Thailand Pilih Kapal Selam China Karena Beli Dua Gratis Satu

Angkatan Laut Thailand akan menerima tiga kapal selam dari China dengan kontrak senilai US$ 104.200.000 per unit.

“Thailand akhirnya memilih kapal selam China. Namun pemerintah hanya akan membayar dua, yang ketiga adalah ‘hadiah gratis’,” kata Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha.

Tiga kapal selam S26 T dikembangkan secara eksklusif oleh China dengan mengambil basic dari kapal selam Yuan class Type 039 A.

Kapal selam diesel elektrik sepanjang 78 meter dan lebar 9 meter, dilengkapi dengan teknologi Air Independent Propulsion (AIP) terbaru yang memungkinkan kapal selam untuk menyelam selama 21 hari tanpa snorkeling atau muncul ke permukaan.

Menanggapi kritik mengapa harus memilih kapal selam Cina, Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengimbau masyarakat untuk memahami mengapa negara memerlukan kapal selam Cina.

“Kapal selam Cina yang termurah dengan kualitas yang relatif dapat diterima. Cina juga menawarkan dukungan layanan setelah pembelian, sesuatu yang ekstra yang kami terima “.

“Saya meminta Wakil Perdana Menteri Prawit [Wongsuwan], dan dia siap untuk memeriksa kelayakan kapal selamnya.” tambah Prayut.

“Kami tidak kaya, dan kami tidak punya banyak uang untuk berbelanja kapal selam. Kami tidak bisa membangun sendiri sehingga harus membelinya dari negara lain, “kata Prayut.

Thailand pernah memiliki empat kapal selam pada tahun 1937, yang menjadikannya negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki kapal selam dan kedua di Asia. Kapal selam buatan Jepang tersebut menjadi rusak dari waktu ke waktu dan tidak bisa diperbaiki.

Menyusul kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, kapal selam dipulangkan pada tahun 1951. Sejak itu, Thailand tidak pernah memiliki kapal selam apapun.

Pada tahun 1995 Thailand Navy menghidupkan kembali wacana untuk pembelian beberapa kapal selam yang akan dikerahkan ke perairan Thailand, terutama di Teluk Thailand.

Beberapa negara dari Barat – seperti Jerman, Swedia, Perancis dan dari Rusia siap untuk menawarkan kapal selam baru dengan harga yang moderat, tapi Thailand tidak mampu untuk membeli karena kekurangan anggaran dan isu politik.

Defenceworld
Editor : Muhidin

Tinggalkan komentar