Aug 082012
 


Momen di penghujung tahun 2012 ini akan terasa spesial bagi rakyat Indonesia. Berbagai alutsista canggih datang dan meramaikan HUT TNI 5 Oktober nanti.

Alutsista yang datang antara lain: 15 MBT Leopard 2A6 dari Jerman, 4 pesawat Super Tucano dari Brasil dan Meriam Caesar 150mm dari Perancis.

Keistimewaan ini bertambah dengan penampakan kapal siluman Trimaran yang akan dipamerkan di Indo Defence bulan November 2012. Belum lagi pembelian 6 pesawat SU 30 MK 2, yang gelombang pertamanya dihartapkan datang di akhir tahun 2012.

Super Tucano TNI AU

Adapun 3 korvet/ light frigate nakhoda Ragam Class sedang diretrofit dan repowering di Lursen Jerman, diharapkan tiba di tanah air pada tahun 2013.

Kejutan lainnya adalah pesawat KFX/ IFX kerjasama PT DI dan Korea Selatan. Pesawat generasi baru ini akan merampungkan 6 prototypenya pada tahun 2013.

Alutsista lain yang ditunggu-tunggu adalah MLRS Astros II dari Brazil. Jika tidak ada aral melintang, roket multi launcher ASTROS II ini akan menjadi milik TNI AD dalam waktu dekat.

Dengan datangnya roket multi launcher Astros II, wibawa TNI akan meningkat dan semakin disegani. Militer negara tetangga tentu berpikir berkali-kali jika menggeser patok perbatasan RI, karena bisa menjadi “kornet”, disalvo oleh roket Astros II.

Astros II biasanya dikelompokkan dalam baterai artileri 13 kendaraan: 6 kendaraan berupa peluncur, 6 truk pemasok roket dan 1 kendaraan radar dan fire control. Setiap truk membawa roket 2 baterai roket lengkap.

Astros II antara lain digunakan oleh: Irak, Arab Saudi, Malaysia, Qatar dan Bahrain. Arab Saudi menggunakan Astros II dalam perang teluk pertama tahun 1991 serta digunakan oleh militer Anggola dalam mengalahkan UNITA.

Kini Brazil sebagai produsen Astros II sedang mengembangkan Astros agar bisa menembakkan rudal jelajah TM AV-300-km serta sebagai senjata pertahanan Anti Pesawat.

Satu baterai Astros II bisa menembakkan jumlah roket yang bervariasi dari 4 hingga 32 roket, tergantung diameter roket yang ditembakkan:

Rentang tembakan Astros II: SS-30: 9-30 km, SS-40: 15-35 km, SS-60: 20-60 km, SS-80: 22-90 km, SS-150: 29-150 km. (JKGR).

Bagikan :

  12 Responses to “Coming Soon, MLRS Astros II Indonesia”

  1.  

    sebuah penantian dan pilihan menarik dari indonesia, patut kita tunggu hasilnya. semoga RHAN bisa diupgrade sehingga bisa menjadi senjata pendamping astros dan artileri udara indinesia

  2.  

    dibuatnya Rhan ini ya digunakan seperti Astros, Untung DPR gak bilang kenapa mesti beli astros kan RI sudah bisa bikin Rhan,, semua penelitian, pembuatan senjata itu untuk jangka panjang, seperti MBT, kapal selam, rudal dll. tp RI juga perlu senjata masa jangka pendek sebagai penggantian senjata tua.

    Klo sudah bs buat MBT pasti TNI akan beli senjata produk sendiri, klo rudalnya sudah kelas kendali pasti RI gak perlu lg import,semoga Rhan bs jd peluru kendali

  3.  

    Justeru “rudal” yang belum 100% bisa dikendalikan lebih ditakuti daripada rudal yang sebenarnya..

    •  

      rudal apaan neh ?? jangan kan rudal,tabung LPG 3 kg yg tidak terkendali klo meledak aja ditakuti wkwkwkwk. rudal kendali perlu untuk minimial salah sasaran, target dihancurkan telak, jangan sampe mau ngerudal rumah camat eh yang kena rumah pak RT kasian kan.

      •  

        Namanya rudal balistic coyyy…
        Diarah kan berdsarkan program di awal pada lintasan dan lentingan rudal..pada saat diluncurkan.
        Misal sekian setelah sekian detik belok kiri, seetelah sekian detik menukik…sesudah rudal dilepas tidak bisa diprogram lagi, dan membabi buta menuju sasaran.

  4.  

    ada kabar TNI AU akan dapat tambahan f-16 (hibah, diluar 24+6 hibah pertama, yang diperkirakan akan
    tiba di thn 2014) dari US (sudah di approved oleh senat katanya), apakah itu mungkin f-16
    bekasnya AU Italia, yang berjumlah 34 pesawat, yang baru baru ini dikembalikan ke US karena
    masa sewanya sdh habis ( AU Itali menyewa selama 10 thn) dan mereka sekakang menggunakan
    Typhoon, dari pada US keluar uang untuk penggudangan tu f-16, mending tawarkan ke TNI AU
    sebagai hibah, jadi US malah dapat uang karena refurbish/upgrade f-16nya (dari blok 15 ke
    blok 32 juga). Anybody knows about this ?…..

    •  

      ini sebetulnya keluar dari TOPIX. menurut berita memang betul, AS akan menambah hibah namun yang tiba tahun 2014 adalah yang hibah pertama 24+6, menurut saya mending di terima sajalah tapi hanya untuk suku cadang. karena khok riskan ya ? negara lain sudah pensiun tapi kita malah membelinya. mending kita fokus pada Sukhoi dan KFI/IFX ditambah Rafale mungkin. atau mungkin TNI mau menerapkan armada NYAMUK ? seperti China yang masih menggunakan MiG-21 sampai ratusan

  5.  

    Ane pernah baca klo roket astros dikendalikan dengan gps, ntu gps yang nyari titik targetnya si launcher (asumsi ane lanchernya mencari sudut tembak seperti pada mlrs konvensional) apa emang di roketnya dikasih seeker gps (glonass) apa gimana gan? ada yang tau nggak ya..

  6.  

    Gambar sketsa “Integrated Strike Missions” di atas sangat powerful dan mematikan. Sehubungan dengan pengadaan helikopter serang AH-64E Longbow, sebaiknya TNI melengkapinya dengan MLRS HIMARS. Roket-roket MGM-140 yang ditembakan MLRS ini, dengan dipandu GPS, cukup presisi mengenai sasaran seperti tank, radar, dll dalam jarak puluhan sampai ratusan kilometer. Sebuah Apache yang berhasil dijatuhkan Iraq, besoknya sudah dimusnahkan AS dengan menembakkan 2 roket MGM-140 dari HIMARS dari jarak jauh, agar tidak bisa dibedah teknologi sensitifnya.

    Seperti kita ketahui, radar Longbow di atas rotor AH-64E ini mampu mendeteksi 128 target sekaligus dan kemudian membuat 16 target paling utama yang akan dihancurkan dengan 16 missile Hellfire nya. Data link di AH-64E bisa juga mengirimkan posisi 128 target ini ke Air_land Tactical Control Centre atau ke AH-64D lainnya. Data dari Tactical Control Centre ini kemudian disebar ke unit-unit serang lainnya termasuk HIMARS. Target-target yang belum dihancurkan Hellfire AH-64E bisa dieksekusi dengan MGM-140 dari HIMARS di darat. Dalam case ini, AH-64E Longbow bertindak seperti pesawat peringatan dini AEW&C (Gila !) untuk mendeteksi sasaran di darat kemudian mentransmit data-data sasaran ke unit2 penghancur lainnya. Dalam mengumpulkan data-data target sekalian menembakkan Hellfire nya, AH-64E bisa sambil bersembunyi di balik pepohonan, bangunan, dll, dengan menyisakan kubah radar Longbow nya tetap nongol di atas bangunan/pepohonan.

    Roket-roket Astros II sepertinya dikenakan ke suatu area musuh dan tidak se akurat MGM-140 yang bisa diarahkan mengenai target tertentu. Dan juga bisa dipastikan, data link dari radar Longbow AH-64E tidak kompatibel dengan sistem di Astros II shg tidak bisa sharing data. Dengan tidak adanya unit-unit penghancur presisi dari darat semacam HIMARS dengan MGM-140nya, sayang kalau seluruh keunggulan AH-64E Longbow tidak dimanfaatkan maksimal. Dalam hal Apache ini kemudian ditembak jatuh, data-data yang sudah berhasil disebar ke banyak HIMARS masih bisa dipakai untuk menghancurkan sasaran-sasaran tsb. — kecuali kemudian sasaran tsb sudah berpindah tempat.

 Leave a Reply