Tidak Tepat Sebagai Pesawat Tempur Multiperan, Tejas Mungkin Cocok Sebagai Pesawat Latih

(Photo : NDTV.com)

Tejas Mk 1 adalah pesawat tempur terkecil di kelasnya. Ukuran yang kecil juga berarti harga yang murah dan manuver yang lincah, suatu kemampuan penting bagi pesawat tempur pencegat.

Namun, ada sisi minus dari ukurannya yang kecil. Ukuran kecil berdampak buruk pada daya angkut senjata dan bahan bakar. Jadi, dalam peran serangan darat, bisa dikatakan kinerjanya biasa-biasa saja karena hanya membawa senjata yang terbatas dan jangkauan operasi yang pendek.

Berbeda dengan Gripen yang juga meski pesawat tempur kecil, namun dapat melakukan serangan darat serta misi intersep udara secara memadai – sebagai pesawat multi peran. Sedangkan Tejas tidak akan berhasil sebagai pesawat multi peran dan hanya dapat melakukan pertahanan titik yang terbatas.

Jika tidak tepat sebagai pesawat multiperan, lalu apa peran yang tepat bagi Tejas MK1?

Sebagai catatan. Angkatan Udara India pernah memiliki pesawat latih ringan Foland Gnet buatan Inggris. Foland Gnet adalah pesawat tempur latih terkecil India pada masanya. Foland Gnet membawa persenjataan ringan selain dua meriam Aden 30 mm. Namun, kelincahan yang menakjubkan membuatnya dikenal sebagai “Sabre Slayer”.

Apabila dijadikan sebagai pesawat latih lanjut, Tejas mungkin dapat lebih bersaing dipasar internasional. Ukuran yang kecil dan harga yang murah membuatnya memiliki kelebihan tersendiri.

Banyak Angkatan udara di seluruh dunia akan mengganti pesawat latihnya ke pesawat yang lebih murah. Sebagai contoh, AS yang mengoperasikan pesawat tempur tercanggih F-22 dan F-35, dan tidak memiliki varian F-22 dan F-35 berkursi ganda. Pilot mereka dilatih menggunakan pesawat latih T-38 yang lebih kecil dan jauh lebih murah.

Dengan harga sekitar US$ 20 juta, Tejas Mk 1 bisa menjadi pesawat latih yang murah. Juga, karena ukurannya yang sangat kecil, biaya operasi dan perawatannya akan sangat kompetitif, yang bisa menjadikannya sangat potensial di pasar internasional.

Leave a Reply