Sep 192017
 

Kejutannya sangat besar, Qatar baru saja menandatangani letter of intent (LOI) untuk membeli 24 pesawat tempur Eurofighter “Typhoon II”. Sebelumnya Qatar pada 2015 telah memesan 24 pesawat tempur Rafale dengan harga hampir 6.3 miliar euro dan 36 F-15 E “Strike Eagle” yang dipesan dengan nilai sekitar US$ 4,7 miliar. ketiga tipe pesawat tempur ‘mematikan’ tersebut akan menggantikan Mirage 2000 Qatar yang sudah ketinggalan jaman.

Pesawat tempur F-15 “Strike Eagle” dan Rafale merupakan pesawat tempur terbaik, ditambah dengan Eurofighter Typhoon, maka kekuatan udara Qatar bisa dikatakan merupakan salah satu armada udara terbaik di dunia karena memiliki beragam armada pesawat tempur yang paling mutakhir.

Typhoon yang diincar Qatar adalah dari varian Tranche 3, atau versi terbaru yang menyematkan ratusan modifikasi. Selain itu Typhoon juga menambah cantelan persenjataan dibawah sayap hingga berjumlah 13.

Struktur internal baru di hidung pesawat juga dirancang ulang untuk mengakomodasi wirings, baterai, sistem pendinginan dan radar E-Scan yang baru. Typhoon juga mendapatkan tambahan Hi-speed Data Networking capabilities, Fibre optics weapons bus dan daya komputasi yang lebih banyak, yang memungkinkan Typhoon mengintegrasi berbagai macam senjata modern seperti rudal udara-ke-udara Meteor, Storm Shadow, Brimstone II dan bom presisi Paveway IV dan small diameter bomb (SDB).

  61 Responses to “Typhoon dengan Full Loaded Weapon”

  1. Setunggal

    • numpang setugel bung

    • Melihat payload Typhon (dan Rafale/F15/SU35) , teringat suatu kisah 2-3 tahun yang lalu.

      Salah satu perdebatan SERU yang MONOLOG di warungnya GripIndo…
      Dibilang SERU : karena saking berbusa-busanya menjelekkan pesawat dengan PAYLOAD besar
      Dibilang MONOLOG : karena komen yang berbeda pendapat, tiba-tiba ilang komennya …

      Topiknya adalah Gripen mempunyai payload kecil karena memang aturan Pespur Modern adalah “TIDAK BOLEH” membawa rudal banyak-banyak. Katanya cukup setengah saja yang dibawa.

      Alasannya :
      – Sayang entar kalo pesawatnya tertembak , maka kerugian makin besar karena rudal-rudalnya juga ikut rusak/ilang
      – Payload besar tentunya membutuhkan biaya besar untuk operasionalnya.

      Kadang saya mencoba membayangkan sosok penulis doktrin pespur itu adalah “seorang ibu-ibu dengan sanggul melorot dan kemben yang kedodoran” ,

      • Hahaha… Maklum Lah Bung. Multirole Abal-2

      • Wkwkwkwkwkwk…

        Kejadian seperti di lapak tersebut pernah terjadi di sini dan hingga saat ini juga masih tetap ada pendapat yang perti itu.
        Intinya anggapan seperti itu mereka hanya memikirkan siap menang dan tidak siap dengan kekalahan, atau mungkin untuk sales Gripen -+ seperti ini, pespur itu costnya harus murah, yang tanpa mereka sadari adalah murahnya adalah tanpa memikirkan range oprasional pespur tersebut dan muatannya dan juga faktor lainnya.

        Selagi masih ada perdebatan 1 mesin vs 2 mesin, pendapat berbeda pasti to be continue, karena perbedaan efektifitas diantaranya adalah mutlak.

        Masa iya ketika perang kapasitas 8 ton untuk hard pointnya hanya di muat 4 ton karena kalimat “sayang kalau kalah / tertembak oleh lawan?”

        • doktrin nya khan emang beda antara dua jenis pesawat itu khan Bung …. yg aneh adalah yg Single Engine maksa-maksain “multirole” … lah wong yg double enginer ajah udah nyadar klo urusan ngeronda bukan tupoksi nya …

          Tapi sejujurnya : Doktrin “payload setengah” itu sepertinya murni karya Anak Bangsa bung …. saya ngider-ngider di beberapa blog ditempat lain , blum pernah jumpa Doktrin “payload setengah” itu …
          sungguh membanggakan karya doktrin asli bangsa sendiri ini yaaa

        • Hahahahaha…

          Jika doktrin play load setengah doktrin anak bangsa kesannya seperti ide mereka yang pesimis.
          Dari pada takut dengan kerugian yang dialami dalam berperang, lebih baik mereka seharusnya lebih meneriakan S400.
          Karena dengan S400 dapat lebih irit dari pespur yang hanya setengah play load dan juga lebih sayang nyawa (pilot – co pilot)

          Jika diteruskan lama-kelamaan bisa tank avtur juga di isi setengah 😀

          • Bung Wangsa,
            Kesannya yg mau perang adalah Ibu-ibu Mbok-Mbok yang merki ngitungin duit belanja biar cukup blanja hari ini yaaaaahhh …

        • Kalau untuk patroli biasa ngapain bawa rudal banyak ?

          Lain halnya jika mau menyerang, bawa rudal banyaklah.

          Yang dibawa pun juga macem2 jenis tergantung misinya mau lakukan tindakan apa.

          • Misinya bisa untuk patroli dan bisa untuk menyerang dengan full loaded weapons…
            Justru menurut saya Patroli itu posisi paling tidak menentu, bisa saja tiba2 bertemu musuh potensial entah di udara/laut/darat…
            Seharusnya saat Patroli justru harus dengan senjata penuh dengan kategori udara/darat/laut…
            karena judulnya adalah multirole

          • Bung PHD,
            makanya khan emang tupoksinya beda antara Gripen dan SU35 yg satu workshore single engine yang satu multirole double engine, …. lah kok mereka maksa-maksa banget klo gripen di compare dengan su35? yang salah satu topiknya adalah “payload”

            Ini yg lucu pernyataannya :
            “percuma payload besar 9 ton (Typhoon/SU35/Rafa) klo diisi setengah (5 ton) (berdasarkan “doktrin payload setengah”) , paling juga sama dengan Gripen yang punya payload 4-5 ton (full) ??”
            Kenapa Typhoon/SU35/Rafa harus bawa setengah, sedangkan Gripen boleh bawa Full yaach ??

            Definisi Multirole bukan hanya masalah kemampuan pesawat BISA berbagai macam role “air to air, serang darat, serang maritim, EW” ….itu sekelas Tejas dan FA50 juga suatu saat mencapai kemampuan itu.

            Faktor payload besar dan range yang jauh adalah faktor utama. Payload besar dapat melakukan berbagai misi dan tanpa takut kehabisan bahan bakar. Range Typhon/SU35/Rafale di 1500-2500 km sangat gampang mengacak-ngacak dari base Malang-Bandung PP tanpa khawatir. Ini yg disebut “real multirole”

            Single Engine dengan Range 800-1000an , … baru dari Jogja-Bandung , eh belum juga perang ditengah jalan harus udah mikir balik kandang isi aftur. Udah gitu cuma bisa bawa misil air-to-air , kagak bisa buat misi yg lain.

            sorry , no offense … CMIIW

      • Wkkkk… Maklum penganut Aliran garis keras bung jadi hanya komen2 yg menyanjung Gripik doang yg boleh bercokol di sana xixixi…

  2. gila hebat benar qatar setelah rafale, the legend f15, kini datang lg gudang senjata terbang typhoon.

    sukhoi family sama sekali bkn level mereka….
    apalagi yg ntu…su27 yg ceng…g

  3. Panahnya kurang 1, nunjuk ke mesin pakai kata full speed(afterburner).

    Biar para sukhiyah tahu, klo pesawat delta canard mampu menggotong beban berat dan supercruise/afterburner, memiliki angle of attack yg tinggi, ga kaya pespur jangkrik yg dipasang canard tetep aja pesawat jangkrik…krik krik…

  4. Gile bener juragan minyak beli borongan pespur handal, tgl F35 yg blm dibeli.

  5. Wuih… Mantap bikin ngiler aja… Kok gripik ga di borong yah? Padahal itu duo serigala… Eh duo sayap delta dibeli kenapa ga sekalian yah biar komplit tuh sayap delta…

  6. Lawan sepadan buat Tukino yang lebih dulu battle proven?

  7. berawal dr perselisihan negara yg tadinya ecek2 berubah jd negara ocok2..
    ya bgitulah klu negara adem ayem pasti militernya kurang kuat.
    musti di panasi dulu biar mantap..

  8. Ooohh itu yaa, yg pernah ditembak jatuh mig25.
    Hahhahaaaa

  9. Masih bagusan F-35.

  10. Ane gak Yakin BAE mau jual tuh pespur ke Qatar. Secara, Saudi itu pelanggan terbesar BAE di Timteng, sekutu dekat AS-Inggris yg lagi berantem ma Qatar. Pasti bakal ada lobi dari Saudi biar penjualan Typhoon dibatalin.

  11. Rafale+typhoon…..

  12. Su 35 lebih powerful deh … kalo dog fight dengan Typoon sekalipun full payload udah ECM sama SU 35 … modyar udh kena tembak ….

    Nah kalo Typoon yang bawa ICBM senyap senyap suka kita … he he

  13. Ini pespur jika menggondol meteor akan sangat menyeramkan.

 Leave a Reply