Jan 252019
 

Destroyer stealth USS Zumwalt (foto:NavyUS)

JakartaGreater.Com – Angkatan Laut AS sedang mempertimbangkan mempersenjatai kapal perusak stealth Zumwalt dengan amunisi railgun hypervelocity.

Angkatan Laut AS sebelumnya berhasil menguji proyektil hypervelocity, amunisi yang dirancang untuk railguns, dan ditembakkan dari meriam Mk 45 kaliber 5 inci di atas kapal perusak USS Dewey selama latihan Rim of the Pacific tahun lalu.

Tes penembakan ini rupanya menciptakan kemungkinan baru bagi Zumwalt. “Itu adalah satu hal yang telah dipertimbangkan sehubungan dengan kemampuan untuk kapal Zumwalt,” kata manajer program Zumwalt Kapten Kevin Smith, rilis USNI News.

Kapal perusak Zumwalt class masih belum memiliki amunisi, tetapi Angkatan Laut AS punya ide, atau setidaknya awal dari sebuah ide.

Angkatan Laut telah menginvestasikan ratusan juta dolar dan lebih dari satu dekade dalam penelitian railgun, yang telah menghadapi beberapa hambatan teknologi. Tetapi sementara railgun mungkin menjadi proyek yang tidak berharga, amunisi railgun tampaknya memiliki harapan.

Angkatan Laut menembakkan hampir 12 proyektil hypervelocity (HVP) – amunisi khusus yang awalnya dirancang untuk railgun elektromagnetik – dari meriam dek Mk 45 kaliber 5 inci di atas kapal perusak Arleigh Burke class, USS Dewey pada satu titik selama latihan Rim Pasifik tahun lalu, rilis USNI News pertama kali melaporkan. Senjata-senjata itu adalah senjata yang sudah berumur 40 tahun dan menjadi standar pada kapal penjelajah dan kapal perusak AS.

Konsep yang sama mungkin bisa diterapkan pada sistem senjata Advanced Gun Systems (AGS) kaliber 155 mm di atas kapal perusak Zumwalt class.

“Itu adalah satu hal yang telah dipertimbangkan sehubungan dengan kemampuan untuk Zumwalt class. Kami sedang mencari peluru jarak jauh yang terjangkau, dan itulah satu hal yang dipertimbangkan, ” kata Kapten. Kevin Smith, manajer program Zumwalt, diungkapkan di Simposium Asosiasi Angkatan Laut, lapor USNI News pada hari Selasa.

“Angkatan Laut sangat bersemangat tentang kemampuan ini,” tambahnya, mengatakan bahwa belum ada keputusan yang dibuat. Menurut Smith, ada banyak opsi yang masih dipelajari untuk penggunaan amunisi yang memiliki jangkauan jarak jauh.

Pertimbangan awal adalah penggunaan artileri berpandu Raytheon Excalibur 155 mm, tetapi rencana itu ditinggalkan.

Meriam AGS 155 mm milik Zumwalt, yang dimaksudkan untuk menyerang target yang berjarak 80 mil jauhnya, menggunakan amunisi yang sangat mahal untuk ditembakkan – satu amunisi Long Range Land Attack Projectile berharga hampir US$ 1 juta. Pembelian amunisi terebut berakhir dua tahun lalu, meninggalkan Zumwalt tanpa amunisi.

Sejak itu, Angkatan Laut telah mencari alternatif lain dengan keras.

Menurut Wakil Laksamana William Merz, Angkatan Laut akan mengembangkan amunisi yang cocok dengan meriam AGS 155 mm, atau sampai Angkatan Laut kelak mengganti meriam AGS 155 mm dengan sistem lain di masa depan.

Jadi, jika Angkatan Laut tidak dapat menemukan amunisi yang cocok untuk kapal perusak silumannya, mungkin berakhir dengan membuang semua sistem senjata untuk diganti dengan meriam dan amunisi lain pada akhirnya..

Meskipun mengalami kemunduran berulang kali, mulai dari kehilangan kemampuan siluman hingga masalah mesin dan sistem elektriknya, Angkatan Laut mengatakan, ” Zumwalt baik-baik saja.” Dan Merz mengatakan kepada Kongres bahwa kapal Zumwalt harus beroperasi pada tahun 2021.

Bussines Insider

 Posted by on Januari 25, 2019