Mar 312013
 
Markas Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Yogyakarta

Markas Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Yogyakarta

Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila gagal bertemu pimpinan Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kertosuro, Yogyakarta.  Lalu apa komentar KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo atas kasus itu ?.

“Jangankan Komnas HAM, DPR pun harus memberi tahu Panglima TNI dan panglima TNI pun memberi tahu ke KSAD. Seperti orang mau masuk rumah orang lain,” ujar KSAD dalam jumpa pers di Mabesad, Jakarta  Jumat (29/3/2013).

Izin tersebut, jelas Pramono, harus dilayangkan kepada Panglima, sesuai dengan struktur organisasi di tubuh kesatuan TNI. “Jakarta sendiri belum ada izin, logikanya harus minta izin ke Panglima TNI, Panglima TNI beri tahu ke KSAD dan lalu jajaran di bawahnya,” terang KSAD.

Komnas HAM mulanya berencana datang ke Markas Kopassus, Kandang Menjangan, untuk merunut kasus pengeroyokan Sertu Santoso dari awal. Namun agenda itu batal, karena tidak ada izin.

Komnas HAM berencana akan langsung datang ke Mabes TNI karena tidak dapat berkunjung ke markas Kopassus dan akan meminta Mabes mengundang pihak Kopassus dalam pertemuan itu.

KSAD Jend Pramono E Wibowo

KSAD Jend Pramono E Wibowo

Tim Investigasi TNI AD

Terlepas dari rencana Komnas HAM itu, TNI AD akhirnya membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman.

“Mengapa dibentuk tim investigasi, karena hasil sementara ada indikasi keterlibatan oknum-oknum TNI yang bertugas di Jawa Tengah,” ujar Jenderal Pramono Edhie Wibowo. KSAD menolak menyebutkan indikasi yang dimaksud, tetapi menyatakan temuan tim investigasi Polri tersebut terus didalami.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, kata Pramono, telah memerintahkan pembentukan tim  pada 27 Maret 2013 dan tanggal 28 Maret 2013, KSAD langsung menandatangani persetujuan dibentuknya tim investigasi.

Tim terdiri dari sembilan orang, yang  efektif bekerja mulai Jumat (29/3/2013). “Tim ini terdiri dari orang-orang yang memungkinkan melancarkan kegiatan, POM daerah di wilayah Kodam, ada dari Kopassus, Kodam, Korem, Pusat, itu integrasi yang kami lakukan untuk mempercepat,” terang KSAD.

Tim investigasi  TNI AD  akan bertukar informasi dengan tim investigasi dari kepolisian.

” Jadi tim investigasi dari kepolisian dengan data yang ditemukan, maka tim Angkatan Darat yang bergerak untuk maju ke depan untuk menyempurnakan hasilnya bersama-sama,” papar KSAD.

Lapas Cebongan Sleman

Lapas Cebongan Sleman

Peluru 7,62 mm

Tim Laboratorium Mabes Polri menemukan selongsong peluru kaliber 7,62 milimeter di Lapas Sleman usai terjadi penyerangan kelompok bersenjata. KSAD tidak menampik bila peluru tersebut masih digunakan oleh TNI AD.

“Masalah amunisi 7,62 jujur masih tetap kita gunakan, senjata juga kita gunakan. Jadi 7,62 lebih besar,” ujar KSAD.

Menurut KSAD, kaliber 7,62 mm digunakan untuk keperluan-keperluan tertentu. Dia mencontohkan senjata regu penembak jitu. “Karena lebih akurat,” jelasnya.

Amunisi  7,62 mm juga digunakan beberapa satuan Angkatan Darat (AD), khususnya untuk Bantuan Tempur (Banpur) dan satuan kewilayahan. “Ada senjata G3, AK 47 itu pakai 7,62. SP itu juga 7,62,” jelasnya.

“Saya janji, siapa yang salah saya hukum. Siapa yang benar saya bela. Itu prinsipnya,” ujar KSAD menutup pembicaraan di Markas TNI AD, Jl Veteran, Jakarta Pusat.

Serka Santoso (ketika berpangkat Sertu)

Serka Santoso (ketika berpangkat Sertu)

Pemindahan Tahanan

Selain kasus dugaan keterlibatan Anggota TNI dalam penyerangan Lapas Cebongan, hal lain yang ramai dibicarakan di masyarakat adalah tentang pemindahan keempat tahanan dari Mapolda DIY ke LP di Sleman yang minim pengamanan.

Apa reaksi Kompolnas atas pemindahan itu ?

“Kami melihat tidak ada kejanggalan dari proses pemindahan karena ruangan tahanan memang direnovasi jadi wajar dipindah,” kata anggota Kompolnas Dr Hamidah Abdurrachman usai berkunjung ke Lapas Cebongan, Kamis (28/3/2013). Namun demikian, Kompolnas akan melihat langsung sel di Mapolda DIY yang direnovasi.

“Kita yakin polisi masih sanggup menangani kasus ini. Tinggal menunggu hasil Labfor dan visum setelah itu Kapolda harus berani menyampaikan kepada masyarakat terkait hasil temuannya,” ujar anggota Kompolnas  Hamidah.

Pemindahan empat tahanan yang tewas ditembak sekelompok orang tak dikenal dari Mapolda DIY ke Lapas Cebongan dinilai sesuai prosedur. Sebab, selain memindahkan mereka, Polda juga memindahkan tujuh tahanan lain. (JKGR).

  7 Responses to “TNI AD Buru Penyerang Lapas Cebongan”

  1. suport buat tni dah, ,, bila perlu kluarn dengultor 81 kopasus buat ngeburu oknum penembakan dilapas n buktiin kl kopasus profesional ap lg ad statment beberapa pihak yg mnghendaki densus 88 buat nguber plku pnembakan dilapas..
    bravo tni & kopasus….. ( kl ketangkep penembakny ap lg dr korps tetangga masukin ke markas kopasus dl biar bs silaturahmi gtu…hehe)

  2. k*mnas ham itu antek amerika, waspadalah. . .

  3. BIN harusnya bisa diterjunkan..

  4. Kasihan Tentara….tahun depan kalo kasus ini g beres….pasti ujung2nya Anggaran mereka banyak dikasih bintang……….beginilah kalo masih berpikir masih paradigma lama….senapan adalah segala2nya….maju2lah berpikir…. Tentara juga butuh PR…strategi media….dll…bukan sekedar dar–der…dor……….benahi disiplin…

  5. Belum ada kpastiannya…TNI juga blum ttntu trlibat,jd kita tunggu aja hasilnya…jangan asal komentar,,

  6. Salaam…salut and be practised it

 Leave a Reply