Sep 182018
 

Rudal jelajah jarak jauh, Pasopati buatan Universitas Gadjah Mada © FT-UGM

JakartaGreater.com – Bertempat di Lapangan Terbang (Lapter) Gading Wonosari di Gunungkidul, tim peluru kendali (rudal) dari grup riset Aeronautika UGM melakukan uji coba peluncuran rudal yang diberi nama Pasopati. Rudal ini dinyatakan memiliki kemampuan jelajah sejauh 300 km, seperti dilansir dari rilis media Fakultas Teknik – Universitas Gadjah Mada, 30 Agustus 2018.

Uji Terbang Tahun 2017

Sebelumnya, pada tanggal 11 November 2017 atau setelah peringatan Hari Pahlawan, tim peluru kendali (rudal) dari grup riset Aeronautika UGM sukses melaksanakan uji terbang terhadap rudal penelitian generasi pertama mereka, dirilis situs ugm.ac.id, 12 November 2017. Uji terbang yang bekerjasama dengan Lanud Adisujtipto ini dilakukan dilapangan udara yang dikelola oleh TNI Angkatan Udara di daerah Gading, Wonosari, Yogyakarta. Cuaca cerah sedikit berawan pada pagi hari itu sangat mendukung uji terbang rudal, ditambah hembusan angin dengan kecepatan tidak terlalu tinggi.

Penelitian rudal UGM yang dinamakan Pasopati tersebut direncanakan dalam waktu tiga tahun. Dr. Gesang Nugroho sebagai ketua penelitian yang didanai oleh Kemenristekdikti melalui skema Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi menyampaikan bahwa tahun pertama 2017 ini difokuskan pada desain dan manufaktur rudal dengan jarak tempuh 30 – 50 km. Jarak tempuh dan akurasi terus ditingkatkan hingga pada tahun ketiga mencapai target 100 km.

“Rudal elektrik tahun pertama ini didesain untuk dapat melakukan misi penyerangan target atau sasaran diam dengan terbang rendah agar tidak terdeteksi radar”, kata Gesang, Minggu (12/11/2017).

Adapun rudal Pasopati yang dikembangkan, kata Gesang, mempunyai beberapa data, yaitu berupa penggerak elektrik menggunakan Electric Ducted Fan (EDF), jarak jangkauan sejauh 30 – 50 km, kecepatan jelajah berkisar 100 – 200 km/jam dan mampu membawa payload kurang lebih 2 kg. Sementara itu, desain rudal Pasopati ini sudah menyelesaikan tahap Design Requirement and Objective (DRO), Conseptual Design, Preliminary Design dan terakhir Detail Design.

Tim peluru kendali (rudal) dari grup riset Aeronautika UGM, Agung bersama empat mahasiswa bimbingannya, Ivan, Ghani, Yosua, dan Andika. © FT-UGM

“Seperti kita ketahui, Pasopati merupakan nama senjata milik Arjuna dalam tokoh pewayangan. Pasopati serupa anak panah yang mampu melesat dengan kecepatan, akurasi dan kemampuan yang luar biasa. Dari Panah Pasopati itulah tim rudal UGM terinspirasi”, urainya.

Rudal Pasopati generasi pertama ini memiliki panjang 170 cm, diameter 17 cm, berat kosong 0,9 kg. Penggunaan electric ducted fan (EDF) dipilih karena memiliki karakteristik yang mirip dengan turbojet namun memiliki keuntungan tambahan yaitu lebih mudah dikendalikan.

Selain itu, penggunaan EDF pada tahap awal ini ditujukan untuk memperoleh data kendali untuk perkembangan selanjutnya. Tim rudal UGM beranggotakan M. Agung Bramantya, Ph.D., Iswandi, M.Eng., dan Isnan Nur Rifai, M.Eng.

Menurut M. Agung Bramantya, Ph.D yang memimpin uji terbang di Lanud Gading, berdasar hasil uji terbang pada hari itu rudal Pasopati berhasil take off dan terbang dengan stabil, serta mampu menyelesaikan misi jelajah secara autonomus dengan ketinggian 100 m, kecepatan maksimum 130 km/jam dan jarak tempuh 5 km untuk waktu terbang sekitar 3 menit.

“Rencana ke depan akan menambah jarak tempuh dengan menggunakan pendorong turbojet, menguji kecepatan maksimum, menambah akurasi dan membuat sistem produksi yang lebih efisien”, tambah Agung.

Ia menjelaskan penelitian rudal merupakan hal strategis yang harus dikuasai oleh suatu bangsa yang ingin berdaulat. Para peneliti di UGM yang terdiri dari para dosen dan mahasiswa berbagai fakultas telah memulai dan sukses melakukan uji terbang rudal Pasopati generasi pertama.

Hal tersebut selain membanggakan, namun juga membuka tantangan dan peluang baru untuk mengembangkannya. UGM dalam hal ini grup riset Aeronatika membuka peluang seluas-luasnya untuk bekerjasama dalam pengembangan riset dan teknologi dirgantara dari semua pihak demi kedaulatan bangsa. (Humas UGM/Satria).

Bagikan:

  29 Responses to “Uji Coba Rudal Pasopati Gamaforce UGM”

  1.  

    Wah, meski tak seramai berita rudal petir, ternyata ini lebih menggigit dengan jangkauan 300 km 😆 bravo UGM, bravo NKRI

    •  

      belum bung Lingkar

      “Menurut M. Agung Bramantya, Ph.D yang memimpin uji terbang di Lanud Gading, berdasar hasil uji terbang pada hari itu rudal Pasopati berhasil take off dan terbang dengan stabil, serta mampu menyelesaikan misi jelajah secara autonomus dengan ketinggian 100 m, kecepatan maksimum 130 km/jam dan jarak tempuh 5 km untuk waktu terbang sekitar 3 menit.”

      masih cita-cita itu 300 KM…

      menurut saya, maaf mubazir, duplikasi dan redundant terhadap proyek PETIR,
      mending resourcess nya untuk bantuin/kolaborasi ke PETIR khan deket itu Malang-Jogja…

      Generasi ke tiga PETIR adalah : kecepatan 350 km/jam , jarak jangkau 80 km.. ketinggian 20 meter …..
      (referensi tomahawk : 800 km/jam , 300 km , 30 meter) – kejauhan emang sich tapi gpp…

  2.  

    Tinggal buat dah versi Ground to Air, Air to Air, Air to Ground and Ground to Ground.

  3.  

    mantap.. rasanya hampir g percaya ..tanpa basa basi udah 300 km…impian si duta rudal nasional bakal sebentar lagi terwujud..

  4.  

    Rudal …. Rudal …. Rudal ha eee joosss !!

  5.  

    Jadi ingat, UGM dari awalnya memang sudah membantu pejuang NKRI dalam pengembangan senjata saat Perang Kemerdekaan Rektor kedua UGM, Prof. Dr. Ir. Herman Johannes, diminta membuat senjata dan laboratorium senjata. Wajar bagi UGM untuk menjadi ujung tombak negara hingga kini termasuk dalam bidang riset teknologi militer. Mungkin kalo dikerjasamakan dg produsen rudal petir dan LAPAN bisa dihasilkan rudal jelajah yg benar-benar mumpuni.

  6.  

    masih kalah keceng itu bro, pemilihan motor dan batrenya kurang maksimal, cekidot sama ini coba
    https://www.youtube.com/watch?v=vljy3lKIN-0

  7.  

    Boleh juga, perlu ada sponsor untuk mendanai lagi riset selanjutnya, jika perlu bisa dong bergabung ke risetnya Lapan.

  8.  

    Di foto terakhir nggak ada orang militer ya apalagi orang perusahaan, jadi kesannya institusi ini riset sendiri-sendiri, Entah ya ada koordinasi dibelakang ini apa ngga, hanya kesan dari foto saja dalam event uji coba yang harusnya cukup vital untuk disaksikan. Enggak tau juga ya,, kalo tujuannya rudal berarti marketnya TNI harusnya sangat jelas TNI dan spesifikasi disamping ada litbang TNI juga dg institusi penelitian lainnya kek BPPT, LIPI dsb. Menristek pernah ngomong kalo dana riset itu capai dua puluhan triliun/tahun namun tersebar dan tidak terkoordinir. Pemerintah biarpun sudah bikin strategi riset nasional namun tetap saja pelaksanaan di lapangan disamping ego sektoral masih belum nyambung. Berharap kedepannya uang riset lebih efektif untuk RnD ke arah produk yang memenuhi spesifikasi dan tantangan kedepannya.

  9.  

    Kreasi anak bangsa, kalau sudah ketemu bentuk model yg tepat maka akan lebih mudah pengembangannya … top

  10.  

    Noted bung @SP,

    “Bertempat di Lapangan Terbang (Lapter) Gading Wonosari di Gunungkidul, UGM melakukan ujicoba peluncuran rudal yang diberi nama Pasopati. Rudal ini mempunyai kemampuan jarak jelajah sejauh 300 km”.

    Itulah yg ada dalam publikasi yg terdapat pada link yg disertakan diatas, tidak disebutkan apakah sudah mampu mencapai jarak 300 km atau belum, atau masih sebagai rencana mereka…

    Sementara yg bung @SP jelaskan itu adalah isi dari artikel lain dari situs yg sama yg dirilis bulan November 2017, disana disebutkan target jangkauannya adalah 100 km.

    Menurut saya, dengan keberhasilan pengujian tahun lalu, bisa jd mereka meningkatkan target jangkauan dari 100 km menjadi 300 km saat ini.

    Apakah sudah terlaksana atau belum? Entahlah, namun sepertinya kesimpulan itu mereka dapat berdasarkan hasil uji coba terakhir, makanya mereka berani menulis jangkauannya 300 km, rilis 30 Agustus lalu.

    Tentunya masalah target yg ingin di capai itu selalu dinamis, tergantung dari progress litbang yg mereka lakukan, loncatan besar tidak harus selalu sesuai dengan rencana awal, dinamika selama waktu berjalan turut mempengaruhi…

  11.  

    Beratnya hanya 0,9 kg lho.

 Leave a Reply