May 102012
 

Entah apa sebabnya pilot Sukhoi Superjet 100 Alexander Yablontsev mengontak menara kontrol, untuk menurunkan pesawat dari 10.000 ke 6000 feet, saat melintas di Gunung Salak, Sukabumi Jawa Barat. Padahal puncak Gunung Salak melebihi 6000 feet. Komunikasi pun terputus setelah itu.

Sehari kemudian diketahui pesawat Sukhoi itu menabrak tebing gunung di ketinggian 5200 feet. Dari ketinggian lokasi ini diketahui, Sukhoi keluar dari lintasan yang seharusnya di 6000 feet. Mengapa ?

Jika pesawat mendekati tebing atau puncak gunung, alat bernama ground proximity warning systems seharusnya berbunyi untuk mengingatkan kru pesawat. Alat itu memberi waktu cukup bagi kru pesawat Sukhoi, untuk menhindari segala jenis tabrakan.

Namun kenyataannya, Sukhoi yang dipacu dengan kecepatan 600- 700 km/jam hancur berkeping keping karena beradu dengan tebing yang nyaris berdiri tegak lurus atau 85 derajat dari permukaan tanah.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa pilot Alexander Yablontsev menurunkan ketinggian ke 1820 meter, padahal tinggi Gunung Salak mencapai 2200 meter.

Sebelum melakukan joy flight/ display flight kedua, Pilot Alexander Yablontsev telah mempelajari peta penerbangan Jakarta- Pelabuhan Ratu.

Yang lebih aneh lagi, mengapa sang pilot mengambil rute yang rumit saat melakukan joy flight/display flight.

Display Flight
Ada beberapa kemungkinan penyebab kecelakaan pesawat berpenumpang 50 orang tersebut.

Bisa jadi, pesawat mengalami microburst atau heavy cross wind di lereng Gunung Salak, sehingga terhempas ke 5200 feet (dari 6000 feet).

Microbust adalah tiupan angin kencang secara vertikal, yang bisa membuat pesawat terdorong ke bawah secara drastis, sekitar 100 – 600 feet. Jika terbang di ketinggian 7000 atau 10.000 feet, gangguan cuaca itu (microburst) mungkin bisa diatasi.

Kemungkinan lainnya adalah kerusakan mesin. Tapi sebelum terjadi tabrakan, pilot tidak mengeluhkan apapun tentang pesawat yang dikemudikannya.

Pilot Alexander Yablontsev memang belum mengenal tekstur (terrain) Gunung Salak. Namun menurut pihak Sukhoi, pesawat mereka sangat modern, sehingga masalah visual tidak menjadi persoalan. “It is equipped with all the latest aviation equipment”, ujar kru Sukhoi Rusia.

Dugaan paling kuat dari penyebab kecelakaan pesawat ini adalah sang pilot sedang melakukan demonstrasi pesawat.

Dalam sebuah penerbangan joy flight/ display flight, seringkali pilot mempertontonkan kemampuan dan akselerasi pesawat, hingga kebatas maksimal. Terkadang pilot juga menggoda penumpang dengan menerbangkan pesawat mendekati tekstur alam (Gunung Salak).

Pilot melakukan berbagai manuver untuk membuktikan bahwa pesawatnya handal dan layak dibeli oleh para penumpang yang sebagian besar, calon pembeli.

Dugaan ini semakin kuat karena saat pilot minta turun ke 6000 feet, tanpa memberi alasan ke menara kontrol. Bisa jadi Alexander Yablontsev memang sedang mendemonstrasikan kemampuan pesawatnya.

Terlebih lagi, rute Jakarta – Pelabuhan Ratu melewati Gunung Salak, dipilih sendiri oleh Pilot Rusia tersebut. Penerbangan komersial Indonesia saat ini, tidak menggunakan rute yang melewati Gunung Salak.

Masih ada pertanyaan yang mengganjal. Emergency Locator Transmitters (ELT) di pesawat Sukhoi Superjet 100 tidak mengirimkan sinyal, saat pesawat mengalami kecelakaan. Padahal seluruh pesawat komersil harus memiliki ELT untuk memberitahu lokasi pesawat bila mengalami kecelakaan.

Jika ELT tidak berfungsi, bisa jadi memang ada sistem yang error di pesawat baru Rusia tersebut. Superjet 100 yang jatuh di Indonesia merupakan bagian dari Asian Roadshow, tur promosi di enam negara Asia.

Sukhoi Superjet 100 merupakan pesawat penumpang pertama yang dikembangkan Rusia, pasca bubarnya Uni Soviet. Pesawat ini mengudara tahun 2011, untuk menggantikan Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42 yang sudah tua dan sering mengalami kecelakaan.

Di Indonesia, pesawat ini telah dipesan oleh Kartika Airlines dan Sky Aviation,masig-masingk 15 unit

Kini, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev membentuk komisi khusus, untuk menyelidiki penyebab kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Indonesia.(Jkgr).

  4 Responses to “Tragedi Sukhoi Superjet 100”

  1.  

    Silent Reader, anak baru….numpang nyimak dipojokan ya gan.

  2.  

    Wah masih sepi 😀

  3.  

    gagal pertamax

 Leave a Reply