Sep 112018
 

Jet tempur Rafale di Jakarta, 21/8/2018. © Jakartagreater.com

JakartaGreater.com – Kru Angkatan Udara India (IAF) yang beranggotakan enam orang sedang dalam perjalanan ke Prancis untuk training jet tempur Rafale, soal kesepakatan kontroversial senilai lebih dari US $ 8 miliar ditengah situasi politik yang tidak kunjung mereda di negara itu, seperti dilansir dari laman Hindustan Times.

Seorang pilot, seorang insinyur dan empat teknisi membentuk kru pertama yang dipilih secara langsung yang akan mengikuti training jet Rafale dan pada saat yang sama, IAF mempersiapkan landasan untuk menginduksi pesawat baru mulai September 2019. Para kru yang berangkat ke Prancis pada hari Minggu, akan dilatih di pangkalan udara Saint-Dizier di Prancis timur.

“IAF akan mengirimkan lebih banyak pilot dan teknisi ke Prancis untuk training Rafale dalam beberapa bulan mendatang secara bertahap. Akan menjadi tanggung jawab kru ini untuk menerbangkan jet ke India”, kata salah seorang pejabat yang dikutip di atas. Rafale akan menjadi jet tempur impor pertama yang dilantik ke IAF dalam 22 tahun sejak jet tempur Su-30 Rusia. Su-30 pertama memasuki layanan IAF pada bulan Juni 1997.

India dan Perancis menandatangani kesepakatan untuk pengadaan 2 skuadron Rafale (36 pesawat) pada bulan September 2016, sebagai pembelian darurat untuk menahan laju penurunan yang mengkhawatirkan dalam kemampuan IAF.

Total 36 unit pesawat tempur akan tiba pada September 2022, sebuah langkah kecil di jalan panjang menuju membangun angkatan udara yang lebih kuat. Jumlah skuadron tempur IAF telah berkurang menjadi 31 dibandingkan dengan kekuatan optimal 42+ skuadron.

Konfigurasi khusus Rafale yang dirancang untuk IAF termasuk helmet-mounted sight, penerima peringatan radar, perekam data penerbangan berkapasitas 10 jam, pencarian dan pelacak infra-merah (IRST), jammer, kemampuan cold-start untuk beroperasi dari pangkalan dipegunungan dan towed decoy (umpan derek) untuk memikat rudal masuk.

Para pejuang Rafale itu akan dilengkapi dengan rudal BVR Meteor yang dibangun oleh perusahaan pertahanan Eropa, MBDA Missile System. Fitur no escape zone digembar-gemborkan tiga kali lebih besar daripada rudal udara-ke-udara jarak menengah yang ada saat ini.

Sementara itu koalisi partai sayap kiri India, United Progressive Alliance (UPA) telah menuduh bahwa pemerintah India membayar US $ 48 juta lebih mahal untuk setiap jet daripada pelanggan Rafale lainnya, namun pemerintah India menegaskan bahwa harga dasar pesawat itu 20% lebih murah.

Berbagi

 Leave a Reply