Oct 252016
 
INS Rajput tembakkan rudal Brahmos

INS Rajput tembakkan rudal Brahmos

Salah satu syarat untuk pemenuhan kebutuhan ALUTSISTA dari Produsen Asing adalah adanya keharusan Transfer of Tecnology (TOT), hal ini dimaksudkan agar tercapai kemandirian pembuatan ALUTSISTA pada produsen khususnya BUMN Strategis milik Bangsa Indonesia seperti PT. PAL, PT. DI dan PT. PINDAD. TOT seringkali sulit didapatkan dikarenakan jumlah pembelian yang sedikit, Kerahasiaan/Kualitas Tinggi Teknologi yang terkandung pada alutsista dimaksud (HiTech).

Pengembangan Varian Rudal Brahmos

Pengembangan Varian Rudal Brahmos

Salah satu alih tehnologi yang dibidik Indonesia adalah ToT Rudal C-705. Proses mendapatkan alih tehnologi C-705 terbilang sulit dan tidak sepadan dengan teknologi yang didapat dibandingkan dengan kemajuan teknologi rudal dan eskalasi geopolitik saat ini. Indonesia dan China memiliki landasan hukum berbeda terkait alih tehnologi. Indonesia menggunakan landasan UU No.16/2012 tentang Industri Pertahanan yang menetapkan antara lain tentang alih tehnologi, trade-off atau pembelian lisensi dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata berteknologi tinggi. Sedangkan China berpedoman pada UU Hak Kekayaan intelektual, dimana dipersyaratkan ada fee khusus yang harus diberikan terkait ToT.

Spesifikasi BRAHMOS C 705
 Harga  35 M  20 M
 Hulu Ledak  200 kg 120 kg
 Panjang  8 m 6 m
 Operational Range  300 km 140 km
 Cruise altitude  3 m 12 m
 Speed  3 mach 0,8 mach

Perbandingan Speksifikasi Rudal BRAHMOS vs C705

Proses pembuatan ToT rudal C-705 dibagi dalam empat tahap. Tahap mana alih teknologi ini belum sepakat dicapai. Belum lama ini rudal C-705 diduga bermasalah dalam uji latihan perang Armada Jaya 34/2016. Dalam uji coba Rudal C-705 yang ditembakkan dari KRI Clurit-641 mengalami delay hingga kurang lebih 5 menit dan bahkan diduga tidak mengenai sasaran. Nah bisa dibayangkan bagaimana posisi KCR/KRI kita dalam situsasi perang sesungguhnya. Rudal C-705 merupakan rudal buatan China dengan kualitas di bawah C-802 dalam sebuah serangan ke kapal HSV Swift milik UEA ternyata juga tidak terbukti menghancurkan (hanya membuat kerusakan) dan dalam serangan ke USS Mason konon dengan mudah dirontokkan dengan rudal Standard Missile-2 (SM-2) dan rudal Enhanced Sea Sparrow Missile (ESSM).

USS Swift korban Rudal C-802

USS Swift korban Rudal C-802

Dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas Militer China sejalan dengan politik ekpansi mencaplok Laut China Selatan, sudah seharusnya Indonesia sebagai negara maritim tidak berdiam diri, tidak memposisikan diri sebagai Safety Player. Memperhatikan eskalasi LCS, negosiasi yang berbelit-belit dan kualitas rendah rudal C-705 serta akar rivalitas China Vs India, maka sudah selayaknya program ToT 705 dibatalkan dan dialihkan ke program ToT BRAHMOS dengan pertimbangan keseimbangan politik militer, Persahabatan Indonesia-Rusia-India, kualitas rudal BRAHMOS, dan tentu saja dilakukan rekalkulasi tonase, lebar dan panjang dari KCR dan KRI.

Sumbangan Artikel : W Indrawan

Berbagi

  73 Responses to “TURN BACK ToT : C705 vs BRAHMOS”

  1.  

    😀

    •  

      Slamat anda memenangkan podium satu jakartagrater.. mendapatkan toyota avansa
      Xixixisiisii
      (_)_)===D~

      •  

        “China berpedoman pada UU Hak Kekayaan intelektual, dimana dipersyaratkan ada fee khusus yang harus diberikan terkait ToT”.

        Tapi kalo Cina menginginkan teknologi dari negara lain kok nggak ada urusan dengan Hak Kekayaan Intelektual !

      •  

        Dari awal saya sdh meragukan kemampuan rudal made in china. Jangankan rudal yg dikendalikan sensor otomatis, pespur yg dikendalikan manual aja berjatuhan.

        Kayaknya sulit mendapatkan ToT Brahmos mengingat presidennya condong ke China.

    •  

      Saya sangat setuju dengan ide pembuat artikel .Ayo warga JKGR kita buat petisi pada presiden bahwa kita harus punya kemampuan bikin rudal sendiri . Tot dengan negara selain China . Karena jelas mereka memang tidak ada niat dari awal untuk berbagi ilmu ,buktinya sejak 2004 sampai sekarang cuma janji doang .China sengaja menyandera Indonesia dengan perjannjian yang tak akan pernah di wujudkan . Nah inilah pintarnya CHINA menggunakan segala jurus untuk menghentikan langkah Indonesia dalam penguasaan tehnologi rudal .
      Para pejawab Indonesia tidak sadar sudah di sandera CHINA .Maka harus kita cari alternatif baru ,kalau brahmos pasti mahal tidak kuat kantong Indonesia ,lebih baik dengan negara lain seperti ukraine ,turki ,pak ,rusia,iran . Bikin rudal dengan tehnologi tidak secanggih brahmos ,yang penting kuasai bikin motor rudal baik cair maupun padat ,tenhologi turbojet kecil untuk rudal ,seeeker,gyrostabilized ,radar,infrared, optik sehingga seluruh tehnologi rudal kita bisa kuasai . Kalau perlu pecah per bagian ,misal belajar tehnologi motor jet ke iran,motor roket cair ke ukraine, motor roket padat ke pak ,seeker ,optik ke frace ,nanti di dalam negri baru kita integrasikan sendiri seluruh komponen rudal . Saya pikir hal ini bisa dilakukan yang penting kuasai perbagiannya . Kalo tot atau beli lisensi satu rudal yang telah jadi pasti ngggak kuat di kantong .

  2.  

    Pertamax kayaknya….

  3.  

    yah….kesalip

    •  

      Mau TOT rudal brahmoss, MIMPI KALI YE…, rudal brahmos merupakan produk unggulan india saat ini, sudah ada pelanggan dari vietnam dan mkn dari negara lain yg mau beli rudal canggih ini.
      INDIA AJA BUTUH EFFORT BESAR HABIS BIAYA MILIARAN DOLLAR UNTUK BISA MEMBUAT RUDAL INI.
      INDONESIA MAU TOT RUDAL INI DENGAN APA ?? ANGGARAN AJA CUMA 107 TRILIUN

  4.  

    Tapi menurut mbah bowo…senjata mbah bowo yg paling akurat dan mematikan…

    😀
    ;>

  5.  

    Tadi mbah bowo sms…
    Menurut pendapat mbah bowo, C-705
    sangat pas untuk diterapkan pada
    beberapa kapal patroli TNI AL yang
    kini belum semua dilengkapi rudal anti kapal….dan satu lagi harganya murah meria….itu kata mbah bowoo…

    😀

  6.  

    Tot c705jalan trus soalnya uang muka triliunan sdh masuk, blm lg uang sogok ya sdh hbs diblanjakan.. Wkwkwk

  7.  

    Nah ini dia artikel yang menarik…..tapi tot brahmos juga kudu hati2 mengingat indonesia dulu pro Pakistan pada perang India-Pakistan. Namun dari segi harga, kualitas dan faktor konstelasi geopolitik, adalah lebih baik Indonesia tot langsung dengan negara terbaik dalam hal rudal, mahal memang namun pasti….pasti jos, pasti tdk mengalami delay, pasti dalam hal detergen…

  8.  

    satuju sama artikel ini…..
    paling juga
    bikin jangwe teknologi colongan,boncos lagi ! pengen dapet kekayaan intelektual….??.

  9.  

    sudah….. ganti pakai tabung LPG aja…. tiap kaprang bekali dengan LPG 3kg…. beserta pelontarnya…
    keh…keh…keh….

  10.  

    Brahmos cra terbaik mnekan china

  11.  

    China kan jago cloning nih..
    Minta ajarin cara terbaik buat cloning aja..
    Yo to..?.

    •  

      SE7 dengan anda ,sediakan printer 3D,alat pindai canggih sehingga bisa di teliti dalaman rudal tanpa membongkar .Walau tak teelkakkan juga beberapa unit pasti di bongkar juga . Pasti kita akan maju dalam tehnologi apa saja tidak hanya rudal yang kita kuasai ,tehnologi lain tentu akan bisa jug adi kloning .

  12.  

    Beli galaxy note7 10000 unit aja….kasih ke tentala PLAAA(nga plongo).Nanti meledak sendiri, biaya lebih murah

  13.  

    Mau TOT ya keluar duit banyak lah, langsung aja sama Rusia,
    Asal jangan ngeteng belanjanya pasti di kasi sama RUSIA. Tuh Liat India dengan Brahmosnya, itu tehnologi Rusia.
    Masalahnya ada kemauan nggak untuk keluar duit banyak buat Rudal dan TOTnya ? Utk saat ini jangan Pelit dulu utk masalah pertahanan, kawasan lagi panas…!

  14.  

    Iya betul, pak presiden kita condong ke china tok, padahal natuna mau di caplok, msh aja percaya si jin ping…heran deh

  15.  

    Rudal canggih saat ini BRAHMOS vs C705 serangan melalui kapal ke darat bungkus aja keduanya kalau sya swetubuh dg P-800 ONIKS atau YAKHONT Memiliki Panjang 8,9 Meter. Ukurunnya Kecil, Namun Mampu menembak sampai sejauh 300 Km dengan Kecepatan 2.600 Km/Jam (Mach 2,6). klo kena sasaran cukup dahsyat.

  16.  

    Kirain artikel baru….ternyata sumbang saran

  17.  

    c705 mungkin hanya bisa menghancurkan kapal nelayan class

    uda beli yakhont aja!!!!!!!!!!

  18.  

    tes

  19.  

    Waw barang china!!!

  20.  

    Tidak setuju sebab :

    1. Seluruh KCR 40 yang sudah jadi memakai sistem China (CMS,kanon Norinco AK630, Radar Seagull, Rudal C705 (baik versi anti kapal permukaan dan versi serang darat). Radar, CMS, kanon AK630 sudah terlanjur dibeli.

    2. Bobot dan panjang Brahmos tidak bisa dipasang di KCR 40 maupun KCR 60. Terlalu panjang dan terlalu berat. Mau redesign lagi ? Ngabisin waktu.

    3. Jika C705 dibatalkan TOTnya maka mesti dicari rudal yang secara ukuran berat dan panjangnya tidak melebihi ukuran berat dan panjang C705.

    4. Soal C802 yang tidak bisa menenggelamkan kapal ? Rudal kecil MEMANG tak bisa menenggelamkan kapal besar. Namun rudal kecil C802 TERBUKTI bisa menimbulkan kerusakan parah yang menyebabkan kapal tersebut tak dapat dipakai lagi. C802 juga menyebabkan tewasnya para perwira di kapal yang diserang. Banyaknya perwira yang tewas adalah kerugian sangat besar bagi negara.

  21.  

    Ayo akusisi Brahmos beli 100unit beserta TOT agar chino sakit hati….gue yakin india pasti memberikan TOT nya krna India lagi kurang seneng sma Chino…. manfaat ketegangan mereka…..kwakwakwakwam

  22.  

    Syukurlah segera sadar kita berteman dengan cina semata bisnis dan mereka adalah teman yang rakus dan mengabaikan hukum Internasional. Adalah sangat mungkin jika suatu saat kita konflik dengan cina masalah laut Natuna yang mereka klaim, jadi sangat tidak masuk akal jika kita justru banyak membeli alat dari cina apalagi TOT persenjataan dari mereka.

  23.  

    @jakarta greater.

    rudal brahmos jangan diadu sama c705 . tidak sebanding . mending di adu sama brahmos vs c805 baru sepadan . indonesia sudah salah mengambil keputusab dengan TOT rudal c705 . rudal c705 itu daya rusaknya aja tidak ada apa apanya dengan c805 . apalagi dibandingkan dengan brahmos . jauh bangets . lebih baik mengakuisi brahmos timbang c705 & c805 . dari segi manapun brahmos lebih unggul dari rudal china.

  24.  

    rudal brahmos jangan diadu sama c705 . tidak sebanding . mending di adu sama brahmos vs c805 baru sepadan . indonesia sudah salah mengambil keputusan dengan TOT rudal c705 . rudal c705 itu daya rusaknya aja tidak ada apa apanya dengan c805 . apalagi dibandingkan dengan brahmos . jauh bangets . lebih baik mengakuisi brahmos timbang c705 & c805 . dari segi manapun brahmos lebih unggul dari rudal china.

  25.  

    jalanin aja proyek C705 dulu, kalau dah bisa baru bikin sebanyak mungkin. pasang di semua KRI yg belum ada rudalnya, modif biar bisa jadi rudar pesisir buat disebar di pulau terluar. untuk efek gentar tinggal beli beberapa rudal >200 km yg udah battle proven.

  26.  

    @udah kecil sebentar

    Rudal anti kapal jarak medium (> 70 km) gak pake pasokan data radar kapalnya sendiri juga bisa bung….dia dipasok informasi baringan sasaran dari unsur pengintai yang lain spt pesawat mpa, kapal selam, drone dsb, yang bisa memastikan secara visual sasaran tsb adalah kapal musuh.

  27.  

    saya kadang kesel dengan JKGR ,udah capek capek bikin komen munculnya lama lagi …pls deh Bung DIEGO di bikin cepat …

  28.  

    niat beli rudal anti kapal kalau tidak bisa menenggelamkan kapal ya jangan dibeli lah…itu namanya kurang kerjaan, namanya rudal tidak hanya mematikan personil saja tetapi peralatan perang yang membahayakan kita ya itu yang utama harus dihancurkan…

  29.  

    Lanjutken…….

  30.  

    tes

  31.  

    Ada yang lupa di garis bawahi dari sang penulis artikel ini.
    Diantaranya adalah di mulai dari tahun berapa dalam hal ini C-705 dan C-802 di ToT kan kepada PT PINDAD, lalu sudah memasuki fase atau tingkatan yang seperti apa alih transfer teknologi rudal C-705 dan C-802 kepada pihak PT PINDAD.
    Ada banyak rahasia yang mungkin di sembunyikan baik dari sisi positif dan negatifnya dari hasil ToT rudal buatan China tersebut.
    Perlu kita ketahui, jika transfer teknologi / ToT tersebut berhasil, mungkin bukan perkara rumit atau pun mudah untuk membuat modifikasi rudal yang sudah dan akan kita miliki.
    Contoh : Dahulu Rudal Brhamos tidak di mungkinkan untuk di cantelkan di pespur, akan tetapi sekarang kenyataan berkata lain.
    Intinya jika ada seseorang yang mengatakan tidak mungkin untuk teknologi, mungkin manusia tersebut berfikir dengan cara mundur!
    Btw tidak ada yang namanya rugi jika mendapatkan ToT dari Rudal yang sudah mempunyai kualitas dunia dan diuji dari teknologi yang terpercaya, terukur dan terjamin.
    Jangan mengharapkan ToT dari produksi yang tidak memiliki kualitas dan teknologi yang belum teruji, terukur dan terjamin.
    Ingat…!
    Hanya manusia yang cara berfikirnya terbelakang jika negara Indonesia rugi untuk ToT untuk Rudal Brahmos dibandingkan Rudal C-705 / C-802

  32.  

    kita engga tahu apa yang ada di KCR TNI AL, system senjata adalah satu kesatuan, Rudal, Radar, system tempurnya, dan jangan lupa juga kabel2, switch dan konektornya. apakah semuanya sudah okeh., kalau semua sudah benar baru kemungkinan rudalnya yang ERROR.

    pengalaman dengan system audio digital terbaik, Televisi Digitak 4K, Player Blue Ray, Audionya keluaran lawas, kenapa kok suaranya pas-pas aja, ternyata tidak pakai kabel digital optik (ada beberapa grade harga dari ratusan rb sampai jutaan) , yang dipakai kabel RCA biasa atau kabel audio digital out 2 in one, atau masih pakai kabel S video 150 ribuan. ya delay lah outputnya. dts engga keluar, dolby nya kaya mini home teater 1,5 jt an.

    maaf sekedar pendapat, semoga tidak ada yang tersinggung

  33.  

    Kalo mau TOT sama negara yg lg butuh dana. Pakistan, Korut,ukraina, pasti dikasih

    •  

      Dengan Rusky juga di kasih…
      Akan tetapi finansialnya kita juga harus kuat…
      Contohnya India…
      Kalau kita bergurunya / ToT-nya dengan ahli plagiat yang lebih mengedepankan kuantitas dibandingkan kualitas…

  34.  

    Hemmmmmm…..apa gak sadar ya pemerintah, musuk kok dokasih barang bagus (Pikiran cina)

  35.  

    Ya sudah …
    Tinggal kan missile China …jenis apa saja …
    Pertimbangkan…
    1. missile Uran …
    2. RBS 15…
    3. Yakhont Brahmos …
    Tapi Brahmos ini platform nya apa?
    Apa bisa di install begitu saja plug in di frigate destroyers korvet …yang punya…sistem kerja. Dengan standard NATO..?
    Tidak mudah itu ..
    Perlu extra mikir …

    •  

      @Hamdan : Bisa untuk next KCR…
      Btw sudah pasti harus ada perubahan sekema dari dimensi / rung di Next KCR TNI AL, hal tersebut di karenakan Rudal Brahmos dari segi dimensi berbeda, tapi bukan tidak mungkin!
      Jika dahulu para pengamat sebagiannya berkata tidaklah mungkin Rudal Brahmos di cantelkan di pesawat tempur, akan tetapi dengan modifikasi dari rudalnya serta pesawatnya sekarang dapat di jadikan salah satu andalan AU India dan AU Rusia.

  36.  

    c-705 ploduk gagal maning … hahaha .. cina asuuuu

  37.  

    Alangkah baiknya jika negosiasi TOT itu tdk memperlambat urgensi pengadaan alutsista,tanpa TOT aja udah lama prosesnya,apalagi pake TOT.

    •  

      @ER : Maaf, mungkin ada yang belum anda pahami dari maksud dan tujuan ToT dalam Rudal.
      Btw bukan maksud saya menggurui atau merasa lebih pintar.

      Tahukah anda, Indonesia / PT PINDAD dalam ToT Rudal produksi China harus membeli minimal 500 unit rudal buatan China yang akan di ToT-kan kepada kita?
      Lalu kita mungkin dapat meminta hal yang sama jika kita meminta ToT Rudal Brahmos dari India.
      Meskipun terkadang setiap negara pemegang lisensi akan menerapkan arturan / syarat yang berbeda dengan negara lain.
      Semuanya kembali kepada loby politik negara kita terhadap negara yang dituju.
      Jadi menurut saya kecil kemungkinannya jika ToT dengan pihak luar akan memperlambat urgentsi rudal / alutista Indonesia.

      Semua kembali kepada manusianya ; Jika manusianya / pembelinya hanya mengutamakan KUANTITAS tanpa memperdebatkan KUALITAS, maka Made in China jawabannya.
      Dan jika manusianya / pembelinya lebih mengutamakan KUALITAS dan KUANTITAS, maka sistem ToT adalah jalan terbaiknya.
      Serta jika manusianya / pembelinya hanya mementingkan KUALITAS dan kurang memperdulikan KUANTITAS, membeli dengan tanpa sistem ToT adalah jawabannya.

      Salam…

  38.  

    Top

  39.  

    Kemajuan yang bagus, long range ya….

  40.  

    plisss comen muncul dah 3 minggu komenku ora muncul muncul

  41.  

    sudah on the track kok rencana pengembangan rudal kita

    pertama
    chinna dipilih karena murahnya dan mau memberikan, yang mahal dan tidak mau memberikan ilmu banyakkkk.

    kedua
    c705 dipilih mungkin hanya diincar system pengendalinya saja, sedangkan untuk jarak jelajah nanti akan disinergikan dengan rocket lapan rx550 yang tot dengan ukraine

    ketiga
    daya ledak kecil?? khan sudah disebutkan yang diincar mungkin hanya pengendali roket sehingga menjadi rudal, untuk daya ledak (warhead) missile sudah ada tot tersendiri dengan jerman http://jakartagreater.com/pindad-dan-perusahaan-jerman-bikin-sistem-peledak-roket/

  42.  

    Sebenarnya tidak sepenuhnya kesalahan dari rudal c705 yg terjadi delay saat uji tembak kemarin. Menurut saya kesalahan tsb lbh di sistem CMS yg mana CMS lah yg memberikan eksekusi peluncuran dan penyuplai data target ke seeker rudal sebelum diluncurkan. Setelah rudal meluncur baru seeker bekerja otonom yg mana data target tsb bisa dipasok dari apa yg tertanam sprt IR, camera optik, GPS atau pasokan data radio dari radar pesawat MPA dsb. Kenapa saya tdk menyalahkan rudal sepenuhnya gagal dan berkualitas rendah? Krn kenyataan yg terjadi, walaupun terjadi delay tp nyatanya rudal tsb ttp meluncur. Itu artinya sistem rudal bekerja sprt motor turbojetnya berfungsi dan jg sayap pengarah laju rudal tsb dan seeker sbg iinderanya berkerja dgn baik. Dan saya setuju dgn bbrp momen di atas sprt bung @udah kecil sebentar dan bung @tukang keritk.
    Tinggal masalahnya menurut saya ada di sistem CMS di kapal tsb, dan bukan si rudalnya.

    Salam..

    •  

      @pedro baretta : Maaf bung, saya kurang paham mengenai sistem mekanisme rudal dengan lebih mendalam.
      Sepengetahuan saya mengenai kejadian Rudal C-705 waktu kemarin membuktikan bahwa sistem Rudal C-705 ini bermasalah.
      Hal tersebut di karenakan delay dan tidak tepat sasaran dari Rudal C-705 ini.
      Jika anda menuliskan “seeker sebagai indranya bekerja dengan baik”, apakah tidak tepat sasaran dapat disebutkan bekerja dengan baik?
      Lalu mengenai delay Rudal C-705 ini, jujur saja sya tidak berani berasumsi lebih dalam, dikarenakan banyak rangkaian sekema baik di sistem mekanisme peluncurnya ataupun di sistem Rudal C-705 itu sendiri.

      Mohon pencerahannya & salam…

      •  

        @WeKa

        Mantab smashnya bung….wkwkwkwk

      •  

        Anda pasti mengetahui dan saya sdh menerangkan dikomen awal, kalau sistem senjata itu, adalah satu kesatuan. Rudal, radar, manajemen tempur sbg operator itu semuanya hrs klop. Tahukah anda rudal yakhont yg menjadi andalan kita saat ini, dahulunya jg mengalami masalah mirip c705 saat ini. Saat pertama yakhont di luncurkan, itu rudal keluyuran tdk mendatangi target? Pdhl lgsg di operator oleh org russia sendiri loh.. sampe mei sumpah serapah dgn kinerja yakhont tsb, trs apa seeker yakhont tsb yg sbg inderanya yg salah krn keluyuran tdk sesuai track? Nyatanya tidak saat uji peluncuran yg kedua kali dan yg ini di operatori oleh awak TNI sendiri kok malah sukses? Ternyata usut punya usut, kesalahan terjadi dari data pasokan yg kurang saat rudal meluncur kesasaran. Mengingat rudal jelajah sprt yakhont dan c705 termasuk dalam grade yg sama sbg rudal over horizon. Lantas apa seeker yg menjadi penyebabnya? Tdk jg toh? Yg menjadi penyebabnya krn data pada seeker kurang mendapat pasokan dari luar, sprt pasokan data dr radar pesawat MPA. Btw sistem seeke rrudal jelajah itu bekerja dgn dua cara bisa dari indera yg tertanam dan jg bisa didapat dari sinyal pengendali luar sprt operator radar, dan bekerja secara bergantian dan acak untuk menghindari sistem jamming dari musuh yg menjadi target sasaran. Kembali ke awal, menurut anda kalau begitu yakhont, jg rudal abal2 krn peluncuran pertama gagal? Lantas dianggap seeker menjadi inderanya yg salah? Nyatanya saat peluncuran yg kedua sukses, padahal part nya sama dgn rudal yakhont yg pertama, tdk ada penggantian. Itulah knp, sistem senjata itu fi sebut satu kesatuan. Hd tdk bisa menyalahkan satu bagian, dan membenarkan bagian yg lain, krn semua bagian itu adalah satu.
        Satu yg menyalah, akan menyebabkan bagian yg lain ikut salah.

        Salam..

        @biji2an. Ahh… ente, mosok ngemeng aja di apple to apple ke maen bultang? Hehehe..

  43.  

    tot rahasia?? hasilnya rahasia jg??? saking rahasianya roket aja masih impor, apalagi rudal?????zzzzzzz

  44.  

    Setubuh dengan bung w indrawan.mungkin saatnya kita putar haluan marapat ke negeri bollywood,karna seperti kita tau brahmos adalah kembaran identik dengan yakhont.dan sekarang eskalasi konflik di lcs kian hari kian meninggi.mungkin dengan merapatnya kita ke india selain benambah perbendaharaan alutsista kita bs jg sebagai sinyal buat si koko kalau kita enggak senang dengan kelakuan dia usik natuna..

 Leave a Reply