Mar 122015
 
Pesawat Tempur Sukoi SU-35. (Dok. Wikipedia).

Pesawat Tempur Sukoi SU-35. (Dok. Wikipedia).

JAKARTATNI bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) sepakat memilih pesawat tempur generasi kelima Sukhoi (Su-35) buatan Rusia, sebagai pengganti pesawat F-5 yang sudah tidak laik terbang.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyampaikan, keputusan pembelian pesawat tempur tersebut melalui proses yang panjang. Prosesnyawa diawali pembicaraan antara Pemerintah Indonesia dengan Rusia dan dilanjutkan antara Kemhan kedua negara tersebut.

“Itu sudah menjadi pilihan bersama antara TNI dengan Kemhan dan sudah menjadi kesepakatan,” ujar Moeldoko usai mengikuti kegiatan TNI Mendengar dengan tema Ketahanan di Bidang Energi dengan Berbagai Permasalahan dan Solusinya di Aula Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2015).

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Fuad Basya menambahkan, pesawat tempur Su-35 menjadi pilihan untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AU dalam rangka memperkuat pertahanan udara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, pengadaan pesawat tersebut sudah melewati beberapa tahapan.

“Iya, jadi di TNI itu ada proses namanya Dewan Penentu dan Pengadaan (Wantuada) yang berada diangkatan, kemudian ada Dewan Kebijakan Penentuan Alut dan Alutsista (Wanjaktu) di Mabes TNI. Hasil Wantuada itu dikombinasikan ke Mabes TNI menjadi Wanjaktu agar menjadi interoperabilitas,” jelas Fuad.

Lanjutnya, hasil Wanjaktu kemudian TNI memilih pesawat Sukhoi-35 itulah disepakati. Tahapan berikutnya Kemhan akan menjalankan proses administrasinya.

“Proses itu (pengadaan) tinggal Menhan. Cepat lambatnya tergantung Menhan, sebab proses adminitrasinya di mereka. Kita inginnya secepat mungkin, karena F-5 sudah harus diganti,” terangnya.

Disinggung berapa jumlah pesawat tempur Su-35 akan diadakan pada tahap pertama tersebut, Fuad mengaku belum bisa menyebutkan.

“Saya enggak tahu persis jumlahnya tapi, yang jelas kita akan ganti secara bertahap dan itu sampai 2024 berakkhirnya minimum essential force (MEF) semua itu sudah hadir,” tukasnya.

SU-35 merupakan pesawat tempur terkuat buatan negeri yang dijuluki Beruang Merah. Pesawat bermesin ganda ini dianggap sebagai pesawat generasi kelima, karena kelebihan yang dimilikinya.

Pesawat turunan dari Su-27 ini mampu melakukan manuver yang tidak dimiliki pesawat tempur lainnya seperti, berhenti seketika di udara, mampu terbang cepat di ketinggian dan bisa membawa banyak rudal udara ke udara.

Pesawat dengan tempat duduk tunggal ini juga dilengkapi sistem avionik canggih dan memiliki kecepatan supersonik sekitar mach 1,5 yakni dua kali kecepatan suara dan dianggap mampu melampaui pesawat tempur siluman generasi kelima F-22 Raptor buatan Amerika Serikat. (sindonews.com)

  278 Responses to “TNI dan Kemhan Sepakat Beli Pesawat Sukoi Generasi Kelima”

  1.  

    salut sma pemerintah bsa kabulin mau’y rakyat..

  2.  

    Allhamdulillah akhirnya pilihan tepat untuk SU-35

  3.  

    Allah Akbar…akhirnya keputusan ke Sukhoi 35, trimakasih Tuhan engkau telah memberikan petunjuk yang benar kepada para tetinggi TNI yang selama ini ketergantungan kepada ASU, semoga dengan pembelian alusista ke Russia negara kami akan kuat dan Jaya untuk selamanya.

  4.  

    Memantau realisasinya, sambil jualan ayam di pasar. xixixixi.

  5.  

    Alhamdulillah….

  6.  

    kalo dolar naik terus,kita bs beli spt jaman mbak mega dl,sistem barter. pake karet,sawit,ikan,timah,nikel,pala,cengkeh,lada dst indonesia kaya bung….kita yg bilang indonesia miskin.negara lain bilang indonesia kaya,tambang2 uranium suruh olah sama rusia buat beli pesawat,banyak sumber daya alam indonesia ini yg belum diolah scr maksimal,hidup nkri……..

  7.  

    Aseeeeeek slmt buat smua fans su35 ahirnya sudah resmi dipilh
    Selmat yaaaaaa

  8.  

    gan ane kmrin sore liad 3 sukhoi dipangkalan au adi soemarmo terbang rendah kearah barat tp anehnya koq ada 1 yg warnaya rada2 kuning bkn kebiru2an mirip yg punya tni au apa ini su35 kah ? itu terbang ditengah2 yg warna kuning kecoklat2n diapit 2 sukhoi warna biru

  9.  

    MANTAB………akhirnya kena juga sasaran kita sbg warga negara yg cinta pada kedaulatan bangsa. semoga cepat direalisasikan kemenhan beserta jajarannya dan yg berkepentingan.

  10.  

    Selamat Datang Skadron Serbu kelas berat : Combat multirole SU-35 dan bomber SU-34

    Setelah terkekang dengan doktrin bertahan yang hanya boleh menyerang dan mengusir musuh yang datang, Akhirnya TNI AU mempunyai kemampuan untuk menyerang wilayah lawan.

    Tetapi, apa mungkin Indonesia dibolehkan mempunyai kemampuan menyerang, kita tunggu saja hasil kunjungan Menhan Ryamizard ke Spanyol dan hasil pertemuan Presiden Jokowi dengan Presiden Obama.

  11.  

    MANTAP …… semoga cepat teralisasi dan tidak ada penolakan di DPR nantinya…..

    saat SU 35 datang dan F16 hibah dah komplit maka wilayah udara kita bisa garang…..
    F16 bisa dibagi beberapa flight tempr guna ditempatkan di perbatasan ( Natuna, Biak, Kupang )…..

    bravo TNI…..

  12.  

    Pesawat dengan tempat duduk tunggal ini juga dilengkapi sistem avionik canggih dan memiliki kecepatan supersonik sekitar mach 1,5 yakni dua kali kecepatan suara dan dianggap mampu melampaui pesawat tempur siluman generasi kelima F-22 Raptor buatan Amerika Serikat.

    >>Hahaha wartawannya belom pernah buka Wikipedia nih, Mach 1,5 kok 2x kecepatan suara ?

  13.  

    Adem beritanya, Alhamdulillah sujud sukur akhirnya su 35 yg dipilih sy percaya list a1 ni barang kayanya dah dimari, penambahan kontinyu sampai 2024 berarti kita punya ratusan sukhoi family. Amin bung admin untuk TU-22 or 95 dibuat artikelnya dong.

  14.  

    wah mending tuh tambang lain2 dikelola rusia, bisa saling untung gak kyak diolah US dkk nya, dikuras tapi gak ngasih apa2! mungkin dengan Papa Bear mengelola SDA bersama SDM kita mereka bisa memberi TOT baru lainnya, jadi kita bisa jadi kyak India yang makin maju, SU-35 ditaruh NATUNA ama NTT/PAPUA bakal bikin negara lain ciut nih kayaknya 😀

  15.  

    jempol dan sy ucapkan selamat kepada TNI AU dengan kahadiran sukhoi su35 dengan segera…lebih cepat lebih baik……kuat diudara….gagah dilautan ….tak terdandingi di daratan…bravo Indonesia Raya

  16.  

    =============================================
    hari ini kita aman krn ada su27/30 yg jauh diatas dripada hornet aus
    =============================================

    Harap tahu saja, Australia justru melihat armada TNI-AU yg split separuh-separuh antara F-16 dan Sukhoi Su-27/30 seperti sekarang ini justru sebagai salah satu KELEMAHAN utama Indonesia.

    ========================================================================
    http://www.aspistrategist.org.au/why-a-stronger-indonesian-military-is-good-for-australia-but-is-still-a-long-way-off/
    ========================================================================

    Kalimat dari analisis ini sendiri paling penting konteks-nya untuk kemampuan Su-27/30:
    =======================================================================
    The Air Force has invested in some more capable Russian Sukhoi fighters, some of which participated in the ADF’s 2012 Pitch Black exercise for the first time. But its new fighters (Sukhois) are largely INCOMPATIBLE with other assets and it lacks key enablers for modern air combat operations, such as airborne early warning and control (AEW&C) systems.
    =========================================================================

    Artikel ini sendiri menyinggung latihan Pitch Black 2012 — dimana Su-27/30 tampil pertama kali dalam latihan mancanegara.

    Australia sendiri sudah menganalisa performa SUkhoi Flanker dalam latihan ini.
    Kesimpulan mereka:

    ## SEMUA pesawat tempur peserta Pitch Black sendiri tidak mempunyai kesulitan untuk mengimbangi Sukhoi Indonesia. (Baca: Efek gentarnya biasa saja, tidak perlu ditakuti!).

    ## Indonesia masih BELUM cukup punya pengalaman dalam latihan mancanegara — jadi turut dalam latihan Pitch Black — seperti anak yg baru belajar berjalan, harus dituntun pelan2.

    ## Terakhir — walaupun RAAF menolak untuk memberitahukan opini mereka secara blak2an, tapi feedback mrk yg adem ayem menggarisbawahi — bahwa kemampuan Super Hornet mereka juga sudah lebih dari cukup untuk menandingi Sukhoi Indonesia. Dengan kata lain — mereka tidak merasa Sukhoi Flanker Indonesia sebagai lawan yg patut diperhitungkan.

    ============================================================
    http://www.asiapacificdefencereporter.com/articles/250/Exercise-Pitch-Black
    ============================================================
    Since this was Indonesia’s debut at Pitch Black, and because its personnel ARE NOT WELL VERSED in multilateral exercises, Australia adopted a “crawl-walk-run approach”.

    This saw the Flankers working closely with Classic Hornets in 1v1 or 2v2 missions throughout the fortnight that Indonesia spent in-country. The two sides practised these bilateral engagements as a separate cell that did not necessarily follow the overall scenario of the exercise. However, on 9 August, the Sukhois reached the pinnacle of their exercise participation when they escorted Hornets during a major mission. It is believed the Flankers utilised their radar systems during their small-scale engagements.

    Perhaps the question uppermost on everyone’s minds was: “how the Flankers compared to equivalent Western aircraft?”

    There is something of a fascination with the legendary status of this aerodynamic fighter, but one official stated categorically that NONE of the international partners FELT OUTCLASSED BY IT.

    When pressed about the capabilities of the Flankers during an interview, one spokesman remained suitably vague: “The Hornets and Sukhois are having interesting fights with various outcomes. The Hornets have done fairly well, even during 1v1.”

    WGCDR Jones said Australian pilots were getting a “buzz out of working with a new platform,” but he too declined to offer an opinion on the capabilities of the Flankers. Instead he diplomatically said, “I remain VERY COMFORTABLE that we have the Super Hornet in RAAF service.”

    GPCAPT Kitcher assessed the Super Hornets as ENJOYING PARITY with the Flankers, but that “a pilot’s skill is the most important factor”.
    =========================================================================

    Patut dicatat juga, sampai tahun 2012 — sewaktu latihan ini berlangsung, Sukhoi Indonesia masih “telanjang” alias belum memperoleh senjata dari mother Ruski. Jadi jumlah jam latihan pilot Sukhoi Indonesia DENGAN memakai senjata BVR missile saja masih NOL BESAR. Kemampuan pilot Indonesia dalam memakai aerial network juga sepertinya NOL BESAR — karena perlengkapannya tidak ada.

    Sebaliknya, Australia dan Singapore sudah mempunyai pengalaman selama 25 tahun lebih berlatih taktis dengan menggunakan aerial networking, full support dari pesawat AWACS / AEW&C, dan tentu saja jauh lebih piawai dalam kemampuan tempur BVR ataupun WVR.

    Apakah masih merasa Sukhoi Flanker Indonesia mempunyai efek gentar yg berarti?

    Indonesia justru HARUS banyak mengejar ketinggalan. Pengalaman dengan Sukhoi selama 12 tahun terakhir ini justru mengajarkan kita, bahwa mother Ruski bukanlah guru yg baik.
    iboy6 | 12 Mar 2015 18:15:06

    bung gripen yg saya dengar dari hasil pitch black 2012 sukhoi indonesia kalah di pertempuran jarak jauh namun unggul di pertempuran jarak dekat(dog fight) menurut bung gripen apakah keunggulan sukhoi di dog fight bisa berguna jika seandainya kita berkonflik dgn AUS atau Singapore?
    Melektech | 12 Mar 2015 22:36:33

    Majalah Angkasa Edisi April 2014 :

    Komandan Skadron Udara 11 (Sukhoi) Hasanuddin Makasar, Letkol Pnb Dedy Ilham S :

    ” Pakem Tempur Rusia (sekarang) adalah pertempuran jarak jauh (BVR), Bagi mereka Close Formation (Dog-Fight) tidak lagi berguna karena itu hanya dibutuhkan oleh tim aerobatik”

    SUDAH DIJAWAB SENDIRI OLEH PILOT DAN KOMANDAN SUKHOI KITA
    jadi sudah mutlak, ngak ada tapi-tapi-an, ngak ada alasan
    Gripen-Indonesia | 13 Mar 2015 08:55:38

    “a pilot’s skill is the most important factor”.

    Dari feedback para pilot F-15 dan F-16 USAF yg sudah berhadapan dengan Su-30MKI — mereka sepertinya juga cukup adem ayem. Dengan kata lain — bukan pswt yg harus terlalu dikhawatirkan.

    Sekarang begini saja — kita meilhat contoh pesawat lain — F-22 yg dianggap paling modern di seluruh dunia.

    Bbrp tahun pertama, F-22 ini mendominasi semua latihan udara — dengan kill ratio mencapai ratusan pswt : 0.
    Kelihatannya bukan main hebatnya bukan?

    Akan tetapi pilot2 lain yg memakai pswt Generasi 4 / 4.5 (yg secara tehnical lebih inferior) mulai mempelajari kekuatan dan kelemahan F-22 dalam latihan2 ini, dan mendalami kelebihan / kekurangan pesawat yg mereka pakai. Sementara itu, pswt yg mereka pakai juga terus di-upgrade. Tranche-2 Typhoon lebih baik drpd Tranche-1; F-16 Block-52+ lebih baik drpd Block-52 — sementara upgrade untuk F-22 sendiri berlangsung lebih lambat (karena jumlahnya terlalu sedikit).

    Kemampuan pilot2 yg memakai F-15, F-16, Typhoon, Rafale, dan Super Hornet dalam latihan2 ini tentu saja semakin maju jauh krn menghadapi “lawan yg tak terkalahkan”; seiring dengan semakin rajin pesawat mereka di-upgrade — dengan target bayangan di masing2 pihak — untuk semakin mengimbangi F-22A.

    Dan hasil akhirnya, sebuah EA-18G Growler mengejutkan semua orang tatkala akhirnya berhasil mendapatkan “missile lock” ke F-22 yg stealthy — dalam latihan spt ini, artinya F-22 berhasil tertembak jatuh.

    EA-18G Growler — yah, tipe yg sedang dibeli Australia. Tipe ini bahkan bukan pswt tempur air superiority tulen spt Typhoon atau F-16.
    ======================================================================
    http://www.flightglobal.com/blogs/the-dewline/2009/02/growler-power-ea-18g-boasts-f/
    =====================================================================
    Dan dalam bbrp bulan berikutnya, pilot2 Typhoon mulai mendapatkan kill marking atas F-22, walaupun kebanyakan dalam close combat.

    Tidak ada berita bagaimana dengan F-15 dan F-16 (kemungkinan sengaja dirahasiakan krn USAF menginginkan stealth), tapi dari berita2 di Internet, kelihatannya bahkan F-15 dan F-16 pun mulai mencapai satu-dua keberhasilan vs F-22.
    Sepertinya skrg pilot2 Eurocannards (Typhoon dan Rafale), atau pilot2 F-15 dan F-16 yg lain semuanya seperti berlomba-lomba utk bisa mendapatkan kill marking untuk F-22.

    Inilah kenapa pesawat yg efek gentarnya terlalu berlebihan sbrnrnya tidak berarti automatis akan menjadi senjata yg efektif. Apalagi kalau dari contoh F-22 saja, biaya operasionalnya terlalu mahal, jumlahnya terlalu sedikit, dan availability rate-nya terlalu rendah (untuk ukuran Barat) hanya 70% (sbnrnya masih lebih bagus dibanding semua Sukhoi Ruski).

    PILOT TRAINING adalah kunci utamanya.
    Pesawat tempur yang reliable, dapat bersaing, dan dapat memberikan kapasitas utk memajukan skill pilot adalah kunci kedua.

    Pilot yang lebih terlatih, dan semakin ditantang, kemampuannya akan terus-menerus semakin membaik.

    Pilot Eurofighter Typhoon yg sudah memahami F-22, dan semakin menguasai pesawatnya, tentu akan mempunyai peluang yg besar untuk bisa menembak jatuh F-22 dalam keadaan yg sebenarnya.

    Inilah kenapa, percuma saja Indonesia membeli Su-Su ini, kalau tidak bisa menjamin keterampilan dan skill pilot kita dapat mengimbangi Australia atau Singapore.

    Kalau kita membeli Su-35, apakah kita harus bangga karena pesawat kita lebih superior dari Super Hornet Australia, atau F-16 Singapore?

    Tidak segampang itu. Pilot mereka mempunyai lebih kesempatan utk belajar, dan mempunyai lebih banyak investasi waktu / uang untuk latihan.
    Kalaupun Indonesia memiliki F-22 juga tidak akan artinya, kalau kita harus menghadapi Angkatan Udara lain yg kemampuan pilotnya lebih handal.

    ===========
    Catatan akhir
    ===========
    Selalu diingat juga, kalau pilot2 Russia sama sekali tidak berpengalaman dalam latihan mancanegara seperti Red Flag US atau Pitch Black Australia. Ini artinya pilot skill mereka tidak mendapat kesempatan yg sama untuk belajar dan bertumbuh menjadi lebih baik seperti rata2 pilot2 NATO, Singapore, dan Australia.

    Russia boleh membuat PAK-FA, China boleh membuat J-20 atau J-31 — tapi kalau kedua negara ini tidak bisa men-subisitusi skill pilot pesawat tempur Barat yg juga didapat dari banyak latihan2 mancanegara — kedua negara ini dalam jangka panjang akan mulai tertinggal dalam kemampuan pilot.

    Inilah kenapa argumen2 di website blog gadungan macem Ausairpower itu bukanlah referensi yg valid utk menonjolkan keunggulan Sukhoi Flanker. Website semacam ini masalahnya TERLALU MEREMEHKAN kemampuan pilot Australia sendiri.

    FYI — pilot2 dari Australia ini termasuk Top-10 yg paling terlatih dan berpengalaman di dunia.

    Mungkin Super Hornet tidak dapat menandingi Su-35 di atas kertas — tapi kemampuan pilot akan menjadi penentu utama dalam latihan ataupun dalam konflik sebenarnya.

    Inilah kenapa ketinggalan yg harus dikejar Indonesia — tidak semata harus membeli pesawat tempur yg jauh lebih bagus, tapi juga dalam TRAINING dan INFRASTRUKTUR.

    •  

      Bendanya (pespur) ada tetap yg utama; 1 juta pilot pespur terlatih dan mahir (andai sdh tersedia) jg hampir tdk ada gunanya jika pespurnya tdk ada. Maaf jika ungkapan saya sangat sederhana (tdk sebanding dengan kepintaran anda).

    •  

      “Inilah kenapa argumen2 di website blog gadungan macem Ausairpower itu bukanlah referensi yg valid utk menonjolkan keunggulan Sukhoi Flanker. Website semacam ini masalahnya TERLALU MEREMEHKAN kemampuan pilot Australia sendiri”

      kalau ausairpower dianggap blog gadungan padahal penulisnya mendapat gelar doktor itu adalah hal yang sangat menggelikan. lihat publikasi dari artikelnya yang menjadi acuan usaf dan raaf terkait kekuatan rusia. membandingkan seorang doktor dengan penulis yang tidak jelas juntrungannya. dan kesalahan fatalnya adalah mengagungkan pilot oz lebih baik dari pilot indonesia. seolah-olah tni au hanya duduk diam dan kerjaannya nguber2 pesawat sipil saja.

      terus top 10 pilot paling terlatih itu dimana adanya list akreditasinya dan siapa yang menerbitkannya ?
      tahukah salah satu strategi itu mengandalkan jumlah atau teknologi. jika kita tidak bisa mendapatkan jumlah yang banyak maka carilah yang berteknologi terkini. contoh penerapan :

      rsn (al singapura) tahu kalau secara kuantitas tidak bisa mengatasi tni al. maka oleh top brass mereka menggunakan pendekatan cutting edge technology dengan mengakuisisi frigat dengan vls aster yang berkemampuan anti balistic missile. demikian pula rsaf (au singapura) begitu tni au ada rencana pengadaan pengganti f-5 dan penambahan skuadron baru maka mereka melakukan upgrade f-16 dengan teknologi terkini dan penambahan armada f-15sg secara diam2 sebagai stop gap sebelum f-35 mereka berdatangan. karena jikalau kita ingin menduduki singapura kita harus lewat laut dan udara. maka prioritas kedua angkatan itu yang diutamakan dengan dukungan penangkis serangan udara berupa pespur, balistic missile maupun sejenis artilery lainnya.

      jadi janganlah sesumbar mengatakan Dr Carlo Kopp sebagai penulis gadungan dibandingkan anda yang tidak jelas kriterianya.

    •  

      Nickname @indra ini mengingatkan kepada @GI, dengan gaya bahasanya sering menggunakan ## dan ===, kalau bukan kloningannya ?. Rupanya masih belum rela Indonesia beli Su-35, artinya Tidak rela Indonesia jadi kuat. ?
      Ini saya posting seluruhnya dari sumber dia, sehingga bisa ditarik kesimpulan masing2:
      “Indonesia – special star
      Perhaps the most significant and well-publicised aspect of the 2012 exercise was the maiden attendance of the TNI-AU. Indonesia has certainly been invited to Pitch Black a number of times before, but this was the first time its air force accepted. It did so by sending a detachment of four fighters from its base at Hasanuddin International Airport in south Sulawesi, the first ever Down Under deployment of Sukhois. The four aircraft all belonged to Skadron Udara 11 (SkU.11), nicknamed “The Thunders”. It is assumed that they flew legs from Indonesia on internal fuel only. The quartet comprised a pair of single-seat Su-27SMK and a pair of twin-seat Su-30MK2 fighters. It should be noted that the RAAF already trains alongside the TNI-AU, so the platform is not totally unfamiliar to Australian pilots. Indeed, air combat training between the two countries occurs every two to three years, with drills taking place most recently in Bali last year.
      Since this was Indonesia’s debut at Pitch Black, and because its personnel are not well versed in multilateral exercises, Australia adopted a “crawl-walk-run approach”. This saw the Flankers working closely with Classic Hornets in 1v1 or 2v2 missions throughout the fortnight that Indonesia spent in-country. The two sides practised these bilateral engagements as a separate cell that did not necessarily follow the overall scenario of the exercise. However, on 9 August, the Sukhois reached the pinnacle of their exercise participation when they escorted Hornets during a major mission. It is believed the Flankers utilised their radar systems during their small-scale engagements.
      Perhaps the question uppermost on everyone’s minds was how the Flankers compared to equivalent Western aircraft. There is something of a fascination with the legendary status of this aerodynamic fighter, but one official stated categorically that none of the international partners felt outclassed by it. When pressed about the capabilities of the Flankers during an interview, one spokesman remained suitably vague: “The Hornets and Sukhois are having interesting fights with various outcomes. The Hornets have done fairly well, even during 1v1.” WGCDR Jones said Australian pilots were getting a “buzz out of working with a new platform,” but he too declined to offer an opinion on the capabilities of the Flankers. Instead he diplomatically said, “I remain very comfortable that we have the Super Hornet in RAAF service.” GPCAPT Kitcher assessed the Super Hornets as enjoying parity with the Flankers, but that “a pilot’s skill is the most important factor”.
      Indonesia originally planned to attend just the Force Integration Training (FIT) week, but the TNI-AU extended its stay to encompass the public open day held in Darwin on 11 August. Relations between Australia and Indonesia are slowly recovering from tensions created over the issue of Timor Leste independence. Jakarta also expressed consternation over Prime Minister Julia Gillard and President Barack Obama’s announcement in late December 2011 that US Marines would be deploying on a rotational basis to Darwin. Indeed, Australia has worked hard at trying to allay Indonesian concern over Darwin’s eventual hosting of a complete Marine Air Ground Task Force (MAGTF) by 2017.
      Thus, the TNI-AU’s participation in Pitch Black seems to signal continuing rapprochement between the two neighbours. GPCAPT Kitcher enthused, “I certainly hope Indonesia will continue to attend Pitch Black in the future,” and that the TNI-AU would be able to expand cooperation with other regional air forces. One RAAF officer said he believed the Indonesians “genuinely enjoyed the exercise and the interaction with the international partners.” However, an Indonesian pilot is sure to have had his wrist slapped for dumping fuel on final approach on one occasion just one minute before landing at Darwin!”

      Berita memang sebaiknya begitu, netral dan tidak memojokkan salah satu pihak.
      Barangkali dia perlu lihat dan baca thread lain, bukan yang dia akur saja, seperti :
      http://www.debatepolitics.com/military/168745-why-australia-should-scratch-f-35-and-fly-sukhois.html
      http://in.rbth.com/blogs/2013/04/08/why_australia_should_scratch_the_f-35_and_fly_sukhois_23629.html
      http://www.globalsecurity.org/military/world/russia/su-35bm-design.htm
      Selain ciri gaya bahasa, ciri lain adalah gemar menjelekkan blog http://www.ausairpower.net/ . Anda selalu memojokkan APA + lainnya, ‘struth its very annoying to me. Cukup anda bilang tidak percaya selesai. Banyak, banyak sekali informasi berguna yang dijelaskan secara teknis dan lengkap berikut data, tabel, grafik, gambar (bukan asal opini). Bukan hanya tentang Su-35, banyak sekali yang lain tentang teknologi senjata Rusia, China, USA, sejarah dll Kita yang awam banyak belajar dari situ, saya sarankan anda juga. Benar kata Bung alugoro , jangan asal mencap gadungan. Siapa dan apakah kompetensi anda dibandingkan dengan Doktor Kopp dan Wing Commander P. Goon? Sejujurnya belum ada blog kita yang nempil, ambil contoh http://defense-studies.blogspot.com/, hanya copy paste berita saja.
      Terakhir, komen anda saya anggap isinya merendahkan bangsa sendiri, kecuali mungkin penutup Inilah kenapa ketinggalan yg harus dikejar Indonesia — tidak semata harus membeli pesawat tempur yg jauh lebih bagus, tapi juga dalam TRAINING dan INFRASTRUKTUR.. Ini saya setuju.

    •  

      Pengadaan 90 unit F-35 ( operasional + cadangan ) oleh Australia adalah salah satu bentuk evalusi hasil pitch black 2012. SU-35 sebagai skadron pemukul kelas berat di garis depan, adalah mutlak sudah menjadi KEBUTUHAN POKOK TNI AU.

      Kelebihan SU-35 adalah Negara-negara tetangga yang berpotensi perang dengan Indonesia, sama sekali BUTA dengan kemampuan dan teknologi SU-35. Cukup dipahami saja bahwa SU-35 adalah salah satu pesawat tempur garis depan Tentara Udara Rusia. Kita semua sudah paham bahwa Rusia adalah negara yang arogan dan menakutkan bagi semua negara eropa, untuk bersikap arogan, anda harus punya kekuatan. seperti itulah kekuatan SU-35 dan efeknya bagi negara-negara tetanga Indonesia.

      Untuk konflik dengan skala kecil dan terbatas seperti kasus Ambalat, Tanjung Datu, Natuna, Celah Timor, dll KEMENANGAN PERTAMA adalah KEHARUSAN. Dengan SU-35 dan dengan Skill Pilot yang berpengalaman, TNI AU bisa dengan segera membungkam pesawat musuh yang memprovokasi konflik, kemenangan itu bisa menjadi mimpi buruk yang segera merontokan nyali tentara musuh untuk mengulangi lagi kesalahannya. dan juga sebaliknya, jika kekalahan pertama itu terjadi, maka bisa berakibat fatal bagi TNI di konflik terbatas selanjutnya.

      Intinya, TNI AU harus memilih antara Kemenangan pertama dengan SU-35 memukul duluan atau kekalahan pertama karena pesawat tempur F-16 bekas hibah dipukul duluan ???

      Jaman sekarang, agak sulit bagi Indonesia untuk berperang secara semesta/totalitas dengan salah satu negara tetangga. yang ada adalah konflik terbatas sengketa perbatasan dengan model berperang yang hanya melibatkan masing-masing pasukan garis depan dengan adu teknologi terbarunya. Dengan model konflik perbatasan semacam itu, SU-35 adalah SOLUSI NYATA bagi TNI AU.

      Indonesia, kamu harus memilih, dalam konflik terbatas seperti di perairan Ambalat, TNI AU dengan SU-35 merontokan belasan F-18 Hornet Malaysia atau TNI AU kehilangan belasan F-16 bekas karena ditembak jatuh oleh F-18 Hornet Malaysia. Kemenangan atau kekalahan itu akan ditulis sepanjang sejarah dan sejarah itu, Anda sendiri yang memilihnya.

  17.  

    Nek kurang pilote.. aku yo gelem dadi pilote su 35 kog..ngko tak liwatno nduwure genteng omahku ..pesawate tak duduno emak ku..

  18.  

    Paling tidak Sukhoi Family TNI AU Jadi 32 Unit Mantaaaaaapp Efek Pengentarnya mulai terlihat

  19.  

    su35, generasi keliama? hahahahaahahahahahhaahhahahhhhhhaha

  20.  

    Alhamdulilah

  21.  

    hanya perkiraan saja dari apa yang ku tangkap dari beberapa serpihan serpihan berita bahwa TNI AU kedepan akan mengadakan 3 jenis Pespur untuk mendukung program Kogabwilhan dan poros maritim dunia, yakni :
    – Sukhoi SU 35 S sebagai heavy fighter sebagai pespur penggebuk kelas berat untuk menghadapi Pespur lawan yang berbasiskan teknologi blok barat sesuai strategi Kogabwilhan.
    – Pengadaan Eurofighter typoon untuk mengadapi pespur lawan yang berbasiskan teknologi dari blok timur apabila meletus konflik LCS sesuai strtegi kogabwilhan dan sekaligus untuk pijakan pengembangan proyek IFX
    – F 16 block 60 sebagai workhorse sekaligus sebagai arah pijakan pengembangan proyek IFX, dan diakui atau tidak pihak TNI AU sudah sangat familiar dengan keluarga F 16.

    •  

      single engine itulah yang diperebutkan oleh f-16, gripen dan t/fa-50 series. potensi design untuk masa depan memang di t/fa-50. sedangkan proven design milik f-16 kemungkinan sudah mentok, design gripen ng masih bisa berkembang kira2 20th lagi. kondisi sekarang fa-50 memang underdog, karena belum keluar ijin dari lm untuk menggunakan radar diluar buatan us, elta dan indigenous korea. bisa jadi dalam 3 tahun ke depan fa-50 akan menggunakan aesa radar buatan korea. jika itu terjadi otomatis kans tot versi korea akan menjadi worthed to buy (murmer dan tot).

      •  

        analisa sangat bagus bung.. dimana t/fa-50 saat ini masih dalam keadaan grade dasar/ basik awal yang banyak diketahui sistem avionik dan radarnya agak rabun, tetapi kemampuannya sudah sangat bagus.. andaikata t/fa-50 terus mengalami upgrade dari seri ke seri saya yakin kemampuannya akan melebihi f-16 sendiri dari yang blok tertinggi. hal ini adalah peluang RI untuk mendapatkan TOT dari korea dalam pengembangan ifx. mengingat TNI AU adalah pengguna pertama diluar ROKAF..

    •  

      menurutku SU 35 S yang TNI AU beli tidak mengalami downgarde alias sama persis dengan milik AU Rusia. untuk menjaga negara sahabtnya dari gangguan pespur negara tetangga yang menggunakan pespur blok barat..
      yang pasti sukhoi untuk TNI AU ini mau tidak mau harus menghadapi kepungan Pespur blok barat yang berpotensi konflik yang memiliki spek/ blok / gen sudah sangat tinggi( dari gen 4, 4,5, sampai 5 yang sebentar lagi datang ). untuk itulah russia tetap memberikan sama persis dengan pespur milik AUnya russia sendiri sekaligus untuk menjaga image dagangan alutsistanya..

      sukhoi kita sekaligus dijadikan sebagai ujicoba untuk peningkatan kemampuan tempur oleh para teknisi sukhoi russia karena:
      – kemampuan pilot kita sudah sangat mumpuni/ profesional
      – mempunyai kawasan yang strategis ( diapit 2 samudra, 2 benua, ribuan pulau, angin muson barat/ timur, yang memiliki kondisi alam yang berbeda ) yang dapat dijadikan sebagai laboratorium alam untuk ujicoba pengembangannya..
      – wilayah NKRI yang maha luas ini punya potensi pelanggaran wilayah udara yang sangat besar ( sering terjdinya pelanggaran wilayah udara oleh pihak asing). hal ini bisa dijadikan sebagai ujicoba kemampuan sukhoi kita untuk menghadapi blackflight asing baik pesawat militer maupun sipil..

  22.  

    Banyak amit yg komen ini pasti rekor baru stlh su35 tinggal nunggu yg dari spanyol ataupun swedia trus punyanye amrik untuk pemyeimbang kan rame karena rencananya ada lembaga yg punya pesawat tempur sendiri diluar TNI AU pasti seru nih berita berita yg akan datang.Jayalan NKRI

  23.  

    masih blm jelas, menhan malah ke spanyol nengok thypoon

  24.  

    harap-harap cemas karena sebelumnya banyak bantingan yang melemahkan rencana pembelian SU-35, semoga bisa sukses 100% dan itu burung masuk di sarangnya yang baru, tanpa ada gangguan dari manapun.

  25.  

    pertama posting di fb langsung di forward dimari….
    trims JKGR , yuk shalat Jum’at rame rame agar su 35 diborong 128 pcs

  26.  

    Top mar Kotop, JOSS gandos, makin pusing tuh tetangga-tetangga sebelah.

  27.  

    SU-35S bung. Bukan yang BM…

  28.  

    Waahhh..setahun nunggu kepastian akhirnya SU35 terpilih..mantap..klo datangnya bertahap smp 2024 mungkin akan ada 2 ska:32 biji, mudah2han..

  29.  

    untuk single enggine nya pake mig 35 aja

  30.  

    Langkah strategis sudah dijalankan tinggal pelaksanaannya perlu dimatangkan, karena sy yakin faktor yg paling penting dalam Hankam adalah supremasi diudara/angkasa, bila kita mampu menguasai wilayah udara/angkasa ditanah air kita sendiri maka siapapun baik kawan, lawan atau calon lawan akan berpikir/berhitung ulang untuk coba2 mengganggu apalagi melakukan agresi/invasi terhadap kedaulatan NKRI.

  31.  

    Mantap SU35S, ini mah F35 dan raptor bukan tandingannya. Dgn kemampuan manuver di udara, jangkauan dan jarak jauh, bisa terbang tinggi dan cepat max 2.5 ditambah filtur siluman lg cat filtur siluman + radar aesa dan bisa muat banyak senjata ….keren.

  32.  

    Ga mungkin shukoi di beli, kalo emang shukoi yg jadi, berarti Ifx kita mangkrak dong, padahal kita udah committed untuk mandiri industri pertahanan, ada uu- nya jg lg, masa iya pemerintah mau melanggar uu, pilihan plng logis tuh thypon.

  33.  

    why i am not surprised! congrats anyway, hmm “generasi ke 5” ? berarti avionik – radar/sensor sudah versi upgrade donk ya. serta bahan material pesawat lebih memiliki kemampuan LPI. akan lebih perfecto jika engine Al-41F1 yg digunakan (pak-fa), otherwise AL-41F1s. *tiongkok sendiri dipastikan akan mendapat 24 unit Su-35

  34.  

    bung TTTTT SU47 sudah lama di maos pati

  35.  

    Seorang Pilot memang memegang peranan penting dalam pertempuran, mungkin australia menganggap fkanker biasa2 saja justru untuk menutupi ketakutannya…bisa saja toh?…yang paling pas ya kita tanya saja pilot yg pernah ikut pitch black…gimana hal sebenarnya. pilot yg baik jika didukung pesawat yg baik tentu akan menjadi lebih baik, kalo seorang Marquest dikasih motor kelas 2 apa dijamin bisa juara dunia motoGP? kecil kemungkinan. jadi perpaduan antara kemampuan pilot dan pesawat adalah hal yg sangat penting. Begitu pula dgn pilot2 kita jika sdh terbiasa dengan pesawatnya tentu kemampuannya akan semakin meningkat. saya orang yg yakin kualitas pilot kita setara bahkan bisa lbh baik dr pilot tetangga…krn kita terkenal bangsa yang punya nyali tinggi.

  36.  

    alhamdullilah akhirx bisa bio pertamax di simulasi kekuatan su 35 menang yg jelas semua tergantung yg bawa sy yakin pilot2 jet kita haus akan tantangan

    nkri harga mati….

  37.  

    Tantowi…siapa lo???di jerman aj lo d tolak mahasiswa/siswi si sana.
    Tahu malu sedukit …masih doyan duit,pakai atas nama rakyat..lo coment di dpr.mmgnya slm ini lo pro sm rakyat???

  38.  

    Syukurlah saat Akuasisi Su-35 saat ini,Rusia lagi berupaya bermitra dengan India maupun pembeli Su-35 lainnya termasuk indonesia kecuali China untuk menggarap versi Gen 5 dari Su-35 yang boleh kita Juluki Su-35s Silentflanker seharga 85 juta/unit , Selamat datang Super Silent Flanker Tni-Au.. http://www.wantchinatimes.com/news-subclass-cnt.aspx?id=20150310000075&cid=1101

 Leave a Reply