Wingday 22 Penerbang Tempur, Angkut dan Helikopter

Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna memeriksa pasukan saat upacara ‘wingday’ lulusan Sekolah Penerbang (sekbang) A-90 tahun 2016 di lapangan Jupiter, Adisutjipto, DI Yogyakarta, Jumat (23/12). (Antara Foto /Andreas Fitri Atmoko)

Sleman – Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna melantik 22 penerbang dari sumber Perwira Sukarela Dinas Pendek dalam upacara “Wingday” di Lapangan Jupiter Pangkalan TNI Udara Adisutjipto Yogyakarta, Jumat.

Sebanyak 22 penerbang yang dilantik tersebut merupakan lulusan Sekolah Penerbang (Sekbang) TNI angkatan 90/PSDP angkatan 29.

Marsekal Agus mengatakan, dari ke 22 penerbang, enam berasal dari TNI AU dan 16 dari TNI AD, para penerbang muda ini telah menjalani pendidikan sejak Juli 2014 atau selama 33 bulan.

“Pendidikan diikuti 23 orang dan yang lulus ada 22 orang,” ujarnya.

Menurut dia, selama menjalani pendidikan, perwira penerbang ini menempati tiga jurusan, yakni pesawat tempur, pesawat angkut dan helikopter. Dari enam prajurit TNI AU yang menjalani pendidikan, tiga lulusan menjadi penerbang tempur dan dan tiga orang menjadi penerbang angkut.

Sedangkan yang berasal dari TNI AD, 12 orang menjadi penerbang helikopter dan empat orang menjadi penerbang transport.

“Harapannya mereka bisa menjadi airmanship,” katanya.

Ia mengatakan, selama menjalani pendidikan, mereka harus melalui tiga tahapan. Dua tahap pendidikan dilaksanakan di Lanud Adisumarmo Solo, meliputi pendidikan dasar keprajuritan (Diksarjurit), selama tiga bulan, dan pendidikan dasar golongan perwira (Diksargolpa) yang ditempuh 2 bulan.

“Kemudian tahap ketiga pendidikan dilakukan di Lanud Adisutjipto,” tuturnya.

Sebelum melakukan latihan terbang yang sesungguhnya, para siswa dibekali ilmu dan teori dengan pendidikan bina kelas atau “ground school” di Sekuadron Pendidikan (Skadik) 104. Selanjutnya siswa melaksanakan tahap bina terbang latih dasar di Skadik 101 dengan pesawat Grob120 TP-A.

Dari 22 lulusan, tiga lulusan terbaik di masing-masing jurusan yakni, Arfa Reza Utama (21) untuk pesawat tempur, Ryan Aditya Bagus Satria (23) di jurusan angkut dan Aula Nur Huda (23) di jurusan helikopter.

“Mereka yang sudah lulus menjadi soerang penerbang, harus benar-benar menjiwai menjadi seorang ‘airmanship’. Sebab, menjadi seorang penerbang akan cukup berbeda dari manusia biasanya. Menjadi penerbang itu hidup di dua alam, olehkarenanya harus memiliki disiplin pribadi dalam dirinya,” imbuhnya.

Marsekal Agus mengatakan, setelah menjadi penerbang, segala sesuatu harus terencana. Tidak goyah terhadap apapun. Sebab keputusan yang salah selama di udara, akan berakibat fatal.

“Saat di atas, penerbang hidup dalam tekanan yang tinggi,” katanya.

Upacara “Wing Day” tersebut dimeriahkan dengan “fly pass”, berbagai pesawat latih yang biasa digunakan untuk sekbang Lanud Adisutjipto, seperti The jupiter Aerobatik Team (KT-1 B Woong Bee), Pesawat Grob dan Cessna.

Sebelum digelar fly pass, sejumlah penerjun dari TNI AU dan Fasi Yogyakarta melakukan atraksi dari pesawat “microlight” dari Fasi DIY.

Tinggalkan komentar