Nov 082019
 

JakartaGreater.com – Pabrikan Chengdu Aircraft Industry Group (CAIG) sedang menguji pesawat tempur J-20 Black Eagle generasi baru yang dilengkapi dengan mesin baru. Ini mungkin berarti bahwa Beijing telah mengatasi masalah teknis yang terkait dengan pengembangan mesin sendiri – tetapi ada kemungkinan bahwa perubahan unit mesin tidak terlalu berbeda jauh dari mesin seri lama.

Selama bertahun-tahun, Tiongkok memiliki masalah serius dalam mengembangkan mesin sendiri, terutama yang digunakan pada pesawat tempur. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah membeli mesin dari Rusia atau bekerjasama dengan industri Rusia untuk mengembangkan mesin sendiri. Namun, Beijing menganggap kedua metode itu hanya sementara.

Gambar yang diungkapkan di forum internet menunjukkan jet siluman J-20 berwarna kuning selama pengujian di bandara Chengdu-Huangtianba, tempat fasilitas produksi CAIG berada. Menurut para analis, mesin baru tidak lebih dari modifikasi mesin Taihang WS-10B dengan menambahkan nozel “bergerigi” untuk meningkatkan sifat siluman dan mengurangi jejak panas.

Sebagai mesin untuk prototipe J-20 pertama, dua mesin AL-31FN2 (FM2) dengan daya dorong 123 kN, atau 117S (AL-37FU) dengan tenaga 145 kN (afterburning) yang diimpor dari Rusia.

Kemudian, TIongkok mengganti WS-10B yang diproduksi di dalam negeri, mereka juga mengerjakan versi terbaru WS-10G dengan daya dorong 130 kN dengan nozel yang terkontrol. Mesin pertama ini juga digunakan dalam mesin dari produksi awal. Namun hasil yang dicapai China masih terlalu kecil untuk jet tempur yang begitu berat, sehingga Rusia menawarkan mesin AL-31 dan bahkan AL-41 yang dimodifikasi Cina, dan label domestik sedang dikerjakan WS-15. Mesin terakhir akan mencapai daya dorong 180 kN, tetapi beberapa sumber mengatakan tenaga yang dihasiklan masih bisa lebih besar. Jika digunakan, mesin mungkin akan mengembangkan kecepatan maksimum Mach 2.2, sekarang tampaknya terbatas pada sekitar Mach 2.

Media Tiongkok melaporkan pada bulan September bahwa WS-15 diharapkan siap untuk diproduksi massal pada akhir 2019. Namun, tenggat waktu ini tidak mungkin dipenuhi. Selama pertunjukan udara yang baru saja berlangsung di Zhuhai, terlihat J-20 yang masih dilengkapi dengan mesin AL-31.

Namun, informasi tidak resmi muncul tentang masalah terkait dengan mesin WS-15, yang gagal mencapai keandalan yang diasumsikan selama berjam-jam tes pabrik. Ini hampir pasti berarti bahwa produksi mesin jet dengan daya dorong baru masih belum dapat dihasilkan sesuai rencana yang sudah ditetapkan.
Defense24

 Posted by on November 8, 2019

  8 Responses to “Tiongkok Masih Kesulitan Kembangkan Mesin Jet Siluman J-20”

  1.  

    Masalah yg paling rumit membuat mesin pespur adalah campuran material yg digunakan harus memperhatikan suhu panas yg dihasilkan mesin harus sesuai sehingga mesin mampu bertahan tebang berjam jam tanpa henti, semakin tinggi power mesin otomatis suhu panas yg dihasilkan akan semakin besar, ada hitung2an kombinasi campuran materialnya’ mungkin juga rusia tidak ungkapkan satu material kunci agar komponen mesin bisa lebih lama tidak menyerap panas yg dihasilkan mesin, banyak negara yg tau meningkatkan daya dorong mesin tp tidak banyak negara yg tau material apa yg digunakan agar komponen mesin lebih lama tidak menyerap panas yg dihasilkan dan tetep tahan meski pesawat tempur terbang berjam jam.

  2.  

    Solusinya cuman satu yaitu membuat j.20 sedikit lebih kecil yg awalnya 24 meter menjadi 20 meter – 21 meter atau mencoba mengurangi beban j20 dengan cara mengurangi ketebalan rangka dan mengurangi ketebalqn matrail body yg digunakan sehingga bisa lebih ringan dan mesin WS15 mampu membuat j20 bermanufer dan mencapai kecepatan maximum 2,2 mach meski full load, j20 terlalu besar dan karena j20 tidak untuk dijual sehingga mereka ingin membuat j20 sempurna dr rangka sampai matrial body tanpa memperdulikan ketebalan rangka dan ketebalan material body akan menambah bobot j20 sulit mencari mesin yg cocok, memaksakan struktur ketebalan rangka dan material bobot tetep diperthankan maka china akan terus menghadapi masalah terhadap kemampuan mesin, mengembangkan mesin tidak semudah membalikkan telapak tangan’ mengurangi bobot j20 adalah solusi satu2nya untuk j20 10 tahun – 15 tahun kedepan, su35 sangat perkasa meski bobotnya jauh lebih ringan dr su27′ seharusnya china belajar dr sini, gk ada gunanya ngotot mempertahankan bobot yg ada demi kwalitas tubuh j20 tp kesulitan mencari mesin yg bener2 cocok.

  3.  

    Bisa2 lebih berbahaya ifx versi pengembangan indonesia nanti, meski menggunakan mesin saturn Al-31fp tp bobot ifx nanti lebih ringan dr su30sm, panjangnya 18m -19m dan pt.di tau betul bagaimana membuat pesawat lebih ringan tp tetep kuat” pt.di pun tau bagaimana membuat pesawat lepas landas dan mendarat di landasan yg sangat pendek, sayang kelemahan pt.di sering diganjal perusahan2 besar eropa dan us tp teknologi2 pt.di mereka curi.

  4.  

    pakai mesin mig 31 saja.

    •  

      Mesin mig 31 ditenagai oleh Pavel Soloviev atau PS sebagai pesawat tempur tercepat didunia sampai saat ini,
      msh ada lg pabrikan mesin jet russia yaitu Klimov yg mntenagai pespur mig 29 & mig 35,

      Mesin jet Kolesov yg dulu mntenegai jet super sonik Tupolev Tu 144 komersil trcepat didunia & mentenagai yakovlev yak 141 vtol yg dulu teknologinya dibeli amerika

      Mesin jet super sonik saturn yg mntenagai sukhoi

      Mesin jet super sonik Kuznetsov NK yg mntenagai Tupolev Tu 160 bomber super sonik trcepat didunia & mentenagai pesawat turboprop Antonov AN 22 sebagai pesawat turboprop angkut terberat didunia,
      jd silahkn tinggal pilih mau yg mana PS, KLIMOV, KOLESOV, SATURN atau Kuznetsov NK
      -:D

  5.  

    Soloviev cukup kuat untuk pesawat berat tapi rusia mau jual mesinnya apa gk??

    •  

      Kemungkinan russia menyarankn tiongkok utk mmbeli sekalian dgn pesawatnya atau tiongkok cukup mmbeli suku cadang mesin sj yg diperlukan, seperti general elektric, boeing & air bus mmbeli suku cadang mesin dr ribynks motor yg menangani 4500 mesin pesawat trmasuk turbine
      :mrgreen: