Ukraina akan Ganti Jet latih L-39 Albatros dengan Super Tucano

Komando Angkatan Udara Ukraina sedang meninjau kelangsungan operasional pesawat latih tempur ringan L-39 Albatros, lansir Defenseblog.

Pada 14 Agustus 2020, Angkatan Udara melaporkan bahwa pejabat militer Ukraina sedang mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah pesawat latih L-39 yang sudah tua dan menggantinya dengan pesawat latih turboprop EMB314 Super Tucano buatan Brasil.

Pesawat Super Tucano tersebut dipertimbangkan selama kunjungan delegasi Angkatan Udara Ukraina ke Brazil pada tahun 2019, sebagai pesawat latih tempur yang dengan kemampuannya akan dapat menggantikan pesawat jet latih L-39, rilis siaran pers Angkatan Udara Ukraina.

Aero L-39 Albatros adalah pesawat latih jet berperforma tinggi yang dikembangkan di Cekoslowakia oleh Aero Vodochody. Jet dirancang selama 1960-an sebagai pengganti Aero L-29 Delfín sebagai pesawat latih utama. Ini adalah pesawat latih pertama yang dilengkapi dengan mesin turbofan yang banyak diekspor ke berbagai negara sebagai jet latih militer.

Sekitar 2.900 jet latih L-39 saat ini dalam pelayanan di 30 angkatan udara di seluruh dunia.

7 pemikiran pada “Ukraina akan Ganti Jet latih L-39 Albatros dengan Super Tucano”

  1. Walau sebatas pesawat baling2, terbukti Brasil berhasil ekspor banyak jenis pesawat ini, bahkan negara sekelas US pun pesan banyak dari Brasil, devisa bisa didapat dari ekspor teknologi bukan melulu dari hasil alam yang sangat terbatas. Indonesia seharusnya mungkin juga bisa buat pesawat baling2 berkemampuan ganda misal bisa lepas landas vertikal di darat dan juga mampu mendarat atau lepas landas di air karena kita negara kepulauan, sehingga akses untuk warga di pulau2 terpencil pun bisa terlayani, jika kualitasnya baik dan tangguh bukan tak mungkin bisa ekspor dalam jumlah banyak.

  2. Klo masih akur sama rusia pasti dia ambil Yak ketimbang tucano.

    Klo PT DI bener2 didukung tanpa takut intervensi dr negara2 yg takut jualannya ga laku, entah udh berpa banyak pesawat karya PT DI yg wara-wiri di nusantara sbg pesawat perintis, dan pastinya laku keras juga di asean yg secara umum ekonominya masih berkembang.

Tinggalkan komentar