TNI AU Targetkan Pesawat SAAB GlobalEye AEW&C

49
290

Jakarta – “Samudera, laut, selat dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kami telah terlalu lama mengabaikannya. Kami harus bekerja sekeras mungkin untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Sudah saatnya bagi Indonesia untuk mengambil kembali semuanya,” ujar Joko Widodo dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden RI, Senin 20 Oktober, 2014 di Gedung DPR, Jakarta.

Sejumlah proposal telah dibahas dan beberapa telah dilaksanakan. Badan Keamanan Maritim Indonesia, misalnya, telah mengerahkan kapal untuk memburu kapal pencuri ikan. Juga Angkatan Laut telah membeli pesawat patroli maritim dan memerintahkan kapal perang untuk tujuan yang sama. Tapi hasilnya masih jauh dari selesai. Masalah terlalu sistemik, Pemerintah dinilai perlu solusi yang lebih komprehensif.

Disaat solusi yang efektif dan efisien masih dipertimbangkan, Angkatan Udara baru-baru ini mencoba melangkah lebih konkrit untuk kendaraan yang menjadi ruang lingkup domain mereka. Proposal ini diperlukan mengingat masalah maritim dan kelautan tidak dapat diselesaikan dari peralatan laut saja. Tapi itu hanya dapat diatasi dengan menggabungkan semua elemen dari kedua pihak demi hasil yang maksimal.

GlobalEye AEW&C Saab
GlobalEye AEW&C Saab

Menyadari hal ini, seperti pernah diusulkan oleh KSAU Marsekal Agus Supriatna, niat untuk memodernisasi pesawat pengintai strategis dalam rangka memfasilitasi dan memperluas cakupan pengamatan dan pengawasan. Mengingat Boeing 737-200 aset Surveillance tidak up-to-date untuk potensi ancaman pada hari ini, Angkatan Udara kini melirik pesawat pengganti jenis yang dianggap sesuai untuk masalah saat ini.

Sumber Angkasa mengungkapkan bahwa pesawat itu adalah GlobalEye. Dengan radar canggih dan sistem GlobalEye sangat berkualitas, pesawat ini mampu memantau kegiatan wilayah udara, darat dan pengawasan laut.

Ini berarti bahwa selain dapat digunakan untuk mencegah penangkapan ikan ilegal setiap tahun yang menyebabkan kerugian hingga Rp 300 triliun, pesawat multirole ini juga bisa meringankan tugas mengawasi pesawat tempur di wilayah udara Republik Indonesia. Sebuah pilihan yang layak untuk dipertimbangkan.

Lihat selengkapnya di artikel : Majalah Angkasa, No. 7 April 2016 Tahun XXVI.

*TNI AU mengincar SAAB GlobalEye AEW&C

49 COMMENTS

  1. Seingat saya pembelian pesawat ini bersifat paket. Kalo TNI mau ambil 2 skuadron gripen, maka sekalian ditawarkan sepaket dng pesawat AEW&C berikut paket data link utk 3 matra guna mengadopsi battle management system. Itu sebabnya TNI berencana memiliki satelite militer.
    Tapi tindak lanjutnya saat itu tdk diberitakan lg. Jika pilihannya Saab Swedia berarti gripen bakal jd koleksi TNI AU nantinya.
    Semoga sajalah.

  2. nanti bung diego posting berita yang menyangkut BMS dan UAV dan satelit militer. untuk UAV dan BMS dah saya kirim datanya. tapi, maaf.. datanya gak bisa saya ungkap semua. soal satelit nanti dulu. belom saya kirim, sensor dulu yang penting-penting.
    yang pasti kita buatan sendiri. sedang malaysia beli.soal kemampuan, gak kalah. stay tune aja dulu.

    • “…yang pasti kita buatan sendiri”

      Ini kata kunci nya.
      Ini yang paling penting.
      Ini yang buat Indonesia jaya di masa depan.
      Menjadi bangsa Produktif, bukan bangsa Konsumtif yang cuma beli,.. beli,.. beli,.. belii..
      KOnsepnya, pelajari, bikin, rakit, assembly, enginering, modifikasi, kemudian, Jreng… yg kualitas no 1 di simpen dan pake sendiri, yg Kualitas 2 di Export.

      Jadi, Ilmu punya, Alutsista ada, dan Uang dapet.
      Untung banyak..

      NKRI harga mati.

  3. kalau pakai golden eye bagusnya beli gripen karena satu paket data link manejemen pertempuran kalau pakai barang rusia musti di bongkar ulang software data linknya karena jelas beda jauh antara barat dan timur
    sepertinya pembelian su35s bermasalah makanya lama bgt utk deal saatnya indonesia melirik negara lain yg lebih fleksibel dan tidak kaku seperti rusia tawaran gripen sungguh mengoda dari tot lebih dari 40% pembelian satu paket tempur sampai sewa pesawat (kasus malaysia) coba rusia mana berani sampai seperti itu

LEAVE A REPLY