Feb 112019
 

JakartaGreater.com – Kurang dari setahun setelah sebelumnya Angkatan Laut AS (US Navy) mendeklarasikan “investasi penuh” dalam railgun elektromagnetik yang banyak digembar-gemborkan. Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana John Richardson tampaknya pun mengalami keluhan dari beberapa pembeli atas pengembagan supergun bermasalah senilai $ 500 juta, sebagaimana dilansir di cuitan Task & Purpose dalam akun Twitter.

Tampil dihadapan hadirin di Dewan Atlantik pada hari Kamis, John Richardson mengkarakteristikkan sistem senjata yang telah berusia satu dekade – yang mampu menembakkan proyektil ke kecepatan hipersonik namun terjebak dalam penelitian dan pengembangan limbo tanpa ada demonstran taktis – sebagai studi kasus yang menurutnya “Beginilah seharusnya inovasi tak boleh terjadi”.

“Kita telah belajar banyak [dari proyek] dan rekayasa membangun seperti itu, yang dapat menangani energi elektro-magnetik sebanyak itu dan tidak hanya meledak adalah tantangan”, kata Richardson, seperti dilaporkan oleh Business Insider. “Jadi, kita akan melanjutkan setelah ini – kita akan menginstal benda ini, kita akan terus mengembangkannya, mengujinya”.

“Ini sistem senjata yang amat sangat bagus, jadi semoga saja pergi ke suatu tempat”, tambahnya .

Pengujian “supergun” dari sebuah railgun elektromagnetik buatan Amerika Serikat © US Navy via Wikimedia Commons

Itu cukuplah tentang wajah dari kepercayaan diri Richardson yang dikeluarkan dalam sidang kongres pada bulan Maret 2018, beberapa bulan setelah Task & Purpose melaporkan di bulan Desember 2017 bahwa sistem canggih tersebut kemungkinan tak akan pernah berhasil keluar dari tahap Riset & Pengembangan atau R&D alias Litbang, karena kedua tantangan teknis sebenarnya memasang benda itu diatas kapal perang dan yang lebih penting juga mengubah prioritas dalam Kantor Kemampuan Strategis Pentagon.

“[Kami] sepenuhnya berinvestasi pada railgun; kami terus mengujinya”, tutur Richardson meyakinkan anggota parlemen saat itu, tulis Military.com. “Kami telah mendemonstrasikan pada kecepatan tembakan yang lebih rendah dengan jarak yang lebih pendek. Sekarang harus melakukan rekayasa, guna memilah, menghidupkan dan mendapatkannya pada kecepatan tembak yang diinginkan, pada jarak 80 hingga 100 mil”.

Sebelumnya Strategic Capabilities Office atau SCO, mengalihkan fokusnya ke Hyper-Velocity Projectile (HVP), amunisi khusus yang awalnya dikembangkan sebagai amunisi utama untuk railgun yang sama efektifnya ketika ditembakkan dari artileri konvensional. Memang, tes Angkatan Laut menembakkan HVP dari senjata dek 5 inci Mk 45 di USS Dewey selama Rim of the Pacific atau RIMPAC 2018 pada bulan Agustus tahun itu.

Kesan artistis pada HVP. (BAE Systems via nine.com.au)

Richardson menegaskan soal pergeseran prioritas pada hari Kamis. “Proyektil berkecepatan tinggi juga dapat digunakan di hampir setiap senjata yang kita miliki. Itu bisa disebar ke armada dengan sangat, sangat cepat terlepas dari railgun”, katanya. “Jadi, upaya ini membiakkan segala macam kemajuan. Kita hanya perlu mempercepat waktu sehubungan dengan railgun”.

  4 Responses to “US Navy Akhirnya Mengaku Banyak Gembar-Gembor Railgun dan Kacau Total”

  1.  

    Udah riset puluhan tahun hasil nya malah kacau, ITULAH AMERIKA

    😎

  2.  

    Komen yg simple aja deh : “tong kosong nyaring bunyinya…”

  3.  

    blom tentu jg … bisa aja cuman publikasi adanya faktor kesulitan saat develop, maksudnya minta budget tambahan biar bisa riset lanjutan dg biaya super besar.
    buktinya saat rimpac kemarin, pelor railgun nya bisa terbang, soal target efektifitas ya kita mah cuman percaya berita yg dibuat mrk sendiri.