May 152018
 

ilustrasi. (pixabay.com)

Jakartagreater.com – Duka Surabaya, Duka Indonesia. Hari Minggu 13 Mei dan Senin 14 Mei 2018, Indonesia kembali berduka. Surabaya, diguncang ledakan bom di beberapa lokasi Berbeda. Padahal, duka Indonesia belum reda setelah, Korps Brimob, Kepolisian kehilangan beberapa personel terbaiknya dalam kerusuhan yang terjadi di Rutan Cabang Salemba Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Kejadian ledakan bom yang mengguncang Surabaya kembali membuka mata kita bahwa teroris belum kalah. Teroris masih ada. Apalagi setelah kelompok ISIS berhasil dipukul mundur dari pertempurannya di wilayah Irak dan Syria, keberadaan sel-sel kelompok ini menjadi bias kembali. Namun, kelompok ISIS ini bisa saja menjelema menjadi kelompok-kelompok insurjensi kecil seperti pendahulunya Al-Qaeda.

Kelompok-kelompok insurjensi ini memang jarang melakukan serangan dalam skala besar, namun lebih sering melakukan serangan dengan skala kecil namun mematikan. Perang macam ini juga disebut dengan perang asimetris dimana pihak militer dengan kekuatan lebih besar melawan kekuatan yang lebih kecil (kelompok insurjen), dimana sering kali lawan menjadi bias dan tidak dapat divisualkan secara umum karena sering kali berbaur dengan masyarakat.

Target utama dari perang assimetris ini sendiri adalah psikologi lawan, dimana kemenangan hanya akan diperoleh ketika lawan hancur secara psikologis dan tidak bisa lagi melanjutkan peperangan. Gerakan insurjensi ini pun pada akhirnya berubah menjadi gerakan global dimana kematian Osama bin Laden tidak menghentikan gerakan teror yang terjadi diseluruh dunia.

Malah setelah kematian Osama bin Laden, dunia dihadapkan kepada teror baru yang disemai oleh pasukan ISIS. ISIS sendiri tercipta dari pecahan AQI dan kelompok-kelompok insurjensi lainnya di Irak yang memiliki konsepsi dan tujuan yang berbeda dengan Al-Qaeda. Gerakan terorisme global menjadi momok baru bagi sistem pertahanan dan kemanan suatu negara.

Mungkin, saat ini ancaman invasi dari negara lain cenderung kecil kemungkinan terjadinya. Namun aksis teror yang seketika terjadi di tengah masyarakat bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Perang melawan teror ini sendiri sebenarnya akan menjadi perang yang sangat panjang dan sulit ditumpas, karena kunci kemenangan mutlak dalam perang assimeteris adalah kemenangan secara psikologi.

Amerika Serikat, sebagai negara dengan kekuatan militer paling besar di dunia untuk saat ini saja kesulitan untuk memenangkan sebuah peperangan yang dinamakan Global War on Teror ini. Sejak didelakrasikan setelah kejadian 9/11, Presiden Obama sempat medeklarasikan bahwa Global War on Teror berakhir pada tanggal 23 Mei 2013, dan pasukan Amerika akan mulai ditarik secara berkala dari Afganistan pada akhir 2014.

Namun dalam perkembangannya, Terorisme di dunia tidak mati. Kemunculan ISIS, teror di berbagai negara Eropa, termasuk di Indonesia tetap ada. Faktanya, Kemenangan fisik dalam suatu operasi militer hanya menjadi salah satu jembatan agar kemenangan psikologi ini tercapai.

Oleh sebab itu, operasi militer dalam skala besar dalam menghadapi kelompok teror menjadi hal yang kurang disarankan. Pergelaran pasukan khusus yang efektif dengan didukung oleh teknologi menjadi opsi paling balik dalam melakukan perang terhadap terorisme ini.

Pemilihan target yang selektif didukung oleh informasi intelijen yang tepat dan akurat akan menjadikan musuh lebih cepat kalah secara psikologi, dibanding dengan menggelar operasi dalam skala besar yang hanya menguras tenaga, biaya, dengan jumlah korban yang banyak pula.

Pendekatan yang bersifat non-militer juga harus dilakukan dalam penanganan aksi teror dewasa ini. Pendakatan ini penting dilakukan karena inti dari terorisme adalah sebuah ideologi. Terorisme layaknya seperti virus yang akan mampu bertahan, berkembang biak dan menungu waktu untuk kembali beraksi walaupun digempur oleh persenjataan canggih apabila dasar ideologi pelaku teror tidak bisa dikalahkan.

Sel-sel tidur teroris yang kembali aktif setelah adanya momentum untuk bergerak kembali menjadi bukti bahwa kemenangan secara psikologi atas terorisme merupakan sesuatu yang harus tercapai.

Maka dari itu, merebut hati dan pikiran dari pelaku terorisme maupun masyarakat menjadi suatu strategi penting dalam memenangkan perang melawan gerakan terorisme global ini. Waspada, Teror bisa hadir di mana saja dan kapan saja. Mari kita lawan terorisme bersama-sama. Stay Strong Surabaya, Stay Strong Indonesia. #BersatuLawanTerorisme.

Penulis : Prasta Kusuma, S.IP
Alumni Ilmu Pemerintahan UNPAD

Bagikan :

  28 Responses to “Waspada, Terorisme Masih Ada!”

  1.  

    Pendekatan yang bersifat non-senjata wajib dilakukan dalam penanganan aksi teror, yaitu aksi pendekatan ideologi, ideologi mereka layaknya seperti sel-sel yang kapanpun bisa bangun akibat treatment yang salah sehingga memicu sel-sel menjadi ganas, untuk mengurangi sel-sel ganas ini, langkah-langkah pemerintah perlu memberikan additif dan pendekatan hati yang bisa menetralisir ideologi mereka menjadi pasif dan lumpuh, sehingga sel-sel tersebut bisa di kendalikan, sehingga mereka bisa hidup layaknya masyarakat biasa. Kepolisian perlu merubah mainset protap mereka, bukan menganggap orang-orang yang menyimpang ini sebagai musuh tetapi Polisi sebagai media untuk menampung mereka kembali ke jalan yang benar, baik itu dengan pendekatan ulama, sosial kemasyarakatan dsb. Pendekatan dengan senjata adalah pilihan terakhir jika memang perlu di ambil langkah tegas yang bisa membahayakan keamanan dan stabilitas nasional.

  2.  

    aink teu sieun..!!!!

  3.  

    Pemerintah Terlalu Fokus Pemblokiran Situs/Medsos Porno, Sedangkan Situs/Medsos Paham Sesat Radikal, Cara Bikin Bom, Komunis dan Cuap2 OPM Agak Longgar, Tp Jgn Khawatir Cuma Ideologi Pancasila & Paham Super Hero Marvel, Jadi Jangan Lupa Nonton Wiro Sableng 212 Bulan Agustus Dan Deadpool 2 Hari Ini Tgl 15 May, Coming Soon Super Hero Gundala 2019

  4.  

    Klu POLRI blm mampu menjaga kestabilan keamanan Nasional pemerintah wajib melibatkan intelegent militer untuk kontra terorisme dgn tetap berkoordinasi dgn BNPT dan POLRI jg RUU terorisme hrs cepat diselesaikan dgn sempurna sebagai payung hukumnya!

  5.  

    Kalau Waspada, teroris masih ada, jadi apa persiapan aparat keamanan indonesia?

    Hahhaahaaaa

  6.  

    WASPADA SOK NASIONALIS BISA MEMBUAT CHAUVUNIS.

    #Edisi Mancing Mania

  7.  

    Tapi jimsul yg bangkit dr kubur, lingkar yg dikubur

    Hahhaahaaaa

  8.  

    kalau mau kekhilafaan. coba diterapkan di sungai dulu bisa gak jamaah iqaniyah menerima konsep tersebut seperti yg pendahulu2nya yg menginginkan utopia sosialikanisme yg berinstitusi otoriter di tahun 60an

  9.  

    Inti permasalahannya ad di DPR, selama RUU terosisme blum disahkan oleh DPR, Polri akan semakin susah untuk mengantisipasi aksi terror.

    •  

      itu penangulangan jangka pendek dek…tidak bisa jadikan penangulangan secara permanen….karna itu hanya mengobati….tidak menjadi pencengehan…
      coba dicari mengapa teror berkembang biak secara subur dinegara berkembang dan miskin…selain dari tingkat pendidikan dan pemahaman yang dangkal juga faktor ekonomi dan keadilan sosial jadi pupuk alaminya…!!!

      •  

        Ah gak juga, bergolongan itu ada hanya karna kekuasaan yg ingin brkuasa & siapa kekuasaannya yg jaya maka punya pengikut, sekarang teroris semakin jaya maka pengikutnya makin brtambah

        Hahhaahaaaa

  10.  

    Jujur saja sebenarnya setiap kali mau beribadah tetap saja ada rasa was-was dan takut, tetapi karena itu urusan dengan Tuhan ya akirnya apapun resikonya ya berusaha dikesampingkan… tidak tahu, mungkin suatu saat bisa saja saya jadi korban juga…
    Mereka melakukanya dengan prinsip yang kuat, dan saya beribadah dengan prinsip yang kuat juga jadi ya sudahlah… paling nanti kalau ketemu di akirat gantian digebukin kalau di ijinkan…

  11.  

    Saya setuju sama warga masyarakat yg menolak mayat teroris dikuburkan didaerahnya………

    Pak RT bilang…… “BUANGLAH SAMPAH SAMA TEMPAT2-NYA”

    •  

      Kata anggota perwakilan dari Perkumpulan Kelola Sampah
      sampah harus dibedakan antara Organik dan Non Organik mungkin niatnya utk Pembangkit Polixxx Tenaga Sampah agar bisa di daur ulang menjadi energi Polixxx terbarukan

 Leave a Reply