Sep 082017
 

Presiden Direktur AirAsia Group Tony Fernandes (wikipedia)

Manila – Pendiri dan Presiden Direktur AirAsia Group Tony Fernandes mendorong terciptanya bandara berbiaya rendah (low cost airport), misalnya di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, untuk mendukung pertumbuhan penumpang yang tinggi.

Tony Fernandes dalam wawancara setelah penghargaan ASEAN Business Awards 2017 pada 6-9-2017 di Solaire Pasay City, Manila, Filipina mengatakan Jakarta masih butuh dua tambahan bandara untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas penerbangan dan penumpang ibu kota.

“Jakarta punya 2, termasuk Halim tetapikan Halim juga melayani jet pribadi dan perjalanan Presiden. London saja punya 4 bandara. Jakarta bisa dengan mudah punya 4 bandara juga. Soekarno Hatta sekarang terus dikembangkan dengan teknologi baru, tapi saya melihat perlu dibangun bandara berbiaya rendah di Pondok Cabe, misalnya,” ujar Tony Fernandes.

Tony Fernandes mendorong wirausaha untuk mengambilalih pengelolaan bandara atau bandara swasta dan menjadikannya bandara berbiaya rendah. Selain mendukung bandara lain di Jakarta, keberadaan bandara berbiaya rendah dinilai akan mendorong pengembangan industri penerbangan hingga pariwisata.

“Kami mendorong wirausaha untuk bisa mengkelola bandara dan kami yakinkan, sewaktu mengkelola bandara tersebut, kami ada di sana untuk mendukung ‘traffic’ penerbangan,” ujar Tony.

Menurut Tony, ide tersebut sudah dia ungkapkan kepada sejumlah pemerintah di kawasan Asia Tenggara. Tony menilai sudah waktunya pemerintah di kawasan menggunakan momentum perkembangan ASEAN untuk menyokong bisnis sampai pariwisata.

Keberadaan bandara dan terminal berbiaya rendah dinilainya dapat mendorong pariwisata karena ASEAN memberikan keuntungan dalam bisnis tersebut.

“Tujuan saya dalam 5 tahun ke depan adalah agar Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina mempunyai terminal dan bandara berbiaya rendah, dan saya yakin itu akan sangat mendorong pariwisata,” kata Tony Fernandes.

Tony mengatakan pasar ASEAN sangat menjanjikan sekarang ini sehingga banyak pihak menggunakannya untuk mengembangkan usaha.

“Bagi saya ini waktunya pemerintah untuk melepaskan sejumlah bandara dan biarkan para ‘entrepreneur’ itu melaksanakannya. Sudah ada perusahaan telepon swasta.  Saya rasa, bandara pun bisa menjadi fasilitas terakhir yang diprivatisasi,” ungkap Tony Fernandes .

Pengoperasian Bandara Pondok Cabe sebetulnya telah direncanakan sejak lama melalui usulan dari PT Garuda Indonesia, Tbk yang menyatakan siap menambah armada pesawat di bandara tersebut. Sayangnya realisasi rencana itu belum terlihat, Bandara Pondok Cabe sekarang ini masih beroperasi secara nonkomersial baik untuk penerbangan sipil maupun militer.

Untuk menjadi bandara komersial, perlu pengaturan yang lebih rinci untuk menjamin keamanan dan keselamatan penerbangan dari dan menuju bandara, sebab jalur penerbangan dari Pondok Cabe dan dari Halim Perdana Kusuma sama,  sehingga mempunyai risiko keselamatan tinggi. (Antara).

  12 Responses to “Tony Fernandes : Jakarta Masih Butuh 2 Bandara Tambahan”

  1. Butuh 10 kalo bisa …tanggung ..!!

  2. klo perkara butuh, ya mustinya tiap kabupaten di indonesia harusnya miliki bandara international…ga cuma butuh 2 atau 3 lg, tp puluhan, melihat luasnya indonesia dgn alam indah yg membentang, begitu kuat menarik wisatawan tuk datang dan datang lg…

  3. susah pembebasan lahan nya ….

  4. DA TERLALU BANYAK AIRPORT, CENGKARENG 3 TERMINAL, LAGI AIRPORT HALIM MILIK TNI AU PUN DI KOMERSIALKAN, KARTJATI INTERNASIONAL AIRPORT MAJALENGKA NANTI ORANG DARI CIREBON,,INDRAMAYU,BANDUNG,TASIK. GARUT GAK USAH KE JAKARTA.

  5. itu fungsi( militer al )masa mo di ambil alih swasta ecek2 macam air asia

  6. Bentar lagi ibu kota juga mau pindah..ngapin bikin lagi

  7. d bikin di bogor/skbumi az

  8. terminal dan bandara berbiaya rendah = keselamatan dan kenyamanan rendah ??? ..
    dia bicara tanpa satupun tentang keselamatan dan keamanan…
    yg ada adalah” biaya rendah”..IMHO

 Leave a Reply