TNI AL Butuh 48 Kapal Perang

53
263
KCR 60 M (photo bumn.go.id)
KCR 60 M (photo bumn.go.id)

Kementerian Pertahanan mencatat besaran kebutuhan ideal alat utama sistem senjata (Alutsista) untuk memperkuat keamanan perairan Indonesia sesuai rencana strategis mencapai 48 unit kapal, termasuk armada untuk perang.

“Dari puluhan kapal itu sebanyak 16 unit berupa kapal cepat rudal (KCR) 60 meter, 16 unit KCR 40 meter, dan 16 unit kapal patroli cepat,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro ditemui usai menerima kapal pesanan TNI AL yang kedua, KCR 60 M dengan nama KRI Tombak-629, di Dermaga PT PAL Indonesia, di Surabaya, Rabu.

Mengenai pembangunan 16 unit KCR tersebut, ungkap dia, membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apalagi, sampai sekarang kapasitas produksi PT PAL Indonesia hanya tiga unit kapal per tahun.

“Total KCR yang kami pesan tergolong multirole karena dipersenjatai dengan rudal, meriam, dan software yang bisa digunakan untuk perang elektronik,” ujarnya.

Sementara, jelas dia, desain kapal yang dilengkapi sistem multirole itu diyakini mampu bertempur dengan mengantisipasi serangan udara, laut, maupun darat.

“Bahkan terhadap perang warfare sekalipun,” katanya.

Pada kesempatan serupa, KSAL Laksamana Marsetyo, menambahkan, pembangunan KCR 60 meter akan diserahkan ke PT PAL Indonesia sebagai Lead Integrator. Sementara, untuk KCR 40 meter nantinya akan dibangun di galangan kapal di Batam.

“Dengan demikian, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui peningkatan produksi galangan kapal nasional,” katanya.

Di sisi lain, Direktur Utama PT PAL Indonesia, M Firmansyah Arifin, mengemukakan, terkait pembangunan satu unit KCR 60 m tersebut membutuhkan dana Rp 125 miliar. Besaran tersebut hanya pembangunan fisik atau belum termasuk biaya persenjataannya.

“Kini KCR kedua pesanan TNI AL tersebut diberi nama KRI Tombak-629. Kapal itu dipesan di tempat kami dan hari ini diterima langsung Menhan, Purnomo Yusgiantoro,” katanya.

Sebelumnya, lanjut dia, Kemenhan telah menerima kapal pertama pada 28 Mei lalu yang diberi nama KRI Sampari. Rencananya, kapal terakhir pesanan Kemenhan diserahkan pada September tahun 2014 dan sekarang masih dalam proses.(Antara).

53 KOMENTAR

  1. Ini sudah mandiri lho….. buatan bangsa sendiri…. jgn ada lagi yg mencerca pemerintahan saat ini yg gak pro produk dalam negeri. Gak perlu pencitraan apalagi promosi, kalau ada wartawan yg gak tahu kemandirian kita suruh bangun tuh…. ngiler aja kerjaannya… πŸ˜€

    • bung anak medan@ saya jg ga tahu persis jg detail produksinya,tp sdh ada list nya tu diatas.kapasitas produksi PT PAL hny tiga unit kapal pertahun.Produksi pertama KRI- 628 Sampari sdh diterima TNI AL 28 mei lalu.produksi kedua KRI -629 Tombak Sdh diterima TNI AL 27 agustus kemarin.produksi ketiga KRI -630 (blm diberi nama/msh dlm proses akhir) akan diterima TNI AL september dpn,salam.

  2. Saya setuju bung nyoto,mending premium di hilangin aja,ganti pertamax semua….dan hasil pencabutan subsidi gunakan untuk penambahan alutsista,yg bisa di lihat…jangan kaya kemarin,di gunakan untuk BLT,kebanyakan kagak menemui sasaran….

  3. Ngeneess…minyak indonesia…selagi pro asing…dan pemerintah tidak mau ngambil keptsan yang pro rakyat..selama nya indonesia kesulitan minyak..bahkan mencekik rakyat kecil…setahu saya….harga minyak naik..siaap2…harga kebutuhan naek…kita merdeka..tapi tidak merdeka secara ekonomi…semoga ada pemimpin yang berani…tegas dan jujur..yg mau ngambil tindakan yg radikal untuk permasalahan bangsa..

    • Sebenarnya kebijakannya sudah di siapkan pak SBY kemarin bung edo saat menko perekonomiannya pak Hata, pemerintah mempersilakan swasta nasional untuk membuat kilang2 minyak kita yg baru demi menggenjot produksi minyak. Tetapi swasta kita ibarat sudah diberi hati minta jantung, sudah diberi kemudahan internal rate of return dan tax holiday masih juga meminta special tax 5% dan ini melanggar UU. Satu2 jalan harus pertamina yg harus mengeksekusi dengan dukungan maksimal pemerintah, mudah2 pemerintah kedepan tdk terkontaminasi kepentingan asing.

      • Mustahil pembangunan kilang minyak indonesia bisa terwujud, selama orang WNI yg mempunyai power kuat baik itu terhadap pemerintah maupun pertamina masih menjadi broker pertamina di singapore, sudah jelas singapore itu cuma tempat perdagangan iternasional bukan negara produsen minyak dunia

        Misalkan kita beli sesuatu lewat perantara atau calo pasti harganya akan lebih mahal, bandingkan jika kita beli langsung ke produsen harganya pasti lebih murah dibandingkan harga calo, bahkan sang produsen tersebut kadang memberikaan bonus kepada pelangganya

        Brunaidarussalam adalah negara pengahsil minyak terbesar di asean, kenapa pertamina membeli dan menjual minyak lewat calo?…….

        Saya mohon teman2 Jangan menyebut nama orang sembarangan, nnti dipaksa nginep di nusakambangan. πŸ˜€

  4. indonesia Tanah Air ku,,
    aku tidak pernah menyesal telah dilahirkan di bumi tercinta ini,,
    aku tidak pernah menyesal, ari ari ku tertanam di bumi ini,,
    aku bangga,,,di lahirkan di bumi indonesia,,
    aku bangga di besarjan disini,,

    meski banyak maling teriak maling,,
    meski banyak tikus yang menggrogoti,, tp tetap ini negeri ku,, ini bangsa ku INDONESIA..

  5. buat kapal tu berotot dikit napa senjatanya………………..?, ciws gak ada, torpedo anti kapal selampun gak ada, sonar elektronikpun gak ada apalagi sam…………….., tunggu pengadaan gitu………….?, alamat 10 thn lagi baru terealisasi

  6. subsidi dicabut ga setuju kalau menyebabkan harga2 pada naik,ongkos kendaraan umum naik. ane ga punya kendaraan, biasa naek umum, itu berasa banget tiap bbm naik ongkos bisa meningkat 2x lipat. Sebaiknya subsidi untuk kendaraan umum dan pengangkut kebutuhan pokok tetap disubsidi, ane cuma orang kecil yg merasakan betul kalau bbm naik apa2 jadi mahal