Okt 092017
 

Cover Buku : The Loner : President Yudhoyono ‘s Decade of Trial and Indecision (photo : stpressbooks.com.sg)

Brussels, Jakartagreater.com. Buku karangan John McBeth yang berjudul “The Loner : President Yudhoyono ‘s Decade of Trial and Indecision”, yang bercerita tentang kepemimpinan Presiden Bambang Yudhoyono (SBY), menemani perjalanan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla ke Belanda dari Singapura.

Memanfaatkan waktu transit di Bandara Udara Internasional Changi Singapura, Wapres menyempatkan membeli 5 buku di gerai salah toko buku bandara Changi Singapura, seperti disampaikan oleh Jubir Wapres Husain Abdullah.

Menurut situs buku goodread.com “The Loner President Yudhoyono’s Dekade of trial and indecision” karangan John McBeth menceritakan tentang dekade kepemimpinan Presiden Yudhoyono, yang merupakan Presiden Keenam RI, menjelaskan secara rinci banyak tantangan yang dihadapinya dan mengapa Indonesia masih berjuang dengan masa lalunya.

Disebutkan buku ini berisi tinjauan komprehensif pertama dekade kepemimpinan Presiden Yudhoyono. Gambaran tentang kemunculan Indonesia dari krisis keuangan 1997-98 dan banyak peluang terlewatkan yang menyertai boom komoditas tahun 2004-2012.

Loner bukan hanya merupakan penilaian “warts-and-all” terhadap warisan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden keenam dan pertama yang terpilih secara langsung di Indonesia, tetapi juga mencerminkan banyak isu menarik dalam dekade kekuasaannya yang tidak mendapat perhatian media yang berkelanjutan.

Buku ini merupakan catatan tahun-tahun kepemimpinan Yudhoyono yang mencakup segala hal, mulai dari bencana alam dan subsidi bahan bakar hingga terorisme, korupsi, nasionalisme sumber daya dan skandal bank yang, bagi banyak orang, menandai sebuah perubahan yang signifikan dari kepresidenan yang menjanjikan, sang pensiunan jenderal.

John McBeth penulis kelahiran Selandia Baru, sudah menghabiskan 44 tahun karir jurnalistik 52 tahun di Asia, pertama sebagai sub-editor di Bangkok Post dan kemudian sebagai reporter lepas untuk Bangkokwe, London Daily Telegraph dan United Press Internasional.

John McBeth bergabung dengan Far Eastern Economic Review pada tahun 1979 dan selama 25 tahun menjabat sebagai kepala biro majalah di Bangkok, Seoul, Manila dan Jakarta.

Ketika Review ditutup pada tahun 2004, dia dipekerjakan sebagai kolumnis kontrak untuk Straits Times, kebanyakan menulis tentang urusan Indonesia. Pada usia 72 tahun, dia tetap menjadi salah satu koresponden asing terpanjang di wilayah ini.

Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba di Hotel Brussels pada pukul 12.00 waktu Brussels, Belgia setelah menempuh 3 jam perjalanan darat dari Bandara Schiphol, Amsterdam. Sewaktu tiba di Brussels, Wapres yang didampingi Ibu Mufidah Jusuf Kalla itu langsung disambut Wakil Kepala Protokol Kementerian Luar Negeri Kerajaan Belgia, France Chainaye, Wakil Kepala Perwakilan KBRI Brussel, Dupito D Simamora beserta Ibu Mona Maria Bonavasia.

Sesudah beristirahat sejenak Wapres langsung menghadiri pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Belgia dan Luxemburg di Wisma Duta Besar RI Brussels, Tramlaan 345,1933 Sterrebeek, Minggu 8-10-2017 pukul 18.00 Waktu Setempat.

Sebelumnya Wapres tiba di Amsterdam untuk transit Minggu 8-10-2017 pukul 08.30 setelah menempuh penerbangan 13 jam dari Singapura. Di Bandara Schiphol, Amsterdam, Wapres disambut oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja, Atase Pertahanan KBRI Denhaag Kolonel Azwan Yusuf, dirilis Antara, 9/10/2017.

  16 Responses to ““The Loner” Temani Penerbangan Wapres Jusuf Kalla ke Belgia”

  1.  

    Pasti nanti keluar…comen picik tim hore..
    “Peninggalan nya candi hambalang”…

  2.  

    Horeeee……

  3.  

    Jika waktu itu beliau bersikap keras kepada arogansi Malaysia saya akan salut… tetapi sayangnya sikap yang diambil adakah kebalikan…

  4.  

    kalo sampai ada yg bending bandingin mantan dg yg sekarang..saya doain jarinya bisulan … biar g bisa komen… hhihihihihi

  5.  

    Judulnya keren, the Loner….

  6.  

    Klu bukan SBY presiden yg lalu RI masih terpuruk, MEF jg buah karyanya. Lembek kpd Malaysia mungkin karena faktor politik RI tdk bs lgsg hajar Malaysia karena anggota gerombolan FPDA yg mana militer kita lemah saat itu makanya dibuatlah draf MEF untuk penguatan TNI untuk menghadapi tantangan kedepan, toh beliau Jendral ahli strategis gak mgkn berbuat asal2an hanya saja orang2 sekelilingnya saja yg buruk merusak citranya.

    •  

      Ahh ga juga…bagi sy jaman Ibu mega dan Pak jokowi bikin indonesia bs bangkit lg…jaman bpk besar korupsi dmn2…kader si biru banyak diciduk ken kasus koruptong….apanya yg bagus….jgn membangun negara itu dilihat dr jumlah pembelian alutsista yg banyak, picik bgt pikiran anda bung.,.

      •  

        Bkn masalah picik gak nya, jaman siembok jg aset negara minute yg gak dijual krn menuruti kemauan IMF jg berimbas jg ke PT.DI. Klu masalah korupsi tiap anggota dewan dr berbagai partai jg byk keciduk KPK. Makanya saya sebut td setiap pemimpin selalu orang2 disekitarnya yg buruk yg membuat citra Presiden jg kebawa2 dr Pak Sukarno, Soeharto bahkan sampe pak Jokowi sekarang. Terlepas pro dan kontra dr setiap rezim yg berkuasa.

        •  

          Maka dr itu bung, jgn terlalu mengagung2 kan satu presiden saja…MEF buah karya nya, trus hambalang itu apa namanya? buah karya ato buah busuk???Semua presiden itu sy pikir sdh melakukan tugas nya dgn baik, jd jgn berpihak kpd 1 pemimpin…hormatilah semua pemimpin2 kita dan wakil2 nya….

        •  

          Lebih baik jual motor buat bayar utang dan gak minjam uang sm tetangga dan berhemat, dr pada utang dan bunga utang bertambah. Lagian Satelit dan Tanker pun bisa dibeli lg kok kedepannya kalo Ekonomi kt sdh Stabil. Skrg BRI pun punya Satelit sendiri dan Perusahaan2 perkapalan kt pun sdh bisa buat Tanker.

          Utang pemerintah pusat dan rasionya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak tahun 2000:

          2000: Rp 1.234,28 triliun (89%)
          2001: Rp 1.273,18 triliun (77%)
          2002: Rp 1.225,15 triliun (67%)
          2003: Rp 1.232,5 triliun (61%)
          2004: Rp 1.299,5 triliun (57%)
          2005: Rp 1.313,5 triliun (47%)
          2006: Rp 1.302,16 triliun (39%)
          2007: Rp 1.389,41 triliun (35%)
          2008: Rp 1.636,74 triliun (33%)
          2009: Rp 1.590,66 triliun (28%)
          2010: Rp 1.676,15 triliun (26%)
          2011: Rp 1.803,49 triliun (25%)
          2012: Rp 1.975,42 triliun (27,3%)
          2013: Rp 2.371,39 triliun (28,7%)
          2014: Rp 2.604,93 triliun (25,9%)
          2015: Rp 3.098,64 triliun (26,8%)
          2016: Rp 3.466,96 triliun (27,9%)

          https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3659025/pemerintah-tambah-utang-hingga-tembus-rp-4000-t-buat-apa?_ga=2.125441801.2053802308.1507595586-150256694.1494697622

          Thn.2002-2003 Jelas terlihat adanya penghematan penggunaan anggaran dan Utang ditekan, Rasio utang thdp PDB jg ditekan, KPK dibentuk dan Sukhoi pun datang…

  7.  

    Konon saat sby menjabat, kita nambah utang 2500 triliun ya?