May 042012
 

Tupelov Tu-16 AURI

Pada tahun 1960-an militer Indonesia sebanding dengan India, melampaui Korea dan Australia. Kini tahun 2012, dua dari tiga negara tersebut telah memiliki arsenal nuklir. Sementara Indonesia disibukkan bersaing dengan negara kecil seperti Malaysia dan Singapura. Itu pun dalam beberapa sektor, Indonesia tertinggal. Mengapa bisa demikian ?

Mundurnya postur militer Indonesia, terjadi karena TNI tidak memiliki visi (pandangan ke masa depan) yang jelas, sehingga salah dalam membangun doktrin militer, serta mudah diombang-ambingkan oleh petualang politik, baik dari dalam dan luar negeri.

Tahun 1980-an, dalam Rapim ABRI selalu dikemukakan: Indonesia tidak memiliki ancaman potensial dari negara lain. Para jenderal dan petinggi TNI, terlena menghabiskan waktu terjun ke urusan politik: jadi Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota dan juga masuk ke legislatif.

Doktrin tidak adanya ancaman potensial dari negara lain, terus dibangun dan dipelihara hingga tahun 2000.

Efek Bola Salju
Efek doktrin tersebut, menjalar ke pemilihan alusista. Indonesia hanya membeli light tank/ recognaisance Scorpion Inggris yang canonnya dipasang secara paksa di Belgia. Kapal-kapal perang tua didatangkan dari Belanda dan Jerman. Pesawat tempur tua dan bekas didatangkan dari Israel.

Roket TNI 1960


Proyek peluru kendali Kartika yang telah dirintis: TNI AD, Uni Soviet, Lapan dan ITB, terbengkalai. Padahal ahli ahli roket Uni Soviet siang dan malam bekerja di tempat ujicoba roket Pameungpeuk Garut, untuk membangun Kartika I.

Semua merasa nyaman dengan peralatan tempur seadanya. Indonesia tidak memiliki ancaman potensial. Isu yang selalu didengung-dengungkan.

TNI AU hanya diberi pesawat latih/ serbaguna Hawk 100/200. Paling modern adalah F 16, tapi kelas paling bawah Blok 15.

KRI Irian Menakjubkan


Coba bandingkan dengan peralatan tempur TNI tahun 1960-an. Semuanya kekuatan pemukul nomer satu. Kapal penjelajah (cruiser) KRI Irian, kapal Destroyer klas ‘Skory’, fregat klas ‘Riga’, Kapal selam klas ‘Whisky’, kapal tempur cepat berpeluru kendali klas ‘Komar’, pesawat pembom jarak jauh Ilyushin IL-28, Tank Amfibi PT-76, MiG-17, MiG-19, MiG-21, Pembom Strategis Tupolev Tu-16, dan pemburu Lavochkin La-11.

Perhatikan Salvo Meriam Besar KRI Irian


Saat itu, hanya empat negara di dunia ini yang memiliki pembom strategis, yang bisa terbang sangat jauh, yakni: AS, Uni Soviet, Inggris dan Indonesia.

24 Pembom Strategis Tupolev Tu-16 Indonesia, sangat ditakuti Australia dan negara Asia lainnya, karena sudah tentu mereka tidak bisa melakukan pembalasan.

Mundur Jauh
Kalkulasi TNI tentang ancaman dari luar negeri ternyata meleset. Pada tahun 2003 Malaysia mengklaim Ambalat sebagai wilayah mereka dan siap mempertahankannya dengan kekuatan senjata. Di saat itulah Indonesia mulai tersadar dari tidurnya yang panjang. Indonesia mulai dari nol besar, membenahi alusistanya.

Sekarang kita lihat apa yang terjadi dengan India, setelah tahun 2000.

India telah memiliki Arsenal Nuklir. Mereka mulai merakit pesawat Sukhoi, serta rudal Brahmos (yakhont versi Rusia). India segera merampungkan pembangunan kapal selam nuklir buatan dalam negeri, INS Arihan.

Kapal Selam Nuklir India


Semua teknologi mereka dapat berkat kedekatan dengan militer Rusia yang terus mereka pelihara. Hal ini terjadi karena India berhasil membangun visi militer jangka panjang. Bahkan saat ini Rusia menyewakan satu kapal selam nuklir untuk India, sambil menunggu rampungnya INS Arihan.

India yang miskin kesulitan saat hendak membangun senjata nuklir. “Dari mana uangnya ?”, tutur pejabat pemerintah India. Rakyat menjawab: “Kalau perlu kami makan rumput, agar memiliki nuklir”.

India memiliki militer yang kuat, karena membangun doktrin, negara mereka tidak aman dari serangan musuh. Begitu pula dengan Korea Utara dan Korea Selatan. Mereka membangun prinsip militer yang sama.

Tahun 1960-an, di saat Indonesia memiliki armada perang yang demikian hebat, militer memiliki kekuatan yang lemah terhadap gangguan politik. Di saat bersamaan, agen agen CIA bertambah banyak, karena mereka tidak mau Indonesia menjadi kekuatan yang membahayakan bagi sekutu AS: Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura.

Presiden Soekarno berhasil digoyang dan jatuh. Tentu dengan bantuan para agen CIA. Proyek pengerdilan (bonsai) militer Indonesia dimulai pada tahun 1970.

Saat itu TNI AU harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-bird dari AS. Anehnya Indonesia bersedia mematuhi peraturan konyol tersebut. “Mobil ditukar sepeda onthel”, istilah orang saat itu. Tentu ada yang didapatkan penguasa baru saat itu, sehingga dia mau melakukan program konyol.

TU-16 AURI


Kapal penjelajah KRI Irian dibiarkan terbengkalai dan berkarat. Demikian juga proyek Rudal Kartika, tutup buku.

Operasi CIA untuk membonsai Indonesia berhasil. Sementara negara negara sekitar, seperti Malaysia, Singapura dan Australia, secara bertahap meningkatkan kemampuan militer.

TNI Kini
Kini, gebrakan Departemen Pertahanan untuk membangun kembali Alusista dalam negeri patut diacungi jempol. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, sangat agresif dan berhasil. Semua pembelian alusista dalam jumlah besar, harus disertai transfer teknologi. Industri militer dalam negeri juga diberi kesempatan untuk berkembang seluas luasnya.

Hal itu terjadi semasa pemerintahan Presiden SBY. Yang menjadi masalah adalah, ketika SBY diganti oleh Presiden baru, akankah percepatan pembangunan alusista TNI terus berjalan ?.

Kekhawatiran ini hanya bisa diatasi apabila TNI mampu membangun visi militer yang jelas dan memiliki kemandirian yang kuat.

TNI telah memiliki pengalaman buruk selama 30 tahun. Semoga mereka tidak mudah dipermainkan petualangan politik penguasa, pasca Presiden SBY nanti. Perwira perwira muda TNI harus berani mengambil porsi yang lebih besar dalam mendisain postur TNI yang handal.(Jkgr).

  21 Responses to “TNI Pasca Presiden SBY”

  1. pejabat negara sibuk berpolitik, keamanan negara terbengkalai..
    SAVE TNI AND INDONESIA!!!…

    • Suharto emang G0b**G…. Dah gitu ada yg pengen bangkitin dr kubur..

    • wah 2012…yh gak kebayang di tahun 2016 seperti ini
      Dalam catatan detikcom, Selasa (27/12/2016), vonis terbesar dalam kasus korupsi tahun ini dijatuhkan kepada Brigjen Teddy Hernayedi, yaitu penjara seumur hidup, pada November lalu. Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta menyatakan Brigjen Teddy terbukti korupsi anggaran alutsista TNI 2010-2014. Seperti pembelian pesawat tempur F-16 dan helikopter Apache.

      Uang yang dikorupsi Teddy digunakan untuk berfoya-foya dengan perusahaan rekanan Mabes TNI, Kemenhan, dan perusahaan kerabatnya. Uang tersebut juga digunakan Teddy untuk investasi valas.

      Selain itu, sejumlah aset Brigjen Teddy juga dirampas, yaitu:

      1. Mobil Toyota Prado
      2. Mobil Toyota Camry
      3. Dua buah jetsky Yamaha
      4. Motor Ducati Monster
      5. Sepeda motor Honda CBR 250 cc
      6. Satu bidang tanah di Kebon Sirih, Menteng
      7. Satu bidang town house di Pasir Kaliki, Bandung
      8. Satu bidang tanah seluas 8.000 meter persegi di Soreang
      9. Uang USD 74.400 pengembalian pinjaman
      10. Uang Rp 1 miliar
      11. Angsuran pengembalian Rp 5 miliar
      12. Angsuran pengembalian PT Emas

  2. Dan sibuk ber-foya2.

    Anggaran perjalanan dinas 2012 Rp 21T atau US$ 2,3M! (Kalau dihemat setengahnya bisa dapat berapa Kilo / Typhoon setahun? Gak perlu state credit Rusia, bayar lunas, kagak pake ngutang!)

    Pasti ada kebutuhan perjalanan yang riil, tapi banyak yang sekedar pelesir.

    Contoh, belasan pegawai Pemda suatu pulau di Selat Malaka perlu training akuntansi. Logika waras tentunya 1-2 trainer (domisili JKT) terbang ke pulau tersebut, yang terjadi belasan pegawai tsb plus trainer terbang ke Bali dan training di sana. Idem dari provinsi Timur, training di Jawa dst. dst…!.

    Gimana gak ancur ni negara!

    • He he he, soalnya pejabat kita hobinya traveling gan, ntu sih nggak seberapa dibanding travelingnya anggota d’hewan kita yang terhormat, soalnya amanat rakyat katanya..

    • DAN SEMUANYA TINGGAL SEJARAH……

      SANGAT SULIT MENGEMBALIKAN KEJAYAAN WAKTU DULU……

      APALAGI NEGARA2 KAWASAN JG TDK TINGGAL DIAM DAN MEMBANGUN KEKUATAN MRK.

      MASALAH UTAMA KITA BIROKRASI KLO SUDAH YG NAMANYA PULUS MATA HATI JADI PUPUS

      PULUS UNTUK ALUTSISTA BOCOR KEKANTONG PARA PETINGGI AKHIRNYA KITA BELI BEKAS AGAR TARGET KUANTITAS TETAP TERPENUHI. FAKTA !!!! …………….

  3. Ane pernah baca di formil indo katanya maintenant sukro mahal ngabisin anggaran pemeliharaan, tu bener pa gak gan.. Padahal ane naksir berat tuh sama su35, tapi klo beneran mahal perawatannya plus sering dimainin sama mbah roso si bakul sukro spt kejadiannya indihe trus gimana gan.. mohon penjelasannya..

    • MahaL dibandingkan dgn jenis pesawat apaa? Kalau dibandingkan F16 dann Hawk yaa pastii lebih mahal karena sukhoi jet tempur kelas berat dengan 2 mesin Besar daya jelajah jauh dan bawaannya besar..
      Dann Sukhoi pastinya lebih murah biaya maintenacenya daripada mirage produk perancis..
      Indonesia sudahh lama tdk mempunyai jet tempur kelas berat dann terbiasa dengann anggaran jet tempur ringan yangg pasti murah,,
      Untukk sukhoi yang memakai 2 mesin besar sudahh pasti lebih mahal dibandingkan dgn F16 dan hawk yg mesinnya cuma satu..padahal tuk keperluan Jet Tempur Utama petarung kita memerrlukan sejenis sukhoi yg bisa menjelajah nusantara yg luas inii..tuk patroli bolehlah jet tempur ringan..
      Kalau kita belumm mempunyai banyak armada sukhoi dan belinya masih ketengan..sparepart memang terasa mahal tapi bila kita mempunyai banyakk pastinya harganyaa lebih murah karena PT DI bisa ikut membuat dan ikut memantainace pswt sukhoi..
      India vietnam malah dipermudah pengadaan spaarepart dan maintenance krn mereka mempunyai arma yang besar..
      Yang terpenting sukhoi daya deterent( penggentarannya) tinggi dan tidak mudah dipatahkan teknologinya dan dijaming oleh amerika dan sekutunya yang mengurung indonesia dgn pangkalan pangkalannya.. Dann itu menjadikan Indonesaia disegani diregion seperti era 60 an..yang sekarangg dipegang oleh india sbg militer terkuat di bumi bagian selatan..
      Salam

      • Thanks gan penjelasannya, ane juga mikir gitu. Mungkin sekarang tni lagi mikir masalah kuantitas dulu dibanding kualitas, makanya diambil tuh hibah, dengan asumsi f16 sebagai workhorse untuk patroli karena costnya ringan. Nggak tau klo renstra 2 nanti jadi beli su35, soalnya ngenes juga klo tetangga selataan kita jadi beli f35, njomplang banget gitu gan. Klo boleh tanya keistimewaan su35 dibanding su27/30mk tu apa ya gan, soalnya ane buta klo masalah aspek teknis..

        • Pada pertengahan dasawarsa 2000-an, Sukhoi menghidupkan kembali konsep Su-35 dan mulai memodernisasinya dengan teknologi terbaru, dengan peninjauan untuk mengganti barisan pesawat tempur Su-27 yang relatif tua di dalam Angkatan Udara Rusia. Su-35 yang dimodernisasi akan menjadi desain antara hingga Sukhoi PAK FA generasi kelima dapat digunakan.Su-35 yang dimodernisasi disebut “Su-35BM” (Bolshaya Modernizatsiya – Modernisasi Besar) oleh beberapa sumber tetapi Sukhoi menyebut pesawat ini hanya sebagai “Su-35”. Su-35 yang dimodernisasi ini dianggap sebagai generasi 4++ oleh Sukhoi.

          Fitur-fitur baru pesawat ini di antaranya badan pesawat yang diperkuat menggunakan bahan-bahan komposit, penanda radar yang diperkecil dari depan,[17] dan sebuah radar PESA yang diperbarui. Pesawat ini diperlengkapi oleh banyak perbaruan pada sistem kelistrikan dan avioniknya, termasuk fly-by-wire digital dan sebuah radar untuk mendeteksi sinyal dari belakang untuk menembakkan peluru kendali SARH. Su-35 yang baru tidak lagi memasang kanard dan rem udara; untuk menjaga kemampuan manuver supaya tetap sama atau lebih besar daripada pesawat-pesawat yang diperlengkapi kanard, Su-35 menggunakan mesin 117S yang baru dengan pipa-pipa vektor pendorong yang selalu berputar.

      • bung satrio mengutip berita yg dulu , Biaya operasional juga menjadi penilaian. Dan seperti kita ketahui, Su-35BM cukup mahal biaya operasionalnya, yaitu sekitar 400 juta rupiah/jam. Sementara Gripen E/F selalu menjual jargon termurah biaya operasional dengan angka 47 juta rupiah/jam. F-16 blok 60 sendiri biaya operasionalnya 170 juta rupiah/jam. Akan tetapi, bukan berarti lantas Gripen E/F melenggang begitu saja. Dari sisi Commonality/ penyederhanaan jenis tentu F-16 blok 60 dan Su-35BM pegang kartu.

        Tapi saya sangat setuju dengan pendapat , klo kita harus akusisi SU-35, krn daya deterent( penggentarannya) tinggi, biaya operasional tdk mjd masalah, ibaratnya SU-35 itu petarung kelas berat jadi keluar kandang klo sudah ketemu lawan sepadan.
        Klo untuk peronda kita khan sdh punya banyak seperti F-16 CD 52ID, atau TA-50i kita juga bisa.
        Sebenarnya kita untuk MEF 2 ini cukup ambil dulu 1 skuadron heavy fighter sambil mempelajari tehnologinya dan menunggu perkembangan si pakfa. Di luar medium fighter.
        Cuma sayang perkembangan terakhir, ada khabar klo si sukoi ini di pending dulu , ada desakan masuk fighter yg lain….

  4. oh ini yang di wiki ya gan, klo boleh tau radar aesanya punya jangkauan berapa km ya gan dibanding su27? trus menurut agan prospeknya sukro ini menghadapi f35 gimana gitu (maksud ane kelemahan dan keunggulannya gan)..

  5. Dg kepemimpinan Pres SBY TNI mulai tertata, tdk spt jaman nya orde baru TNI dirusak as/british utk disamakan dg malaysia, singapura dan sekarang TNI kita tertinggal setelah reformasi 1998. Utk menutup kepemimpinan bapak SBY apa salahnya kalau meninggalkan satu Yaitu satuan skadron pesawat sukhoi – 35 BM, agar bapak dpt melihat kepemimpinan TNI dr sebelum reformasi dan memberikan semangat setelah reformasi kpd generasi muda utk bela negara. Salam……

  6. Test

  7. jadi rakyat ya bung Satrio yang menentukan he he he. Mari para warjager …. kita harus lebih pintar dari Murika

  8. Namun maaf, saya kira dalam hal ini kita tak bisa menyalahkan seluruhnya pada penguasa Orde Baru saja yaitu Soeharto. Sebagai Panglima ABRI, Moerdani bisa dibilang sebagai orang paling kuat kedua secara de facto baik dalam aspek sosial, politik di Republik Indonesia saat itu, setelah Soeharto, apalagi dalam hal kebijakan MIliter. Atas pesanan IGGI, di mana harus ada orang Katholik dalam jajaran Kabinet waktu itu, maka pada bulan Januari 1974 dan dalam waktu seminggu setelah Peristiwa Malari, Presiden Soeharto segera memberi posisi pada Leonardus Benyamin Moerdani, atau L.B. Moerdani yang membuatnya memiliki banyak kekuasaan dalam bidang militer yang sebelummya berkarir sebagai Korp Diplomatik, Dubes di Korea Selatan, Moerdani menjadi Asisten Intelijen Menteri Pertahanan dan Keamanan, Asisten Intelijen Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), Kepala Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat), dan Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).[12] Latar belakang Moerdani yang Katolik mencuat ke permukaan pada tahun 1984 ketika bersama-sama dengan Panglima Kodam V/Jaya, Try Sutrisno, memerintahkan untuk menggunakan tindakan keras terhadap demonstran Islam di Tanjung Priok, Jakarta yang mengakibatkan banyaknya jatuh korban jiwa.

  9. lama-lama cuman gara2 alutsista barat-timur rakyat pecah pendapat…pro-barat sama pro rusia, trus berlanjut deh ke dunia politik….yang jadi pertanyaan saya apa ya efek jangka panjang bila kita pro ke salah satu blok….semoga ada yang jawab pertanyaan saya…he..he

  10. Makasih pencerahan nya bang. Artikel ini sangat berguna, untuk menyadarkan kita semua.

  11. Piye ajor to..jamanku?

  12. “Kalau perlu kami makan rumput, agar memiliki nuklir”. ini kata – kata pakistan bukan india

  13. Email nyangkutt

 Leave a Reply