Aug 202012
 


TNI akan menggelar latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Pulau Natuna, Sumatera Utara, tanggal 27 Agustus hingga 31 September 2012 mendatang, melibatkan 2500 personel TNI.

“Latihan PPRC di Natuna, gabungan dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara’,jelas Kepala Pusat Penerangan TNI, Laksamana Iskandar Sitompul di Jakarta.

Latihan ini adalah program TNI untuk melatih personelnya sekaligus persiapan untuk menggelar latihan gabungan dengan skala yang lebih besar. Latihan nanti melibatkan 4 KRI, 1 pesawat maritim serta 4 pesawat penerjun dari Angkatan Udara. Latihan bertujuan mengantisipasi jika ada pihak lain yang mengganggu kedaulatan Indonesia, maka pasukan TNI telah siap menghadapinya.

Wilayah Natuna memiliki cadangan gas 14 juta barel dan gas bumi 1,3 milyar kubik, sehingga harus dijaga dengan baik.

Kodam Bukit Barisan bahkan telah mengidentifikasi bahwa Natuna memiliki ancaman yang nyata. “Keberadaan pasukan di Natuna, sudah mendesak. Ini dilakukan demi menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI dari ancaman negara asing”, ujar Panglima Daerah Militer I/Bukit Barisan Mayjen Lodewijk Freidrich Paulus.

Saat ini jumlah pasukan Angkatan Darat di Natuna, hanya dua kompi (200 orang). Kodam Bukit Barisan berencana menambahnya menjadi satu Batalyon secara bertahap. Namun menurut mantan Danjen Kopassus itu, keberadaan Angkatan Darat saja, tidak cukup, melainkan dibutuhkan pasukan gabungan dari seluruh unit TNI. (JKGR)

  7 Responses to “TNI Latihan Gabungan di Natuna”

  1. Wilayah kedaulatan hrs dijaga seutuhnya. Jangan sampai ada yg dklaim lagi oleh pihak luar.

  2. kalo masaalah dengan kebesaran kekuasaan kerajaan kekaisaran china di jaman dahulu lalu dihubung2kan dengan ketakutan akan dicaploknya sebagian wilayah indonesia sama halnya alasan ketegangan antara china dan fillipina jangan terlalu dikhawatirkan karena dalam sejarah nusantara , kebesaran kerajaan dan pasukan chinna pernah berhasil diusir ( story of kubilai khan) jadi dalam sejarah chinna indonesia adalah negara yang kuat walau demikian memang jangan terlalu terlena juga… tetap waspada…. tapi yg harus perlu dikhawatirkan bukan chinna melainkan negara serumpun dan para sekutunya… ketika konflik asia timur nanti terjadi….mau tidak mau pasukan commonwealth akan lewat jalur tersebut… dikhawtirkan mereka sembari berenang minum arak hahahahaha…. perkuat rudal2x di pulau2x perbatasan…!!!

  3. Hal yang harus selalu dilakukan adalah suatu perkembangan bukan TERLENA SAJA ..

    Semoga langkah ini menjadi barometer kemajuan INDONESIA untuk lebih MAJU dan MENJAGA IBU PERTIWI .. terus maju dan berkemajuanlah INDONESIA .. MERDEKA !!!

  4. Di Renstra I ini fokusnya adalah perkuatan pertahanan di Ambalat krn ancaman perang yg nyata saat ini adalah mempertahankan ambalat. Ancaman kedua adalah Intervensi asing di Papua. Ini yg akan jadi fokus di Renstra II. Di Renstra II ini jg akan mulai dipersiapkan Natuna sebagai basis pemotong jalur logistik ke Sabah/Sarawak. Di Renstra Ke III,fokusnya adalah LCS. Natuna akan jadi basis pangkalan militer TNI.

  5. Indonesia memang harus memperkuat pertahanan utamanya di laut Natuna, karena meskipun saat ini hubungan dengan China baik-baik saja namun harus diingat ada 9 (sembilan) garis putus-putus dalam peta kontroversial RRC yang memasukkan sebagian wilayah laut Natuna. RRC sampai saat ini belum memberi jawaban ke Indonesia tentang arti 9 garis putus-putus di laut Natuna tsb

 Leave a Reply