Feb 122019
 

JakartaGreater.com – Angkatan Laut A.S. (US Navy) telah menjelaskan sebuah proyek yang sebelumnya sangat dirahasiakan dan dimaksud untuk melindungi kapal induk atas “ancaman serius dan luas” dari torpedo, dan itu merupakan kegagalan terbesar, seperti dilansir dari laman Task & Purpose.

Hampir setiap kapal Angkatan Laut AS mungkin menemukan dirinya berperang melawan torpedo, ataupun bom bawah laut yang telah menenggelamkan kapal perang selama lebih dari 100 tahun.

Kapal induk Angkatan Laut AS pun mewakili keajaiban teknologi karena mereka adalah bandara terapung yang digerakkan oleh reaktor nuklir, namun, setelah bertahun-tahun melakukan tes rahasia, Amerika Serikat telah menyerah pada sebuah program untuk memenuhi ancaman tersebut.

Angkatan Laut AS telah membatalkan proyek Sistem Pertahanan Anti-Torpedo dan akan menghapus sistem tersebut dari lima kapal induk yang benar-benar telah memasang mereka, menurut Kantor Direktur Uji dan Evaluasi Pentagon dalam sebuah laporan pada hari Selasa.

“Pada bulan September 2018, Angkatan Laut A.S. menghentikan upaya untuk mengembangkan sistem [pertahanan anti-torpedo]. Angkatan Laut berencana untuk mengembalikan semua kapal induk ke konfigurasi normal mereka selama pemeliharaan empat tahun ke depan”, bunyi laporan itu.

Kapal Selam Baru Iran Akan Bertugas di Laut Oman © IRNA

Pada dasarnya, laporan tersebut mengatakan selama lima tahun, program ini membuat beberapa proses dalam menemukan dan melumpuhkan torpedo yang masuk, namun tidak cukup. Data tentang keandalan sistem tetap terlalu tipis atau sama sekali tidak ada dampaknya.

Sistem tersebut membuat kapal-kapal permukaan US Navy hampir tak memiliki pertahanan terhadap senjata utama anti-permukaan dari kapal selam di saat Angkatan Laut memperingatkan bahwa armada kapal selam Rusia dan China telah berkembang pesat untuk menimbulkan ancaman besar bagi kapal-kapal permukaan A.S.

Amerika Serikat mengabaikan ancaman torpedo

Setelah berakhirnya Perang Dingin, AS berbalik dari perang anti-kapal selam ke arah pertempuran melawan kapal-kapal permukaan. Namun kini, Rusia, China, dan Iran dilaporkan telah memiliki torpedo super-kavitasi, atau torpedo yang membentuk gelembung udara di sekitar mereka saat mereka meluncur di dalam air dengan kecepatan hingga ratusan mil/jam.

Torpedo kecepatan tinggi kelas baru memang tak dapat dipandu, tetapi dapat menembak langsung ke arah kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat yang hanya memiliki sedikit peluang untuk mendeteksi mereka.

Torpedo superkavitasi berkecepatan tinggi, Shkval-E buatan Rusia © Vitaly V. Kuzmin (2011) via Wikimedia Commons

Torpedo jenis ini tak menabrak langsung ke kapal target, tetapi menggunakan ledakan untuk membuat gelembung udara di bawah kapal dan akan berpotensi menekuk atau menghancurkan haluan serta menenggelamkan kapal perang.

Selain itu, Rusia memiliki Torpedo lain dengan jangkauan 12 mil laut dan dapat meluncur dengan zig zag dan mampu mengalahkan tindakan balasan ketika itu mendekati sebuah kapal perang musuh.

Dalam sebuah latihan tempur di lepas pantai Florida pada tahun 2015, sebuah kapal selam nuklir Prancis, Le Saphir (S602), telah berhasil menyelinap melalui beberapa “lingkaran pertahanan” grup serang kapal induk A.S. dan “membunuh” USS Theodore Roosevelt termasuk setengah dari kapal yang mengawalnya, tulis Reuters. Latihan angkatan laut AS lainnya telah menyaksikan kapal selam diesel-listrik kuno yang menenggelamkan kapal induk canggih.

Bahkan musuh yang tidak canggih seperti halnya Korea Utara dan Iran dapat mengirimkan kapal selam diesel-listrik, menyembunyikannya di perairan pesisir yang bising di sepanjang rute transit yang penting bagi Angkatan Laut AS.

Temeraire, kapal selam nuklir Kelas-Saphir generasi pertama Angkatan Laut Prancis © Wikimedia Commons

AS telah menghabiskan sekitar $ 760 juta untuk sistem yang gagal, The War Zone melaporkan.

Angkatan Laut AS dapat mengerahkan “nixies” atau umpan pembuat kebisingan yang diseret oleh kapal di belakangnya untuk menarik torpedo, tetapi itu harus mendeteksi torpedo yang masuk terlebih dahulu baru dapat berfungsi.

Sebuah kapal induk milik Angkatan Laut AS berjalan dengan kecepatan 40 knot atau 10 knot lebih lambat daripada sebuah torpedo standar, tetapi dengan dek penerbangan yang penuh dengan pesawat terbang dan personel, untuk dapat membuat belokan tajam serta menghindari torpedo yang masuk menghadirkan masalah tersendiri.

  3 Responses to “US Navy: Proyek Rahasia Pertahanan Kapal Induk Telah Gagal Total”

  1.  

    .. web nya membingungkan,, artikel lama dan baru campur aduk..

  2.  

    Mangkrak

  3.  

    Sudah ane bilang percuma berteman dan beli produk amer, skill nya yg bagus cuma propaganda Hollywood aja, tidak moncer produk amerika

    😎 huehuehue