Sep 272016
 

Washington dan Tokyo telah menandatangani perjanjian bilateral untuk meningkatkan kerjasama logistik militer di tengah ketegangan yang semakin meningkat dengan Tiongkok.

Karena konstitusi pasifis, Pasukan Bela Diri Jepang memiliki keterbatasan dalam membantu misi militer Amerika Serikat. Beberapa bantuan yang dapat diberikan adalah makanan, minyak, dan jasa transportasi. Sedangkan yang tidak diizinkan adalah seperti amunisi.

Tokyo membuat perubahan besar dalam konstitusinya pada bulan Maret, sehingga memungkinkan pasukan Jepang untuk beroperasi di luar negeri dalam postur ofensif untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II.

Pada hari Senin, Washington dan Tokyo menandatangani Acquisition and Cross-Servicing Agreement (ASCA) yang mengambil keuntungan penuh dari sikap Jepang untuk lebih agresif.

“Perjanjian yang kita tandatangani hari ini akan memungkinkan kita untuk memuluskan pelaksanaan kerjasama (keamanan) antara Jepang dan Amerika Serikat, yang diperluas dengan undang-undang,” ujar Menteri Luar Negeri Jepang, Fumio Kishida, seperti dilansir Japan Times.

Sementara itu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Jepang, Caroline Kennedy, mengatakan bahwa perjanjian baru adalah “penting untuk kerja sama yang efektif.”

“Seperti kita bekerjasama untuk memodernisasi aliansi keamanan kami dan memberikan bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana di Pasifik, kita akan sangat dibantu dengan usaha integrasi bahwa perjanjian ini memungkinkan,” ujar Caroline Kennedy.

Sementara pengubahan ASCA tidak memungkinkan ketentuan senjata, itu tidak mengizinkan Tokyo untuk menyediakan amunisi bagi pasukan Amerika Serikat terlibat dalam pengumpulan informasi, operasi anti pembajakan, atau snap drills. Amerika Serikat dan Jepang telah ditarik semakin dekat dalam upaya yang jelas untuk menghalangi pengaruh Tiongkok yang tumbuh di wilayah tersebut. Di Laut Cina Timur, Tokyo dan Beijing saling berselisih atas pulau-pulau Senkaku.

Sebelumnya pada hari Senin, jet tempur Jepang telah menanggapi latihan udara militer Tiongkok yang terbang di langit dekat Selat Miyako. Pemerintah Tiongkok menyebut reaksi Jepang itu berlebihan.

Sumber: Sputnik News

Bagikan:
 Posted by on September 27, 2016