Aug 222018
 

Pesawat tempur generasi kelima, F-35B Angkatan Laut Italia © Marina Militare Italiana via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memutuskan untuk menunda pengiriman jet tempur generasi kelima F-35 ke Turki, ada satu hal perlu diingat bahwa perusahaan Ayesas Turki adalah sebagai pemasok tunggal dari 2 komponen utama jet tempur buatan Lockheed Martin tersebut, seperti dilansir dari laman Daily Sabah.

Meskipun ada sekitar 10 perusahaan asal Turki membangun berbagai komponen pesawat, Ayesas adalah penyedia tunggal untuk display panorama kokpit dan unit remote kendali rudal jet tempur F-35.

Sebagaimana diperingatkan oleh pejabat pemerintahannya sendiri, keputusan Preside AS untuk mengambil itikad buruk terhadap sekutu NATO bisa menjadi bumerang, karena Turki memiliki andil yang berharga dalam produksi jet tempur F-35.

“Tit-for-tat” atau “strategi pembalasan” atas F-35 dapat meninggalkan AS dan pihak-pihak lain dengan taruhan dalam program F-35 yang tidak sesuai, taruhannya akan jauh lebih mahal dari laba sebesar $ 12 miliar yang diperoleh oleh perusahaan Turki yang berpartisipasi.

Pada hari Senin, Presiden Trump telah mengabaikan hukum perdagangan internasional dengan menyetujui undang-undang pertahanan yang menunda pengiriman jet tempur F-35 ke Turki.

Amandemen terhadap Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) AS yang segera disetujui oleh Kongres, melarang penjualan F-35 kepada Turki, hingga Pentagon mengeluarkan laporan tentang hubungan Turki-Amerika dalam 90 hari ke depan.

Laporan ini diharapkan untuk memasukkan penilaian partisipasi Turki dalam program F-35 serta apa risiko yang akan ditimbulkan oleh pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia di negara tersebut.

Penghapusan Turki dari program Joint Strike Fighter (JSF) F-35 telah diputuskan oleh Komite Konferensi Kongres AS.

Menteri Pertahanan AS Jim Mattis, dalam sebuah surat kepada Senat pada tanggal 7 Juli, telah memperingatkan bahwa penghapusan Turki dari program F-35 dapat menyebabkan gangguan dalam rantai pasokan suku cadang untuk militer AS serta mitranya, sementara meningkatkan biaya program lainnya.

“Turki akan mengambil tindakan hukum jika ada tindakan yang diambil oleh Paman Sam untuk mencegah pengiriman F-35”, terang Mattis, menambahkan bahwa Turki memiliki alternatif dan “bukan negara yang dapat dengan mudah ditiadakan”.

Turki turut serta dalam program F-35 sejak 1999. Industri pertahanan Turki telah mengambil peran aktif dalam produksi jet tempur tersebut dan telah menginvestasikan $ 1,25 miliar dalam pengembangan pesawat. Alp Aviation, Ayesas, Kale Aviation, Kale Pratt & Whitney dan Turkish Aerospace Industries (TAI) telah memproduksi suku cadang untuk jet tempur F-35 sejak awal.

Turki berencana untuk membeli total 100 jet tempur F-35 di tahun-tahun mendatang. Dari 100 pesawat yang direncanakan, 30 unit telah dipesan. Turki mengambil pengiriman jet tempur F-35 pertama dalam sebuah upacara di Fort Worth, Texas, pada tanggal 21 Juni. Jet tempur F-35 yang pertama dikirim juga merupakan jet tempur generasi kelima pertama yang memasuki inventaris Angkatan Udara Turki.

Selain Turki, AS, Inggris, Italia, Belanda, Kanada, Australia, Norwegia dan Denmark juga sebagai anggota peserta program Joint Strike Fighter (JSF) F-35.