Mar 252017
 

Sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumf. © TASS Defense

Dilansir dari situs berita Daily Sabah, menyebutkan bahwa berdasarkan informsai dari sumber-sumber militer, Turki bermaksud untuk membeli 2 (dua) baterai sistem rudal pertahanan udara S-400 dari Rusia dalam rangka memenuhi kebutuhan mendesak negara itu. Perjanjian pengadaan kemungkinan akan disimpulkan setelah menteri keuangan Rusia dan Turki menyelesaikan perjanjian pinjaman, menurut sumber tersebut.

Turki dan Rusia telah terlibat dalam pembicaraan yang sedang berlangsung mengenai kerjasama Turki dengan Rusia di sektor pertahanan sejak pemulihan hubungan Rusia-Turki pada bulan Agustus 2016. Diskusi tersebut telah mendapatkan momentum baru dalam beberapa pekan terakhir.

Juru bicara Presiden Rusia, Dmitry Peskov mengumumkan pada tanggal 15 Maret lalu bahwa Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Vladimir Putin telah membahas masalah ini selama kunjungan Erdogan baru-baru ini ke Moskow pada 10 Maret, menambahkan bahwa kedua pemimpin tertarik dalam penjualan rudal.

Mengomentari masalah ini, Menteri Pertahanan Turki, Fikri Isik mengatakan pada 16 Maret bahwa “Kemajuan telah dibuat dalam diskusi yang sedang berlangsung”, dan menambahkan bahwa pembicaraan tersebut masih belum selesai.

Juru bicara Rostec, perusahaan negara Rusia yang memproduksi sistem pertahanan udara S-400, juga menegaskan bahwa Ankara siap untuk membeli sistem rudal S-400 melalui skema pinjaman Rusia, menyebutkan bahwa “Turki berharap untuk segera menerima pinjaman sebagai kelanjutan dari penanda-tanganan perjanjian dan keputusan atas jumlah pinjaman, maka kita akan menandatangani kontrak untuk pasokan persenjataan, termasuk sistem S-400”, menurut CEO Rostec, Sergey Chemezov pada tanggal 14 Maret lalu.

Sebagai anggota NATO, rencana pengadaan Turki pada sistem S-400 Rusia telah memunculkan keprihatinan mengenai kompatibilitas dan integrasi senjata ini ke dalam infrastruktur NATO. Menteri Pertahanan Turki menjelaskan pekan lalu bahwa Turki akan menggunakan sistem S-400 Rusia tersebut tanpa integrasi kedalam infrastruktur NATO, ia menegaskan bahwa “sistem rudal S-400 Rusia tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem NATO”.

Menurut Army Recognition, Turki selama ini belum pernah menggunakan sejumah besar portofolio ekspor sistem pertahanan Russia. Kerjasama antara negara-negara di daerah ini biasanya hanya seputar pemeliharaan kendaraan yang dikirimkan pada era 1990-an yaitu panser BTR-80 dan helikopter transportasi medium Mil Mi-17 serta pengiriman sejumlah suku cadang.

Kerjasama tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS per tahun dan terus menurun dari sebelumnya yang mencapai beberapa miliar dolar. Pada tahun 2008, Turki berencana mengakuisisi 80 unit peluncur dan rudal Kornet-E dari Rusia, namun pembelian itu tidak berhasil.

Situasi mulai berubah pada tahun 2013, ketika Turki memulai tender senilai USD 4 miliar untuk sistem pertahanan udara. Konsorsium perusahaan-perusahaan asal AS seperti Lockheed Martin dan Raytheon, konsorsium Eurosam asal Eropa, dan persuhaan China, China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMIEC ) serta perusahaan Rosoboronexport berpartisipasi dalam kompetisi itu.

Perusahaan Russia yang menawarkan Antey-2500 kalah dalam tender, sementara CPMIEC asal China memenangkan tender tersebut. Bukan hanya berhasil memenangkan tender, perusahaan China itu juga mengurangi harga sistem HQ-9 (varian ekspor dari sistem FD-2000) menjadi USD 3,44 miliar, bahkan juga memberikan transfer teknologi (ToT) kepada Turki. Namun, hingga kini Ankara dan Beijing tidak menandatangani kontrak untuk pembelian sistem HQ-9 (FT-2000) tersebut.

Pada bulan Maret 2017, CEO Rostec, Sergei Chemezov telah mengumumkan bahwa Turki menunjukkan minat pada sistem rudal pertahanan udara S-400 (SA-21 Growler) buatan Rusia dan pembicaraan tentang potensi pengirimannya sedang berjalan.

Sistem pertahanan udara S-400 Rusia telah dijual ke India dan China. Turki bisa menjadi pelanggan asing ketiga dari sistem S-400 dan menjadi negara anggota NATO pertama yang membeli sistem tersebut.

Sistem S-400 (SA-21 Growler) dikembangkan sebagai versi upgrade dari sistem rudal permukaan-ke-udara S-300. Sistem ini mulai beroperasi pada April 2007 dan sistem S-400 pertama telah ditempatkan dalam pertempuran pada bulan Agustus 2007.

Menurut sumber dalam industri pertahanan, batalyon rudal S-400 terdiri dari sedikitnya 8 peluncur yang terdiri atas 32 rudal (masing-masing peluncur terdiri atas 4 rudal) dan pos komando mobile. Sistem ini dapat melibatkan semua jenis target udara, termasuk pesawat terbang, kendaraan udara tak berawak (UAV) dan rudal balistik serta rudal jelajah dalam radius hingga 400 kilometer, dengan ketinggian hingga 30 kilometer.

Sistem rudal pertahanan udara S-400 mampu menembakkan tiga jenis rudal untuk membuat pertahanan berlapis dan sistem tersebut memiliki waktu persiapan sekitar lima menit, secara bersamaan mampu menyerang 36 target.

Peminat manga, anime, gadget, sains & teknologi, sosial-politik dan militer
Link medsos ada dibawah
– Facebook
– Google Plus
– Twitter

  11 Responses to “Turki Akan Membeli Dua Baterai Rudal S-400 dari Rusia”

  1. Kita bakal buat sndiri!

  2. Apakah sudah sah S-400 itu buat Turki?

    Klo Indonesia ambil alih kontrak USD 3,4 milyar dari Turki untuk pembelian HQ-9 kira-kira dapat ToT penuh dari China gak ya? Hehehehe 😛

    Soalnya Turki dapat tawaran tersebut

  3. Indonesia kapan ya beli yg beginian? Asal jgn made in China aja, karena cari yg murah meriah berhadiah payung lg.

  4. Pembelian oleh turki ini ada TOTnya ngak ya

  5. AKAN Yaah sama saja xixixi

    • negoisasi mereka sudah jauh, jumlah udah diketahui, harga sudah disetujui, tinggal kesepakatan pinjaman aja… dan itu bisa dirundingkan sambil minum kopi luwak dipantai sambil lihat awewek 😆 hihihi

  6. Test masuk enggak

  7. tes

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)