Jan 082019
 

Pemberontak Suriah pro-Turki memindahkan pasukan ke wilayah yang dikuasai Kurdi © Anadolu via Aljazeera

JakartaGreater.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa waktu lalu berkata bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan menggantikan perannya membasmi apa pun yang tersisa dari ISIS di Suriah, seperti dilansir dari laman JakartaGreater pada bulan Desember.

Turki bukan Rusia atau Amerika, jadi tidak berisiko

Amerika Serikat mengumumkan penarikan di Suriah adalah sebuah kebenaran namun itu tidak ada bedanya. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Presiden Turki Erdogan bahwa Timur Laut Suriah telah diserahkan kepadanya. Dan kenyataannya adalah bahwa AS telah meninggalkan Suriah.

Penarikan segera dan permanen AS membuat banyak elemen mengajukan “protes”, seperti Israel, kalangan “Neocons” (neo-konservatif) di AS, tentu saja, tetapi hal yang menarik lagi adalah bahwa ada Bumi Turki.

Ankara baru saja menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menaklukkan militan Kurdi dan wilayah Suriah yang telah ditinggalkan oleh pasukan Amerika Serikat.

Peralatan militer Turki dekat perbatasan dengan Suriah. © Ria Novosti

Kekalahan pertama Turki di Idilb

Sebagian besar wilayah Idlib berada di bawah kendali Al-Qaeda Hayat Tahrir al Sham (HTS), sebelumnya grup militan ini bernama Jabhat al-Nusra. Selain itu, ada banyak kelompok lain berada di bawah kendali Turki.

Setelah AS mengumumkan penarikannya, Turki mengerahkan banyak pasukan pada wilayah Idlib, bersiap untuk menyerang militan Kurdi dan merebut kota Manbij di sekitar Efrat. Tapi serangan tersebut berhenti ketika pasukan Suriah menguasai wilayah Manbij.

Mobilisasi pasukan yang didukung oleh Turki di Idleb untuk fokus pada kampanye militer ternyata membuat “barisan belakang” mereka melemah, HTS menggunakan kesempatan ini untuk mengkonsolidasikan kembali kontrolnya.

Pada hari Senin, 2 Januari 2019, HTS meluncurkan serangan besar-besaran ke wilayah barat Aleppo yang diadakan oleh kelompok Nour al-Din al-Zenki yang pernah didukung oleh CIA.

Dalam 5 hari terakhir, selama pertempuran antara HTS dan Zenki di Idlib telah menewaskan sedikitnya 130 orang. Zenki akhirnya dipukul mundur dari daerah yang dimilikinya (arsiran abu-abu) memaksa pada pemberontak yang tersisa melarikan diri ke daerah Afrin, di bawah kendali pasukan Turki.

Peta kekuatan fraksi di Suriah per tanggal 5 Januari 2019 © Bao Dat Viet

Pelarian tersebut terpaksa meninggalkan gudang persenjataan berat, membuat Angkatan Udara Rusia pada awal tahun baru melancarkan serangan udara terbesar, menghancurkan senjata-senjata tersebut agar tidak jatuh ketangan HTS. Namun, dikabarkan bahwa HTS ini  telah berhasil memperoleh 4 tank bekas militan Zenki.

HTS saat ini mengendalikan semua wilayah selain Afrin yang dikontrol oleh Turki dan telah mengirim ultimatum ke kelompok lain yang ada di Idlib, menuntut kontrol atas kota Maarat al-Nu’man dan Ariha di wilayah selatan.

Karena tidak ada kelompok lain yang mampu mengatasi HTS, ada kemungkinan HTS akan segera mengambil alih atas kota-kota tersebut. Pada saat itu, HTS memiliki kendali penuh pada jalan raya M4 dan M5. Dengan mengendalikan jalan raya M4 dan M5 dapat digunakan untuk menghasilkan uang dan ini sebagai aset dalam negosiasi masa depan.

Perjanjian Astana antara Pemerintah Rusia dan Turki tentang Idlib menetapkan bahwa HTS akan didorong mundur sejauh 15 mil dari sektor pemerintah. Jalan raya M4 dan M5 ini akan dibuka kembali untuk sirkulasi lalu lintas pemerintah, dimana Turki seharusnya membuat dan menjamin poin-poin tersebut.

Namun faktanya bahwa Turki bukan hanya tidak berdaya dengan HTS, tetapi tentara Turki yang ditempatkan pada enam stasiun pengamatan di sekitar provinsi Idlib ternyata menjadi sandera HTS.

Tentu saja, ketika Turki gagal memenuhi janji dan tanggung jawabnya, Suriah dan Rusia kini memiliki kekuatan penuh untuk mengabaikan Perjanjian Astana untuk menyerang HTS dan membebaskan kota Idlib.

Pangkalan udara Al-Tanf militer Amerika di Suriah © Rodi Said via Reuters

Turki tidak berani mengambil alih dari AS

Seperti disebutkan di atas bahwa Presiden AS Donald Trump telah meminta Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan untuk menduduki wilayah Timur Laut Suriah, tetapi Erdogan telah membuat pernyataan agar AS tidak melaksanakannya, kata pejabat senior AS

“Turki mengharuskan Amerika Serikat untuk memberikan dukungan militer yang besar, termasuk serangan udara, transportasi hingga logistik, untuk memastikan pasukan Turki mengambil tanggung jawab utama dalam memerangi para teroris Negara Islam di Suriah”, sebut pejabat AS.

Dan menambahkan bahwa persyaratan Turki sangat besar sehingga jika semua itu dipenuhi seluruhnya, militer AS dapat meningkatkan keterlibatannya kembali di Suriah dimana itu seharusnya berkurang. Tentu saja, AS hampir tidak dapat memberikan semua permintaan tersebut, bahkan termasuk dukungan udara yang diminta oleh Turki.