TNI AU bangun radar pemantau perbatasan di Nunukan

72
119
Dokumentasi pesawat tempur Sukhoi Su-30MKI Flanker Skuadron Udara 11 TNI AU menggiring pendaratan pesawat asing Boeing B-737 pada Latihan Sriti Gesit di Pangkalan Udara Utama TNI AU Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Rabu (2/4). Latihan itu untuk meningkatkan kemampuan TNI AU dalam memantau pergerakan pesawat asing yang melanggar wilayah udara Indonesia tanpa izin. (ANTARA FOTO/Sahrul Tikupadang)
Dokumentasi pesawat tempur Sukhoi Su-30MKI Flanker Skuadron Udara 11 TNI AU menggiring pendaratan pesawat asing Boeing B-737 pada Latihan Sriti Gesit di Pangkalan Udara Utama TNI AU Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Rabu (2/4). Latihan itu untuk meningkatkan kemampuan TNI AU dalam memantau pergerakan pesawat asing yang melanggar wilayah udara Indonesia tanpa izin. (ANTARA FOTO/Sahrul Tikupadang)

Nunukan, Kalimantan Utara (ANTARA News) – Sebentar lagi “mata dan telinga” militer Indonesia akan bertambah tajam sejalan pembangunan instalasi radar bergerak di Pulau Nunukan, Kalimantan Utara.

Arah hadap instalasi radar itu sengaja ditujukan ke perbatasan Indonesia dengan negara bagian Sabah, Malaysia Timur itu, untuk mencegah pelanggaran kedaulatan ruang udara nasional.

Asisten Operasi Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Sudipo Handoyo, kepada wartawan, setiba di Bandara Nunukan, Senin, menyatakan, “Radar itu diupayakan beroperasi pada November 2014.”

Untuk menempatkan instalasi strategis itu, diperlukan lahan 10 Hektare walau radarnya adalah radar bergerak (mobile radar), yang juga berarti dia bisa bersifat mobil yang dapat dipasang dimana saja.

Selain instalasi radar –umumnya setingkat detasemen (Satuan Radar TNI AU) yang dipimpin seorang mayor senior atau letnan kolonel– instalasi itu juga dilengkapi dua satuan setingkat kompi Korps Pasukan Khas TNI AU dan Artileri Pertahanan Udara.

Selama ini TNI memiliki Komando Pertahanan Udara Nasional yang dipimpin seorang marsekal muda TNI dan penggunanya adalah presiden Indonesia melalui panglima TNI.

Dalam organisasinya, komando yang berkewajiban dan berkewenangan mengintersepsi dan memaksa plus melumpuhkan pelanggar kedaulatan wilayah udara nasional itu dibagi ke dalam empat Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional yang dipimpin seorang marsekal pertama TNI. (www.antaranews.com)

 

===============================================================================================

Nunukan rawan pelanggaran batas udara

 

Nunukan rawan pelanggaran batas udara

Dokumentasi sejumlah prajurit TNI AU melakukan pemeriksaan terhadap pesawat tempur F-16 di Lanud Soewondo Medan, Sumut, Jumat (11/4). TNI AU terus menyiagakan kesiapan armada udara untuk menegakkan hukum dan menjaga keamanan kedaulatan negara dalam mengantisipasi bagi pihak asing menyusup ke wilayah Indonesia tanpa izin. (ANTARA FOTO/Septianda Perdana)

 

Nunukan, Kalimantan Utara – Markas Besar TNI AU mengakui wilayah batas udara Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, rawan pelanggaran batas udara.

Asisten Operasi Kepala Staf TNI AU, Marsekal Muda TNI Sudipo Handoyo , kepada wartawan di Nunukan, Senin, mengungkapkan, “Selama ini TNI AU seringkali mendapat laporan pelanggaran batas wilayah udara oleh pesawat-pesawat Malaysia.”

Untuk mencegah dan menindak pelanggaran wilayah udara nasional di Nunukan itu, TNI AU langsung menindaklanjuti dengan membangun instalasi radar bergerak (mobile radar) di sana.
Bukan cuma radar dan piranti pendukung, karena satu satuan setingkat kompi dari Korps Pasukan Khas TNI AU dan Artileri Pertahanan Udara juga ditempatkan. Satuan-satuan itu masih diperkuat satuan peluru kendali permukaan-udara.

Ia menegaskan, apabila suatu saat radar TNI AU itu mendeteksi pelanggaran batas udara oleh pesawat terbang Malaysia, maka pasti ditindak tegas.

Hasil pantauan instalasi radar yang akan dibangun pada lahan seluas 10 Hektare di Kelurahan Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan, itu dapat dicetak untuk membuktikan pelanggaran.

“Bisa dicetak, apabila menyangkal melanggar,” kata dia. (www.antaranews.com)

72 KOMENTAR

    • menurut saya, kemungkinan ini terpisah, belum seperti yg dharapkan bung towerman (s-300 ato nasams) karena pengadaannya cepet banget, dan saya yakin itu radar jenis Master, karena dulu sempet ada kbr kerja sama dengan penyuplai radar tersebut, analisa orang awam bung, maaf kalo belepotan, hehe,,

  1. Malaysia pede ya, meskipun kita selalu bilang mereka ngga punya nyali tempur…tapi kenyataannya pulau dicaplok, bikin mercu suar di laut kita , patok perbatasan digeser, dan menghia claim pulau RI! Dan tentu black flight di Kalimantan Utara…
    Sesekali boleh lah kita merontokan arsenal malon atau sudah pernah?

    • Saya pernah kenalan dgn pengusaha Indonesia tapi memiliki bisnis di Singapura dan Malaysia : dia bilang sama saya sewaktu saya tanya tabiat bisnis dinegara jiran…begini komennya..mereka itu hanya takut dgn hukum atau UU atau regulasi yg telah mereka sepakati..atau berlaku…jadi kalo ada peluanga/blank spot atau celah hukum akan mereka manfaatkan semaksimal mungkin…utk meraih keuntungan..selama dianggap tdk melanggar hukum yg berlaku…mereka jeli melihat segala kesempatan…pakta integritas atau kesatriaan jauh dari budaya mereka…itu beda dgn Indonesia yg kadang abai dgn hukum atau peraturan krn mengedepankan sifat2 gentleman agreement..terkadang peluang ini kita sendiri yg bukakan kepada mereka..krn mentalitet Jakarta Sentris…walau sekarang sdh cenderung berubah…kasus Sipadan dan Ligitan krn kita abai dgn pulau itu sendiri..dgn membiarkan resor Malaysia dan mata uang Malaysia beredar dipulau tersebut…makanya di Sebatik seharusnya Indonesia harus tegas dgn memaksakan semua uang yg dipakai adalah Rupiah Indonesia dan Melarang ringgit…sbg alat transaksi diwilayah Indonesia terutama diperbatasan apapun alasannya…krn beredarnya uang negara jiran sbg salah satu pengakuan kedaulatan wilayah oleh negara pemilik mata uang… imho..

  2. Perasaan udah aku share ya kemaren di komentar malahan … radar di nunukan 1 kompi paskhas dan arhanud diperkuat rudal kendali permukaan ke udara dan bisa direkam pelanggaranya .. dan rudal permukaan ke udaranya dan jenis nya .. hehehe .. muncul lagi malahan .. apa harus di ping lagi senior nya bung …

      • Assalamualaikum wr.wb
        imho
        meteorit itu benda berasal dari luar angkasa, dan tidak semua negara bisa mendapatkannya. struktur batuan meteorit juga belum tentu sama seperti batuan yang ada di bumi.
        sehingga meteorit merupakan benda penelitian bukan ancaman bila mana ukurannya tidak berpotensi menghancurkan.
        tidak mudah lo mendapat batu meteorit.
        saya rasa negara manapun ingin meneliti batuan meteorit secara langsung.

  3. gitu donk terus intercepnya pake skuad darimana apa yg dikalimarau gak jadi dikasih apache gantinya skuad intercep mungkin ya…? Mantep nich kalo ada intercepnya kalo ga ada sih percuma kalo cuman rekaman untuk bukti diketawain aja ama malon…

  4. sembarang bicara…kau Joe,,,suku Bugis itu sdh ada atusan tinggal di Sabah…jadi sdh jadi hak mereka utk datang kesana lagipula…tanpa mereka sabah itu tdk ada apa2nya…dari jaman Sabah belum merdeka…nenek buyut moyang gw saja sdh tinggal disana sdh lama sekali..jangan2 ente orang semenanjung,…yg dianggap orang asing sendiri bagi orang Sabah..he7x….