negara klien lebih memilih pendekatan yang terakhir daripada berurusan dengan perusahaan.

Angkatan Bersenjata Prancis dan Kementerian Ekonomi dan Keuangan telah menyusun perjanjian kerangka kerja yang kemungkinan akan diadopsi sebagai model pada kontrak senjata antar pemerintah, yang didukung oleh tender publik serta mengamati hukum nasional dan Eropa, katanya.

AS telah melonggarkan aturannya tentang ekspor senjata dimana Deplu AS mengadopsi kebijakan Transfer Senjata Konvensional, yang memudahkan jalan bagi perusahaan agar secara langsung menjual beberapa jenis senjata dan drone tanpa ke Washington untuk mendapatkan persetujuan resmi.

AS diperkirakan akan menggalang kesepakatan penjualan militer asing senilai $ 47 miliar tahun ini. Pada tahun 2017, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan antar-pemerintah sebesar $ 42 miliar. Prancis menjual peralatan militer senilai € 6,7 miliar atau sekitar $ 7,8 miliar tahun lalu, dan hanya setengah dari penjualan tahun 2016.

Bagikan:

  6 Responses to “Terusik, Prancis Akan Buang Komponen AS dari SCALP”

  1.  

    emangnya mercon berani ya? 😛

  2.  

    Nah yg sekutunya aja pusing apalagi yg bukan? Perlu nya kemandirian teknologi, jauhi ploduk2 mamarika dan dekati mamarini

  3.  

    Jd Ingat Gripen Cuma Casingx Saja Made In Saab Isi Jeroanx Macam2 terdiri dr US & NATO

  4.  

    Perancis sudah berani “nakal” ke mamarika

  5.  

    Ini Semua Tentang Uang, Pangsa Pasar, Dominasi produk & Jatah Langgananx di embat org lain

 Leave a Reply