Jan 202015
 

transfer teknologi

Assalamualaikum, warohmatullahiwabarokatuhu
Patokan penilaian kita pada diskusi hari ini adalah belajar dari pengalaman

Pengalaman Pertama
Teman, ingatkah ketika kita duduk di sekolah dasar dahulu, kita diminta membawa potongan-potongan lidi (batang pada daun kelapa) guna membantu kita dalam pelajaran berhitung. Lama kelamaan, perlahan-lahan, guru-guru kita menanamkan kemampuan ‘mencongak’ pada kepala kita.

Berkat kegigihan dan kesabaran guru-guru kita, kita mahir menghitung cepat dan mempergunakan ilmu berhitung itu dalam kehidupan keseharian kita.

Di masa kecil kita, saat jajan di warung, kita bisa dengan tepat menghitung berapa uang yang akan dibayarkan kepada pemilik warung dan berapa ‘sosok’ (sosok = uang kembalian, jambi) yang kita terima dari pemilik warung.

Nah, proses pengajaran berhitung tersebut juga merupakan proses ‘transfer of technology, tot’.

Kemampuan kita mempergunakan ilmu itu pada berbagai aplikasi dalam kehidupan kita merupakan manfaat dari transfer teknologi itu

Pengalaman Kedua
Teman, masih ingatkah dahulu ketika mengerjakan prakarya tertentu, guru-guru kita mempertontonkan kepada sebentuk prakarya yang sudah jadi.

Guru-guru kita kemudian menjabarkan bahan-bahan apa saja yang diperlukan guna membentuk prakarya itu dan alat-alat apa saja yang akan dipergunakan.

Di hari yang ditentukan, kita kemudian mengamati secara beramai-ramai, guru kita mempraktekkan proses pengerjaan prakarya tadi, dan tidak berhenti sebatas itu, kita pun diminta membuat benda yang serupa, mengerjakan sendiri tugas kita dibawah pengawasan penuh beliau.

Pengalaman masa lalu kita merupakan bukti sederhana proses transfer teknologi dengan metode ‘learning by seeing’, belajar dengan mengamati diikuti dengan proses ‘learning by doing’, belajar dengan mempraktekkan

Pengalaman Ketiga
Guru keterampilan saya, dahulu pernah memperlihatkan sebentuk rumah adat minangkabau yang terbuat dari triplek. Rumah itu dapat dibongkar, karena tiap dinding melekat berkat celah yang terdapat pada pinggiran tiap sisi. Sisi depan dan belakang dari rumah triplek tersebut dapat menyatu sempurna dengan bagian sisi kanan dan kiri berkat celah yang ada.

Silahkan google dengan kata pandu – kerajinan dari tripleks
Bahan yang diperlukan adalah potongan-potongan triplek (diutamakan yang bekas atau sisa potongan), amplas kayu serta alat yang dipergunakan adalah gergaji triplek.

Masih melekat di ingatan saya, bahwa kemudian kami ditugaskan untuk membuat benda lain dengan mempergunakan metode konstruksi yang sama. Pilihannya bebas, terserah tiap siswa. Saya memutuskan membuat sebuah gerobak kayu yang ditarik oleh seekor sapi. Tidak sempurna, tapi untuk ukuran anak kelas 4 SD, cukupanlah. Hasil kerja saya ditampilkan pada pameran pembangunan propinsi… hehehe.
Teman, proses pembelajaran yang diterapkan pada saya adalah metode ‘reverseengineering’, metode rekayasa balik atau rekayasa mundur

Alhamdulilllah
Alhamdulillah, berkat guru saya, saya tidak perlu repot-repot membawa kalkulator setiap kali saya ingin berbelanja di warung atau membayar biaya parkir

Alhamdullah, berkat metode ‘learning by seeing’ saya bisa langsung menemukan solusi tiap kali saya menemukan masalah dalam pengerjaan tugas saya, karena guru saya selalu menemani saya dalam proses pengerjaan dari awal hingga tahap akhir.

Alhamdulillah, berkat metode ‘reverseengineering’ saya bisa mengembangkan imajinasi saya, menciptakan bentuk-bentuk bangunan lain melalui metode konstruksi yang sama bahkan dengan metode yang saya anggap lebih baik dan lebih tepat.

Semua berkat guru saya, semoga Allah memudahkan urusan mereka dimanapun mereka berada

Penutup
Teman, saya rasa tidaklah perlu saya jelaskan panjang lebar betapa pentingnya proses transfer teknologi bagi kita sebagai individu atau bahkan bagi negara dalam aspek pertahanan.

Saya yakin, guru-guru kita telah menanamkan dalam benak-benak kita, kearifan untuk memahami sesuatu yang tersirat dari yang tersurat, dalam bahasa minang istilahnya ‘to readbetween the lines’.

Atau apakah anda termasuk golongan orang-orang yang berpendapat bahwa transfer teknologi ilmu berhitung merupakan ilmu yang sudah kadaluwarsa dan tidak perlu dipelajari lagi… saya angkat tangan jika anda tetap pada pendirian anda… hidup anda, terserah anda teman.

* Salam hangat dari JKGR Biro Jambi. Afiq0110

  49 Responses to “Transfer Teknologi, Proses Tunjuk dan Ajar”

  1. PERTAMINA

    —————
    —ganti nama yang benar atau masuk spam —
    *Admin

  2. Pertamax

  3. mari majukan Indonesia sama” demi anak cucu kita

  4. TOT ……Tolong Om….Tolong

  5. Filosofi itu sederhana….manusianya yg bikin ribet….sebab di balik ribet itu terselip segepok rupiah… :mrgreen:

  6. analogi yg sederhana dan mudah sekali dipahami bung afiq.!
    janganlah bangga dengan apa yg bisa kita beli, tapi banggalah dg apa yg bisa kita ciptakan!
    berdikari adalah nilai deteren yg sesungguhnya

  7. @bung afiq0110,nice as usual.. Terimakasih banyak

  8. Alah biso karno tebiaso…salam tabik bung afiq….FIR..FIR..bagaimana kabarnyo FIR..?

  9. T O T rudal C-705 bagaimana perkembangan nya ???

  10. bahkan “teknologi perawatan” yang mungkin dianggap terlalu sederhana pun andai tidak kita kuasai akan menjadi masalah besar.

    apa beda van Speijk class dan Sverdlov class yang sama-sama pernah kita miliki? kedua kapal perang berasal dari masa yang hampir sama akan tetapi nasibnya berbeda karena masalah “transfer of maintenance technology”.

    karena kebutuhan mendesak (Trikora) kita membeli KRI Irian tanpa sempat melakukan tot perawatan kapal perang tersebut. bahkan operasional kapal perang tersebut sebagian masih dilakukan awak kapal dari Rusia. ketika situasi politik berubah dan Rusia mencabut dukungannya kepada Indonesia maka segera saja kapal perang yang konon memiliki efek penggentar tersebut menjadi besi tua.

    van Speijk yang berasal dari tahun 60-an nasibnya berbeda karena TNI mampu mengoperasionalkan dan merawatnya. bahkan mampu mengintegrasikan rudal jarak jauh ke dalam frigat tersebut.

    terlihat sekali perbedaan antara sekedar beli dan mampu merawat.

    cmiiw

    • setuju bung Xtrada… terima kasih untuk pengayaannya…

    • Jadi teringat waktu ngobrol dengan Kabaranahan soal pembelian KS Kilo yg gagal… Beliau mengatakan begini :

      “alutsista yg harganya bukan mahal tapi memang segitu. Butuh perawatan lebih, kita bisa beli tapi belum tentu bisa rawat.”
      http://jakartagreater.com/indonesia-tertarik-kapal-selam-amur-1650/

      Intinya butuh yg namanya “transfer of maintenance technology”. Kasus lain adalah Elang botak blok 15 atau Hawk 109/209 yg hingga sekarang masih bisa berjalan. Dibanding pesawat impian yg dibeli tahun 2000-an, yg batch pertama mangkrak sampai sekarang karena gak ada “transfer of maintenance technology” tersebut.

      • pesawat impian yg dibeli tahun 2000-an, apakah maksudnya su-27/30 kita bung Jalo

      • jiaaaaaah sukhoi batch pertama sudah modar toh, gimana nih jamaah rusia strong masak jet yang tergolong baru kalah sama si botak blok 15 yang lebih tuir…….. jangan2 nanti su-35 yang dibeli nasib nya sama

        jangan sampe deh ntar si botak masih bisa terbang sedangkan su-35 cuman jadi pemanis musium gara2 gk bisa maintenance……….

      • sangat mengejutkan!!!
        masih baru tetapi mangkrak
        fakta ini semakin menunjukkan bahwa tot itu teramat sangat penting.

        pembuat undang-undang yang mengamanatkan adanya tot dari setiap pembelian alutsista adalah orang-orang yang cerdas, belajar dari sejarah dan pengalaman dan berwawasan jauh ke depan.

        wajar jika kemudian TNI dan Dephan ngotot meminta tot. pada dasarnya mereka menjalankan amanat undang-undang.

        masalah maintenance erat kaitannya dengan manual dan dokumentasi. dalam hal ini blok barat memang lebih unggul.

        jangan-jangan batch pertama itu manual perawatannya masih dalam bahasa rusia dan memakai aksara cyrillic

      • infonya keren…

  11. Artikel yang mencerahkan… sangat bermanfaat.

    Masalah timbul saat kita membayar terlalu mahal mebuat rumah tripleks tanpa jaminan bisa membuat sampai taraf yang diinginkan.

    • Namanya belajar bung,…

      Aq dlu saat tugas kerajinan, aq menghabiskan dana yang tidak semestinya,,..
      Lbih besar 2 kali lipat,,…
      Tpi di tugas ke 2 aq bisa menghemat itu, karena belajar dari kesalahan dimasa lalu,,..

      CMIIW

      • Nah itulah yang saya maksud dengan “taraf yang diinginkan”. Ukuran mahal atau tidak tergantung kondisi yang ada dan kondisi yang ingin dicapai. Pasti pengin kan efektifitas dicapai se-efisien mungkin? IMHO

  12. Simple, langsung mengena,,..
    Namanya belajar ya jangan takut salah, dan jangan harap langsung bisa,,..

    Semua btuh proses, dari proses itulah kita akan belajar dari kesalahan kita,,..

    Lihat tuh Hindia, udah puluhan tahun mereka belajar baru kmaren kita lihat prototipenya,,..

    La kita masih baru mulai udah berharap bisa buat pesawat paling canggih,,..

    Mimpi boleh, tpi Mengerjakan itu yang perlu dilakukan,,…

    Ibaratnya, bagaimana kita bisa mmbuat pesawat klo buat scrup aja kita g’ bisa,,..

    Hargailah para pakar yang sedang berusaha belajar,,..
    Kita support 100% kpada mereka,…

  13. Tujuan Utama TOT

    KEMANDIRIAN BANGSA INI DALAM MENHADAPI TANGTANG DI MASA DEPAN

    NKRI JAYALAH SELALU

  14. nice artikel saya pon respect

  15. bung afiq@ , saya mendukung tulisannya dn comen yg di atas , mmg tuk mengejar ketinggalan teknologi cara yg cepat adalah transfer..

    – saya + dikit bg afiq@ –

    belajar = penyerapan ilmu melalui proses mengajar dn di ajar dn ini memakan waktu karna dr dasar

    transfer = memindahkan suatu brg atw ilmu dgn proses yg cepat .. karna proses yg cepat maka yg menerima musti menyiapkan kemampuan otak , alat dn prasarana lainnya .. dn org yg ditransfer siap jadi .. klu blum siap ya belajar jd nya .. klu belajar di sekolah bukan tmp kerja

    cth= pekerja bangunan akan mudah menerima transfer ilmu tukang bangunan
    nah klu bkn pekerja , dia belajar dulu apa siku , gergaji ,mete

  16. nah tu contohnya .. dipaksakan tranfer data byk dr hp berkapasitas kecil ..putus putus lagi bahkan bisa gagal ..

  17. sederhana dan teramat mudah dipahami. ini fakta nyata penuh makna, karna kita hidup memang untuk “belajar”

  18. mudah mudahan negara kita bisa mandiri membuat mesin ( bensin & solar ) itu saja, gak muluk muluk..

  19. So whatt your point Bung Afiq !! Kita udah mulai Tot PKR 10514dengan Londo ,tapi cuman di kasih proyek yang sedikit kandungan tehnologinya .Londo tetap yang bikin anjungan kapal.Ibarat manusia otaknya mereka yang bikin,karena disanalah seluruh system di integrasikan ,kita cuma kebagian kaki dan tangan.tot apayang kita dapat ,kita tetap dikibuli Londo dengan tat tet tot.Coba kita koreksi lagi Tot yang sedang jalan.Kita harus tiru China ,Iran ,Pakistan bagaimana mereka mengejar tehnologi.Iran dan pakistan secara ekonomi jauh di bawah kita tapi sangat maju dalam reverse engineering,tanpa tunjuk ajar seperti yang bung AFIQ paparkan.Cukup mereka dapatkan sampah barang rusak,syukur syukur masih baik tapi bisa mereka buat lagi sama dengan aslinya.

    • bung Komerat… artikel ini khususnya ditujukan kepada teman-teman yang menganggap membeli produk jadi yang ‘gahar’ lebih urgent ketimbang memilih produk ‘kurang gahar’ yang bisa disertai transfer teknologi

      ‘gahar’ tidak dinafikan, penting untuk efek gentar serta menambah rasa percaya diri pada personel dan masyarakat. untuk kepentingan jangka pendek… ‘gahar’ diperlukan

      tapi ‘gahar’ saja tanpa memperhatikan transfer teknologi akan mengakibatkan negara kita menjadi sekedar negara pembeli dan negara pemakai, tanpa bisa meningkat menjadi negara pencipta…

      dalam jangka panjang… ketidak pedulian akan pentingnya transfer teknologi akan mengekang kemandirian dan kemerdekaan itu sendiri.

      saya tidak bisa komentar banyak atas transfer teknologi pada PKR 10514 karena informasi yang saya dapat hanya mengandalkan berita dari media online… saya tidak memiliki sumber informasi detail terkait klausul kontrak, mengenai apa yang kita dapat atau yang tidak kita dapat… maaf… saya tidak bisa menjawab kegusaran anda… mudah-mudahan teman-teman yang lain bisa membantu kita berdua

      mengenai ‘reverse engineering’ saya amat setuju dengan anda… pak Habibie-pun sudah mempeloporinya lewat CN 235…

      tapi akan lebih lengkap dan lebih cepat proses transfer teknologi itu jika kita juga memakai semua metode yang memungkinkan… selama hasilnya bisa menunjang tercapainya teknologi dan produk yang diinginkan…

      ada teman-teman yang bisa membantu diskusi ini ?… silahkan bergabung…

  20. Apakah para warjager ada yg bisa kasih clue benar/tidaknya ada berita bahwa Rusia siap memberikan ToT dlm Kontraknya jika Pihak Indonesia membeli alutsista dri Rusia seperti yg diberitakan Oleh Janes.com
    http://www.janes.com/article/47952/russia-offers-indonesia-defence-offset-co-operation

  21. Mungkin kurang jauh berbeda kali dngn ibarat perumpamaan. Keluarga,A,B,C.”belajar buat kue lapis” A; ada lima anggota keluarga.ayah,ibu +3orang anak. B; ada empat angota keluarga,ayah,ibu+2anak.C;ada tujuh anggota keluarg,ayah,ibu+3anak+paman+nenek. Nah di keluaga A(keluarga mapan,suami kerja kantoran,+rumah besar+ peralatan dapur lengkap+moderen) keluarga B(keluarga paspasan+peralatan dapur sederhana karena si suami hanya buruh kontrusi bangunan) Keluarga C;(keluarga wira usaha dgn keseharian membuat kue lapis utk di jual kepasar.) di antara keluarga A& B (punya keinginan sama mau belajar cara membuat kue lapis) tapi punya maksud & tujuan berbeda.A pengin bisa bikin hanya untuk konsumsi keluarganya saja. Lalu B,pegin bisa bikin kue lapis lapis utk keluarganya&juga utk di jual buat tambah2 pemasukan pendapatan keluarga..nah kira2 dari cerita ini keluarga mana (A/B)yg punya pontensi sukses bikin kue lapis.trus si C(lebih perhatian/lebih iklas ke A/B memberikan ilmu &resep bumbu kue lapis nya?.) trus peluang ke depan gimana sikap keluarga C.terhadap A/B. trims.semoga bung jalo mau mengulasnya sedikit akan kaitannya ama TOT ini(TOT kue lapis xi.xi.xi….piss bung,agak geli kirim coment oon ini,) jgn di olok olok ya bung jalo….

  22. Mmmmm……mantap bung afiq0110……jdnpengen ngobrol atau kopi darat lo….xixixixixi…….

  23. Artikel di warjag sekarang beda ya. Panjang, tapi dr situ bisa dapat tambahan ilmu. Alur analisanya jg udh agk beda dr yg dulu. Banyak penulis ulung baru di warjag. Overall is ok.

 Leave a Reply