TNI AL Butuhkan 12 Kapal Pemetaan Bawah Laut

29
19
KRI Rigel-933
KRI Rigel-933

Jakarta – TNI Angkatan Laut membutuhkan 12 kapal perang jenis Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) untuk melakukan pemetaan bawah laut.

Hal ini diungkapkan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi saat melantik Laksamana Pertama TNI Harjo Susmoro sebagai Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Kapushidrosal) di Mako Pushidrosal, Jakarta, (23/11/2016).

“Kebutuhan kita akan kapal jenis ini paling tidak 12 kapal,” ujar Laksamana Ade.

Sebanyak 12 kapal yang dibutuhkan, terdiri atas kapal operasi, kapa survei dan latihan, serta kapal perbaikan.

Menurut Laksamana Ade Supandi, Pushidrosal memiliki kedudukan strategis sebagai lembaga hidrografi nasional dan hidrografi militer TNI AL.

Sesuai tugas pokoknya, Pushidros harus menyiapkan data dan informasi hidrografi serta Oseanografi untuk kepentingan TNI maupun publik berupa peta laut.

“Kalau ada 12 kapal, nantinya empat di timur, empat di tengah dan empat kapal lagi di barat. Kondisi sekarang kan dengan KRI Rigel dan Spica yang baru, ditambah yang lama namun usianya sudah di atas 30 tahun. Kita tetap gunakan sambil melakukan peremajaan,” ujarnya.

Sebagai lembaga hidrografi nasional, Pushidrosal merupakan wakil pemerintah pada International Hidrografi Organization (IHO).

Tugasnya yang kompleks tidak hanya untuk mendukung keselamatan pelayaran, tapi juga untuk perbaikan infrastruktur pelabuhan, ekspolitasi dan eksplorasi sumber daya alam, pembangunan wilayah.

“Memang hampir 70% survei kita merupakan hasil dari tahun 1890-an, itu kita update, khususnya yang terkait perekonomian seperti pembangunan infrastruktur pelabuhan, terkait dengan rute-rute laut yang aman untuk navigasi, dan demografi karena gempa, tsunami dan sebagainya,” ujar KSAL.

Sumber : Sindonews.com

29 KOMENTAR

    • @senopati

      Benar bang,,,,saking panjangnya alur laut Indonesia dan saking cepatnya dinamika dasar laut akibat laju erosi, kapal karam, gempa tektonik dsb, maka kecepatan kerja 1 kapal hidrography hanya bisa melakukan pemetaan dasar laut RI rata-rata 1% pertahun

      • Berapa puluh tahun jadinya agar mendekati 100% ?? alamak. Itu baru dasar laut aja ya… ?

        informasi peliputan dasar laut akan menyediakan data secara akurat tentang daerah-daerah yang dapat dilintasi
        ( submergeable area) ataupun tidak dapat dilintasi (Unsubmergeable area) oleh kapal selam.

        Untuk jalur lintas patroli dan strategi kasel AL peta jalur sangat dibutuhkan walau kasel pasti punya sensor tersendiri.

        kebutuhan pemetaan sekarang ini lebih pada pemberdayaan maritim (ekonomi) dan instalasi pipa serta kabel bawah laut. moncer deh NKRI. joss

        • @senopati

          Ya 1 abad, mas seno,,,,itupun dg catatan baru terjamah seluruhnya.

          Sebenarnya pekerjaan survey hidrography sendiri tidak pernah ada selesainya, karena dinamika alam, baik tingginya laju pengendapan, perubahan geomorphologi, efek aktivitas lempeng bumi, adanya obstacle akibat kapal karam dsb

  1. Konsep peperangan bawah air mencakup manuver kekuatan sendiri untuk melawan kapal selam serta kemampuan untuk mengoperasikan kapal selam sendiri secara padu dengan satuan teman di permukaan dan udara.  Demi menjamin suatu operasi peperangan bawah air berjalan dengan sukses, data hidro-oseanografi mutlak diperlukan. 

    Salah satu bentuk aplikasi data hidros yang digunakan oleh kapal selam adalah peta yang berbeda dengan peta dengan peta navigasi bagi kapal permukaan. Tentunya peta khusus kapal selam ini harus dibuat dengan ketelitian tinggi untuk mengoptimalkan kemampuan manuver dan bernavigasi di bawah permukaan. Rute-rute khusus atau biasa disebut Q-route di luar SLOCs atau Sea Lines of Communication dapat dipersiapkan dengan memanfaatkan data hidros. Survei rute (route survey) ini tidak hanya dilakukan untuk memastikan suatu perairan bebas ranjau namun juga sekaligus mengumpulkan data lainnya seperti topografi dan karakteristik dasar laut serta anomali kemagnetan. Perairan yang dipilih untuk menjadi rute khusus tersebut pada akhirnya merupakan perairan yang akan digunakan dalam situasi perang, dan apabila dipasangi ranjau oleh pihak lawan akan mudah dideteksi dalam suatu operasi pembersihan oleh unsur kapal ranjau kawan, karena karakteristik dasar lautnya telah dipilih.

    • seperti strategi memilih medan tempur yg menguntungkan kita ya bro…
      kalo medan jelek lari dulu kalo bagus hajar…

      sepertinya penanaman sonar secara acak di jalur alki perlu, “cctv” bawah laut,, tapi biayanya itu.. bisakah seperti itu warjagers?

      teringat sebuah film, amerika menyebar sensor penelitian perubahan iklim diseluruh dunia dan bisa dimanfaatkan untuk mengetahui pergerakan kapal siluman. keren