Mar 312016
 

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mengusir sembilan nelayan asing asal Filipina yang mencuri ikan di wilayah Pulau Panjang, Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pengusiran sembilan manusia perahu asal Setangkai, Filipina, itu dilakukan bersama jajaran Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kelautan dan Perikanan (KP) Wilayah II, Kecamatan Pulau Derawan, sekitar pukul 08.00 Wita, Rabu (30/03).

“Mereka dari Filipina masuk ke perairan Indonesia untuk mencari ikan, menjerat udang, dan beberapa sumberdaya laut lainnya,”kata Kepala UPTD KP II, Didik Riyanto.

Didik menjelaskan bahwa pengusiran itu bermula dari laporan nelayan sekitar. Pihaknya bersama aparat TNI AL kemudian langsung melakukan pemeriksaan ke lokasi dan tim menemukan kesembilan orang nelayan asing itu sedang memancing.

Para nelayan asing tersebut langsung digiring ke daratan untuk diperiksa dan diinterogasi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, ada yang menampung mereka di daerah Tarakan. Mereka mengakui bahwa mencari ikan hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Namun apa pun alasannya, mereka tidak boleh masuk ke perairan Indonesia secara ilegal.

Usai diperiksa, sembilan orang tersebut diminta kembali ke negaranya dan tidak boleh berada di perairan Indonesia lagi.

Jawapos.com & berau.prokal.co

  25 Responses to “TNI AL Usir Nelayan Filipina di Perairan Derawan”

  1. pertamax booster

  2. Kenapa g ditahan,harusnya ditahan dulu sebagai jaminan jika filipina gagal selamatkan 10 sandra wni,

    • Mereka itu manusia perahu yang hidup di atas perahu tradisional dan menggantungkan hidupnya di laut. Mereka ini sama dengan suku bajoe yang banyak tersebar di perairan sulwesi dan nusa tenggara. Jadi, perlakuan pun disesuaikan bung. Mereka bukan seperti nelayan Cina dan negara tetangga lainnya yang memang tujuan nya mencuri kekayaan laut Indonesia.
      Persoalan ini pun tidak bisa dikaitkan dan menjadi syarat untuk kasus penculikan 10 WNI.

      • Betul…suku bajo tidak mengenal batas wilayah. Mereka hidup di atas perahu. Tidak jarang juga mereka yang berasal dari Filipina menikah dengan warga Indonesia sesama suku bajo.

  3. Jangan2 mereka mata2 abu nawas eh abu sayyaf

  4. BEBEK NUNGGING

  5. Saya suka langkah TNI ini ,kasih peringatan kalau sampai kembali lagi masuk perairan Indonesia akan di hukum sesuai undang undang.

  6. masih baik kasih lepas..takde tahan..

  7. lembek,harusnya mereka ditahan buat ganti wni yg disandera!!!

    • Kasihan bung. Mereka hanya nelayan tradisional yg sekedar mencari sesuap nasi. bukan nelayan dng kapal besar. Kita walaupun tegas jg masih punya hati nurani bung.
      Beda dng beruk malon yg biadab dan tidak ada hati nuraninya.

    • Klo lembek kelihatannya sih tidak, coba bayangkan kalau mereka ditahan maka akan melukai perasaan Filipina yg skr lg berusaha membebasin 10 abk kita.
      Klo masalah ganti sandera mendingan kita gantiin aja sama anggota DPR yg kena kasus korupsi dan jangan ditebus. mau di sembelih kek, mau di bakar kek, mau apa2in kek terserah mereka kita biarin aja. Hhe”

  8. @suga,di tahan?kalo nelayan itu di tahan buat ganti WNI yg di sandera itu bakal merusak nama TNI,apa bedanya TNI dengan abu sayyaf kalo begitu caranya???
    Kepala lo yg lembek tuh

  9. Solusi yang bagus untuk menjaga hubungan Indo – Pinoy yang sekarang lagi ada masalah.

  10. kalo si cina yg nyolong ikan pasti di diamkan

    coast guard cina bahkan berani nembak kkapal perang TNI – AL

    eh di tutup2in lagi berita nya

  11. Mereka adalah Manusia Perahu
    (Sang Penjaga Lautan)
    Inilah dilema bagi nelayan Tradisional. Mereka yang hidup dan kehidupannya bergantung dari kebaikan Tuhan di lautan yang luas. Nelayan tradisional dimanapun mereka berasal, yang belum teredukasi mengenai batas teritorial negara, zona ekonomi eksklusif, ataupun hukum laut internasional. Hal ini mmenjadi tantangan serius bagi negara asal nelayan tradisional ini. Di Indonesia sendiri, jumlah nelayan tradisional masih sangat banyak dan merupakan mayoritas. Salah satu kelompok nelayan tradisional yang secara turun temurun hidup dan bergantung dari laut adalah suku bajoe yang tersebar dari perairan sulawesi, nusa tenggara dan sampai ke kalimantan. Suku bajoe merupakan gambaran betapa laut menjadi berkah dan tujuan hidup. Mereka hidup di atas perahu-perahu tradisional dan berpindah-pindah dari perairan yang satu ke perairan yang lain. Mereka seolah mengikuti kemana ikan bermigrasi dan kemana arus gelombang hidup menepikan perahu mereka. Bagi mereka seluruh lautan di bumi ini adalah rahmat dari Tuhan yang mesti disyukuri. Mereka jejaki lautan tanpa perangkat teknologi navigasi laut yang canggih, tanpa ilmu berlayar dan peta teritorial modern. Hanya bintang di kala malam menjadi kompas penunjuk arah, pasang surut air laut dan arah angin menjadi peta berlayar, serta badai menjadi tanda untuk menepi di balik pulau dan batu karang. Mereka dilahirkan diatas lautan, dibesarkan ombak, dan pelihara oleh Tuhan semesta alam. Mereka tidak mencuri dari siapapun, karena laut adalah warisan dari Tuhan. Tidak pantas bagi mereka yang lahir dan besar berpijak di atas tanah mengklaim dan menuduh mereka sebagai pencuri isi lautan. Cukuplah manusia-manusia serakah yang membawa kapal-kapal dengan ukuran besar lengkap dengan seperangkat teknologi canggih pencari ikan, serta jaring-jaring raksasa itu yang ditangkap sebagai pencuri. Cukuplah mereka yang menghancurkan lautan dengan bom-bom ikan, meracuni lautan, dan menangkap berton-ton ikan tanpa nurani itulah yang diusir dari lautan. Bukan karena tidak cinta pada negeri ini, namun kita harus bersikap adil dan berbaik hati pada manusia yang dipilih oleh Tuhan untuk hidup menjaga lautan. Mereka lah pewaris lautan luas tanpa batas.

    Salam Lestari.. Satu Indonesia

  12. sifat yang bagus dan gentle dari TNI AL, tidak gelap mata & sewenang wenang ( arogan ) terhadap nelayan tradisional, TNI AL tau nelayan tradisional itu tidak akan mencuri ber ton ton ikan di perairan NKRI, hanya untuk sekedar makan
    SOP tetap dijalankan. Good job

  13. bagus tni..masih ada hati nurani..!!apa ni maslh kru kapal ada tangkap..so mesti kasih lepas tak ganggu hub pelepasan kru kapal…

  14. Nelayan tradisional Filipin cuma mencari sesuap nasi so pantas untuk dilepaskan bersama kapalnya….. Nelayan malingsia mencuru ikan untuk menyalurkan hobi malingnya….. makanya pantas kalo kapal dan abk-nya ditenggelamkan… biar jadi makanan hiu….

  15. nelayan filliphe kok bisa dengan mudah kita usir ya, beda banget sama nelayan M4l4y dan china.

 Leave a Reply