Sep 282018
 

ilustrasi: Jerusalem. (Andrew Shiva / Wikipedia)

PBB-New York, Jakartagreater.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Rabu, 26-9-2018 menginginkan penyelesaian dua-negara atas konflik Israel-Palestina.

Keinginan tersebut sejauh ini merupakan pernyataan dukungan paling jelas atas cara penyelesaian seperti itu, dirilis Antara. Pemerintahan Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS akan mendukung penyelesaian dua-negara jika kedua pihak menginginkannya.

Trump juga mengatakan dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dia ingin mengungkapkan suatu rencana perdamaian dalam 2 atau 3 bulan mendatang. “Saya suka penyelesaian dua-negara. Itulah yang menurut saya cara terbaik… Perasaan saya seperti itu,” kata Trump.

Netanyahu sebelumnya mengatakan bahwa negara Palestina pada masa yang akan datang harus dilucuti militernya dan harus mengakui Israel sebagai negara rakyat Yahudi. Palestina menganggap syarat yang diajukan Netanyahu menunjukkan bahwa perdana menteri Israel itu tidak tulus soal upaya mewujudkan perdamaian.

Sekutu-sekutu Arab dan AS adalah para pendukung kuat penyelesaian dua-negara. Trump mengatakan dalam acara jumpa pers di New York pada Rabu malam bahwa dia akan bersikap terbuka pada penyelesaian satu-negara jika kedua pihak memang menginginkannya.

“Kalau Israel dan Palestina ingin penyelesaian satu-negara, saya oke saja. Kalau mereka ingin 2 negara, saya oke saja. Saya senang kalau mereka senang.”  Trump mengatakan “adalah mimpi saya” untuk mewujudkan perjanjian sebelum masa jabatannya sebagai presiden AS berakhir pada 2021.

Netanyahu mengatakan, setelah pertemuan dengan Trump, bahwa ia “tidak terkejut” atas pilihan yang dinyatakan Presiden AS itu menyangkut penyelesaian dua-negara bagi perdamaian dengan Palestina, menurut laporan media Israel.

Yerusalem merupakan salah satu masalah utama dalam konflik Israel-Palestina. Kedua pihak menganggap Yerusalem sebagai ibu kota negara mereka. Pada Desember tahun lalu, Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan kemudian memindahkan kedutaan besar AS ke kota itu.

Menteri luar negeri Palestina Riyad al-Maliki mengatakan komitmen luas Trump atas penyelesaian dua-negara tidak cukup.

“Dia (Trump, red) harus menyebutkannya secara jelas… kedua negara (yang berdasarkan perbatasan 1967), bahwa Yerusalem di wilayah yang diduduki. (Masalah-masalah) ini sangat penting bagi kami untuk melangkah maju,”  kata Maliki di New York setelah bertemu dengan para perwakilan puluhan negara di sela-sela pertemuan tahunan para pemimpin dunia.

Palestina ingin mendirikan negara di Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur. Israel mencaplok wilayah-wilayah tersebut dalam perang Timur Tengah 1967 dan menduduki Yerusalem Timur, dalam langkah yang tidak diakui oleh dunia internasional. Israel menganggap Yerusalem sebagai ibu kotanya yang abadi dan tidak dapat dibagi-bagi.

Syarat Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu 26-9-2018 mengatakan ia menerima baik Pemerintah Otonomi Palestina tapi hanya jika Israel mempertahankan kendali keamanan atas wilayah semacam itu.

Pernyataan tersebut dikeluarkan selama penjelasan kepada wartawan Israel di PBB, setelah Netanyahu bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Selama pertemuan tersebut, Trump untuk pertama kali secara nyata mensahkan penyelesaian dua-negara bagi konflik Palestina-Israel.

Netanyahu mengatakan pengesahan Trump tidak menjadi “kejutan”, kata jejaring berita Israel, Ynet.

“Saya siap buat rakyat Palestina untuk memiliki kemampuan mempertahankan diri mereka tanpa kemampuan untuk mengancam kami,” kata Netanyahu, sebagaimana dikutip Xinhua, yang dipantau Antara pada Kamis pagi 27-9-2018 di Jakarta.

“Kecuali buat Jalur Gaza, kendali keamanan atas bagian barat Sungai Jordan sampai laut akan tetap berada di tangan kami. Itu tak bisa dirundingkan dan takkan berubah selama saya menjadi perdana menteri. Saya yakin bahwa setiap gagasan Amerika akan meliputi prinsip ini.”

Netanyahu mengatakan bahwa dalam pertemuannya dengan Trump, yang juga dihadiri oleh penasehat dan menantu laki-laki Trump, Jared Kushner, yang mengatakan bahwa, “Setiap orang menafsirkan istilah ‘negara’ secara berbeda.”  Netanyahu mengumandangkan pernyataannya, dan mengatakan, ” Saya menangani isinya, dan bukan penjelasan. Pertanyaannya ialah: Apa itu negara? Apakan itu Costa Rica atau Iran, ada banyak kemungkinan.”

Sebelumnya, Trump tidak menjelaskan sikapnya mengenai pilihan penyelesaian bagi konflik Palestina-Israel. Februari lalu, selama satu taklimat bersama Netanyahu, ia berkata, “Saya memandang dua-negara, dan satu-negara, dan saya menyukai pilihan yang disukai kedua pihak … Saya memikirkan untuk sejenak dua-negara kelihatannya mungkin lebih mudah buat keduanya. Tapi sejujurnya, jika Israel dan Palestina senang, saya senang dengan pilihan yang paling mereka sukai.”

Dalam pidato pada tahun 2009 di Bar Ilan University di luar Tel Aviv, Netanyahu menjanjikan dukungannya buat penyelesaian dua-negara dengan dasar kompromi wilayah.

Ia menarik dukungannya bagi negara Palestina selama kampanyenya buat masa jabatan keduanya pada 2015, dalam upaya terakhir untuk menarik lebih banyak suara. Ia mundur dari pernyataannya setelah menang pemilihan umum beberapa kali dan sekali lagi mengatakan ia takkan pernah menerima negara Palestina.

  2 Responses to “Trump Dukung Solusi 2 Negara Atasi Konflik Israel-Palestina”

  1.  

    Ketauan kan emang dari dulu yang suka maju-mundut-syantieq

  2.  

    Akhirnya KO juga

    😎

 Leave a Reply