Dec 182014
 

image

Royal Thai Air Force mempertimbangkan untuk membeli empat jet tempur latih baru untuk menggantikan jet L39 yang sudah tua, yang telah dilaporkan mengalami gagal fungsi beberapa kali.

Kabinet telah menyetujui dana 3,7 miliar baht untuk kesepakatan itu, dan angkatan udara sedang mempelajari pesawat latih yang dibuat di Amerika Serikat, Rusia, Italia, Cina dan Korea Selatan, kata Kepala Staff Angkatan Udara ACM Treetos Sonjaeng. Jet L39 telah digunakan selama 30 tahun, dan produsen Ceko asal pesawat itu telah berhenti memproduksinya sehingga menyebabkan masalah pemeliharaan, katanya.

image

Mungkinkah Brunei Tertarik Dengan Jet Tempur FA-50 Korea Selatan ?
image

Para pemimpin Filipina dan Brunei pada hari Jumat melihat jet tempur buatan Korea Selatan yang khusus ditampilkan untuk mereka di sebuah pangkalan udara di kota pelabuhan tenggara, kata pihak Angkatan Udara Korea Selatan. Presiden Benigno Aquino III dari Filipina dan pemimpin Brunei Sultan Hassanal Bolkiah diberi penjelasan tentang kapasitas FA-50 menjelang keberangkatan mereka dari Busan pada hari Jumat.

Kunjungan itu dilakukan atas permintaan kedua pemimpin itu. Untuk kesempatan itu, pesawat tempur ringan tersebut terbang dari pangkalan udara di Wonju, yang berjarak 132 kilometer tenggara Seoul, Kamis.

FA-50 adalah pesawat serang ringan dari T-50 Golden Eagle pesawat latih supersonik yang dikembangkan bersama oleh Korea Aerospace Industries (KAI) dan perusahaan pertahanan AS Lockheed Martin. Ini adalah varian yang paling canggih dari keluarga T-50 yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Korea Selatan.

image

image

image

Sebelumnya, Korea Selatan menandatangani kontrak senilai $420 juta untuk mengekspor 12 FA-50 jet tempur ke Filipina di bawah kesepakatan pemerintah ke pemerintah sebagai bagian dari rencana mereka untuk memperluas kerja sama pertahanan.

Kontrak secara luas diharapkan dapat meningkatkan tawaran KAI ke luar negeri untuk varian jet T-50. Utusan tertinggi Brunei untuk Seoul menunjukkan minat pada pesawat ini bulan lalu ketika ia mengunjungi markas KAI di Sacheon, pada acara kementerian luar negeri untuk duta besar asing di Seoul. KAI saat ini bersaing untuk memenangkan penawaran pesawat serang ringan generasi baru ke Peru dengan menawarkan jet tempur supersonic FA-50.

Sumber : snafusolomon/asiadefencenews

Pengirim : Pecinta wanita JKGR Biro Jepara

Bagikan :

  26 Responses to “Thailand Berencana Membeli Pesawat Latih Tahun Depan”

  1.  

    ASEAN rupanya fan FA 50 hehe

  2.  

    ayo,, beli2,,, makin ramai ASEAN dgn perlombaan senjata nya,,,

  3.  

    selamat malamm…selamat beristirhattt. 😀

  4.  

    Indonesia ternyata adalah kran air untuk pasar T50i Golden Eagle

  5.  

    Dengan anggaran segitu kemungkinan besar T50 yang diambil.

  6.  

    filipina lebih memilih fa ketimbang f16 bekas..
    lalu, siapa yg lebih cerdas? :siul

    •  

      FA50 masih dibawah F16 bung , dan pembelian T50i memang dihkhususkan untuk mempercepat pilot tempur untuk lebih terbiasa dengan avionik pesawat tempur , ada suatu lompatan dan membutuhkan waktu yg singkat bagi penerbang pesawat baling2 ke spek pesawat jet tanpa harus membutuhkan waktu lama itu pilihan yg cerdas ..
      Jadi memang tidak untuk perang , kalo untuk perang masih banyak varian pespur lainnya ..
      Dan pesawat T50i juga bisa di ubah ke FA 50 , dan tidak banyak biaya yg dikeluarkan

    •  

      Kalo dikasih SU-30 bekas ato sista bekas Rusia mau bung….. Gimana leopard? Doi juga bekas…. Bung Tomo Class (walaupun belum pernah digunakan) Van Speijk semuanya bekas. Walaupun bekas sista tersebut saat dibeli juga diperbaiki hingga layak dipakai. Anggaran juga jadi masalah, dengan anggaran yang serba ngepas opsi bekas terkadang jadi yang terbaik. Saya kira TNI cerdas…. Uangnya untuk memperbaiki 24 figther bekas (hibah). Daripada uangnya untuk membeli 6 fighter baru.

      •  

        betul, pengadaan sista bekas dan hibah hanya utk menambal gap sementara mengejar kuantitas dan itupun disesuaikan dgn prediksi stabilitas kawasan regional mwpn dunia kedepannya. dan krn prediksinya kedepannya dikawasan bakal di prediksi panas dan rentan gesekan antar negara2 krn sengketa batas antar negara, mk Indonesia khususnya TNI memilih menambah jumlah sista mengejar kuantitas. kemungkinan jk stabilitas kawasan regional kedepan cenderung aman dan damai, mk TNI mulai mengejar kualitas sembari ttp menambah jumlah alutsista, jk prediksi kedepan cenderung aman dan damai pasti disaat itu TNI akan mengejar kualitas dgn memilih alutsista baru wlpn dgn jumlah yg sdkt, dibanding membeli banyak tp bekas pakai dan umur masa pakainya sdh sdkt. wlwpn saya setuju dgn komen anda bung MJ, tp ttp aja arah politik regional dan internasional kedepan menentukan brp banyak alutsista yg diperlukan pengadaannya.
        Salam..

  7.  

    FA 50 msh kemampuan nya masih di bawah F 16 bung..
    FA 50 itu ligth fighter,, klo F 16 medium.fighter klo su 30 itu heavy fighter

    dan lagi kontrak F16 itu udah lama sebelum pesawat FA 50 di produksi massal utk exspor,,
    FA 50 juga blum pernah duel dgn pesawat lain.

    jadi jawaban gw yg cerdas tetap TNI AU,, dgn duit segitu bs dapat pesawat 24 unit F 16 meski bekas tp sdh di upgrade lagi,, sesuai dgn kebutuhan yg sangat mendesak,u/ mengisi kekosongan pesawat tempur medium,

  8.  

    kecepatan pesawat menyesuaikan misi tempurnya. Kecepatan Hawk itu cuma 0.8 mach, bus untuk misi pengeboman dan maritim tetapi lemah untuk misi pertahanan udara. bandingkan dengan Yak 130 dan Alenia Aermachi 1,2 mach (pilihan trainer singapura dan israel) dan golden eagle 1,7 mach (korea, indonesia, iraq dan filipina). Semuanya satu kelas sebai light fighter untuk lead in fighter trainer (lift) tapi bisa juga untuk serang ringan terbatas. Kecepatan supersonic lebih cocok buat melatih pilot tempur udara. Jadi misi apa yang paling dibutuhkan oleh angkatan udara masing2 disesuaikan oh doktrin dan ancaman dan menentukan jet latih apa yang akan dimiliki.

  9.  

    yup..philipino sudah teken kontrak..
    indonesia kapan teken kontrak su35….???

  10.  

    Elang Emas kayaknya jadi fighter yang lagi naik daun setelah dibeli Indonesia

  11.  

    Kalo dikasih SU-30 bekas ato sista bekas Rusia mau bung….. Gimana leopard? Doi juga bekas…. Bung Tomo Class (walaupun belum pernah digunakan) Van Speijk semuanya bekas. Walaupun bekas sista tersebut saat dibeli juga diperbaiki hingga layak dipakai. Anggaran juga jadi masalah, dengan anggaran yang serba ngepas opsi bekas terkadang jadi yang terbaik. Saya kira TNI cerdas…. Uangnya untuk memperbaiki 24 figther bekas (hibah). Daripada uangnya untuk membeli 6 fighter baru.

  12.  

    Program MEF rupanya menjadi trend setter di kawasan,
    salah satunya dgn menjadi pembeli pertama T-50 korsel.

    dan keyakinan korsel pun terbukti, Asean akan mengikuti indonesia atau memang Indonesia membantu lobi2 atau promosi korsel.
    logisnya, korsel memberikan reward, dan F-5 tiger hibah korsel rasanya berbeda dengan pemberitaan media yg menyebutkan di tolak.
    cmiiw

  13.  

    TNI emang jagonya trendseter..

    •  

      Yup Bung setuju. Pemilihan yg dilakukan boleh dikatakan tepat. Terbukti banyak negara tetangga yg latah mengikutinya. Salut deh buat Bapak2 TNI. Semoga peluang ini juga berimbas buat kemajuan alutsista dalam negeri. Contoh LPD(?) buatan PT PAL yg dipake TNI diminati oleh Philipine, CN 235, KCR, dll semoga menarik minat negara tetangga juga. Bravo TNI, secara ndak langsung jadi marketingnya industri pertahanan kita. Moga sehat2 semua

  14.  

    siap-siap perang dingin..

  15.  

    Kalau menurut saya lebih baik beli Yak 130…….lebih mantap kualitasnya.

    aku pernah liat loooooh.

 Leave a Reply