Jun 212014
 

image

Pahlawan Devisa, sebuah kata yang sudah sangat akrab dan bahkan telah sangat melekat di setiap ingatan para kaum buruh atau pekerja. Tidak jelas dari mana asal-usul lahirnya kata ini, yang terdengar begitu manis, namun seringkali terasa amat sinis bahkan tragis.

Pahlawan, dalam pemikiran kebanyakan orang seringkali terlintas sebagai sosok yang agung, yang telah mengorbankan seluruh kehidupannya untuk mencapai sebuah cita-cita yang mulia dan luhur, atau bagi saya pribadi sewaktu masih kecil, pahlawan adalah individu yang mulia, yang telah berjasa pada bangsa dan negara, serta selalu terbayang ketika mengheningkan cipta. Hehehe..! Maaf, itu hanya pemahaman cetek saya terhadap pemaknaan kata pahlawan.

Baiklah, kita akan mencoba untuk merungkai silsilah lahirnya kata-kata manis ini. Bagi Indonesia dan Philipines, sektor ketenagakerjaan mempunyai nilai dan posisi yang sangat setrategis dalam pondasi perekonomian nasionalnya. Hasil pengiriman berupa uang dari luar negeri terus mengalir setiap tahunnya. Data remitansi/remitance, menunjukan jumlah yang diterima sampai akhir 2013 lalu sudah mencapai lebih dari Rp100 Triliun, atau kurang lebih setara dengan 10% dari nilai APBN yang ada. Fantastis..! Mungkin berangkat dari data inilah, kata-kata julukan atau pujian yang indah itu kemudian lahir.

Konon, sewaktu kita mengalami krisis multidimensi tahun 1998, nilai persentasenya bahkan jauh melebihi angka 10% dari APBN kita. Hal yang bisa kita maklumi, apabila mencermati kondisi perekonomian kita saat itu, hampir tidak ada aktivitas perekonomian yang berarti di kantong-kantong industri yang kita miliki. Semua perekonomian kembali bergerak dari hutan-hutan, kebun, ladang, sawah, tambak dan laut. Untungnya, kita adalah bangsa yang kaya..! Setidaknya, masih ada berkah terpendam yang tersimpan di setiap jengkal tanah dan laut kita.

Perkiraan masyarakat dunia terhadap akan musnahnya nama besar bangsa Indonesia, pudar sudah..! Fakta membuktikan, tetesan keringat bangsa Indonesia yang tersebar di antara hamparan sawah dan ladang, di balik belukar dan gelapnya hutan, di antara kering kerontang bukit dan bebatuan, di bawah atap langit hitam dan ganasnya gelombang pasang, di tengah rintihan pengemis, pelacur dan gelandangan, di dalam khusyuknya doa para pendeta dan alim ulama, serta diantara kerinduan syahdu musyafir kita yang tersebar di berbagai belahan dunia. Tuhan masih merestui bangsa Indonesia untuk tetap berdiri. Kini, perjuangan pahit itu telah mengantarkan bangsa Indonesia sebagai salah satu di antara penguasa ekonomi makro terbesar di dunia. Sebuah sejarah manis, yang baru tercapai setelah sekian puluh tahun kita merdeka, bahkan hanya beberapa tahun setelah kita terbebas dari cengkeraman krisis ekonomi.

Tapi kerja kita belum selesai. Jalan panjang nan terjal dan berliku masih terhampar luas di hadapan. Perjuangan kita masih panjang, dan langkah kita belum waktunya untuk berhenti. Kekosongan, kekurangan, kebobrokan, kerapuhan, keribetan dan keruwetan masih tersisa dan menyangkut dimana-mana. Masih diperlukan waktu yang cukup panjang dan orang-orang yang berkemampuan untuk menyingkirkan segala penghalang dan rintangan yang ada. Kerja keras kita jangan pernah menemui batas, nyatanya, negeri ini belum tuntas..! Ibarat keris Empu Gandring yang direbut Ken Arok saat belum kelar, sangat mematikan, tapi belum bisa menghidupkan, apalagi menghidupi…!

Dalam legenda masyarakat Jepang dikenal sebuah senjata pedang dengan kualitas dan kemampuan yang paripurna, yakni pedang Katana. Pedang ini sangat mematikan. Siapapun yang tergores dan tertusuk oleh ujungnya, maka akan segera menemui ajalnya. Namun disebalik kemampuannya yang mengerikan, pedang ini juga dibekali oleh kemampuan untuk menyembuhkan. Artinya, selain mematikan, pedang ini juga masih bisa menghidupkan. Ujung pedang yang beracun, diimbangi oleh penawar bisa yang tersimpan di ujung gagangnya..! Pendek kata, saya ingin mengatakan bahwa bangsa kita belum sampai pada tahap yang paripurna.

Kita masih wajib untuk berlari kencang mengejar ketertinggalan, bekerja keras untuk mencukupi kekurangan, serta belajar yang tekun untuk meningkatkan kemampuan. Jangan pernah terlena dengan segala keberhasilan yang telah diraih, sejatinya, masih begitu banyak saudara-saudara kita yang gagal melangkah dalam barisan, tereliminasi dalam dunia kompetisi dan terkubur dalam doa dan harapan yang terlampau panjang. Sekedar untuk mengingatkan kita semua, saya ingin memetik tragedi pilu yang baru saja di alami saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia, yang mengalami nasib naas saat mereka berniat pulang kampung dengan menaiki kapal-kapal kayu yang biasa digunakan untuk mengangkut barang.

image

Kapal-kapal itu pecah di tengah lautan, dan beberapa di antara mereka harus meregang nyawa diterjang gelombang, beberapa lagi hilang dan belum ditemukan, serta sebagian selamat tetapi harus dirawat di rumah sakit. Sungguh sangat memilukan, sekaligus juga sangat memalukan, apabila pemerintah tidak segera bertindak, melakukan segala perbaikan yang diperlukan. Kejadian ini bukan hanya terjadi saat ini, sudah sangat sering dan akan selalu terjadi di setiap menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Lebaran, setiap tahun..!

Setiap tahun mereka menjadi korban, dan setiap saat mereka menjadi komoditas politik dan ekonomi bagi para pemimpin dan pemimpi yang tak bertanggung jawab. Dalam setiap orasinya, nama mereka harum semerbak kesturi, dipuja bak dewa, dianugerahinya gelar Pahlawan Devisa, dijadikannya sebagai simbol kekuatan bangsa dan negara. Tapi dalam realitinya, mereka seringkali menjadi sapi perah yang kurus kering, dipandang sebelah mata, mendapat perlakuan yang diskriminatif, bahkan dianggap busuk bak sebongkah tai. Pahlawan hanya menjadi sebuah kata rayuan, bukan sebuah kata pengakuan yang tulus, apalagi sebuah penghargaan. Hehehe..! Dalam tahun politik, kehadirannya seperti malaikat dan setan, begitu dekat dan begitu rapat. Tetapi setelah itu, mereka amat jauh dari jangkauan ataupun pandangan.

Kata Pahlawan Devisa akan selalu menghiasi setiap epilog di panggung politik, tetapi setelah mereka gagal atau berkuasa, para Pahlawan Devisa itu tidak pernah menemukan berkah dan titik cerah, yang ada hanyalah titik noktah alias titik akhir. Ketika cerita petualangan mereka berakhir, segalanya pun turut berakhir. Doa, harapan, cinta dan cita-cita, terkubur dalam getir. Selamat jalan saudaraku, semoga damai di sisi sang Khalik..! Doa dan cinta kami akan selalu ada untukmu..! Dari kami yang amat mencinta, tapi belum bisa memberikan makna apa-apa..! Salam hangat bung..! (yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 21 June 2014).

  131 Responses to “Wira Tak Didendang: PAHLAWAN DEVISA”

  1.  

    Amien ya robul ‘alamiin..!

  2.  

    salam kenal n hormat bung @yayan…miris juga ya membaca artikelnya…manis dibibir.Pahit ditelan sendiri…Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..semoga bangsa ini bisa lebih memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada pahlawan devisa ini…ditunggu artikel berikutnya bung.

  3.  

    innalillahi wa innailaihi rojiun …
    cuma bisa sumbang saran :
    1. perbaiki birokrasi & permudah urus dokumen TKI spy tdk ada lg TKI gelap (tanpa dokumen)
    2. perbaiki transportasi laut dg menyediakan kapal laut yg baik, buka resmi jalur nya.
    3. anggap TKI yg pergi/pulang sbg duta bangsa & hilangkan jalur khusus kedatangan TKI di airport, perlakukan TKI sbg penumpang biasa
    4. jgn anggap TKI sbg sapi perah dg pungli yg mencekik dlm urusan dokumen di Indonesia maupun di kedubes RI di LN, bebaskan dari biaya birokrasi
    5. bantulah TKI yg memp masalah di negri orang
    *** tetep ngarep presiden baru yg tegas utk menghilangkan oknum2 pemeras TKI, hilangkan peraturan2 yg bikin mumet
    salam

  4.  

    Setuju bung..! Hehehe..! Hore..! Saya juga telah turut dalam pembelian alutsista..!

  5.  

    HAPUSKAN JALUR TKI DI SMUA BANDARA, HAPUSKAN KTKLN, SMUA ITU NYATA NGAA ADA GUNANYA, SMUA ITU MALAH MENYUSAHKAN

  6.  

    Inalillahi wainaillaihirojiuun
    semoga keluarga yg d tinggalkan diberi ketabahan dan juga semoga amal ibadah almarhuma di terima di oleh allah SWT.
    amiin πŸ™‚

  7.  

    Jadi inget pengalaman saya beberapa tahun lalu ketika ada tugas kantor ke Copenhagen. Ketika pulangnya transit di Dubai banyak bertemu dengan TKW yang bekerja disana dan ingin pulang ke Indonesia. Karena satu flight, dan sambil menunggu pesawat akhirnya karena mereka tau kita dari Indonesia akhirnya merekapun merasa nyaman berbicara dengan saya. Banyak hal yang miris yang saya dengar dari mereka. Saya lupa nama mereka, tapi yang saya ingat yang 1 berasal dari jawa tengah, dan 1 lagi dari tangerang. Mereka bekerja di Arab Saudi dan sedang transit juga di Dubai. Yang dari Jawa Tengah selalu memiliki rasa takut ketik berada di Soetta dan meminta izin kesaya agar di Soetta nanti bisa bergabung dengan grup saya yang memang jumlahnya cukup banyak ketika melewati imigrasi dan BC. Saya bingung kenapa begitu? Karena dia selalu berurusan dengan oknum dari B**2*** yang meminta sejumlah uang, bahkan ada yang melakukan pelecehan verbal. Informasi yang saya dapat dari dia bahwa ketika TKI sampai di Indonesia, mereka harus melalui pintu imigrasi khusus ( paspor TKI biasanya juga khusus jadi mudah dikenali). Setelah dari pintu imigrasi dan BC untuk yang melanjutkan ke kemapung halama dengan darat akan dijemput oleh kendaraan dari B**2*** dan ini wajib sehingga mereka tidak bisa menuju rumah sendiri menggunakan kendaraan umum. mirisnya biasanya mereka dimintai sejumlah uang transportasi untuk mengantar mereka walaupun mereka menolak untuk diantarkan dan memilih kendaraan umum. Yang disampaikan ke saya waktu itu besarannya minimal 500ribu rupiah. Bahkan ada yang mendapat pelecehan selama di kendaraan. Jadi kendaraan ini akan mengantar ke lokasi yang terjauh dulu, dan yang terdekat yang paling terakhir. Sampai-sampai TKW yang ketemu saya ini pasrah kalo mau dimintain uang dia nggak bawa apa-apa cuma bawa tiket dubai-jkt, dan tiket penerbangan lokal Jkt-Jateng. Barang berharga yang dibawa hanya paspor dan 1 buah HP Samsung saya lupa tipe nya tapi cukup bagus karena saya sempat dimintai tolong mengganti sim card nya waktu di dubai dan ketika di jakarta. Dia memang tidak bawa uang sama sekali karena nanti dia akan dijemput di bandara di jateng oleh suaminya. Ketika sampai di Soetta dia menelepon suaminya dan memberi kabar serta minta dijemput dibandara di jateng, kemudian dia ikut grup saya tetapi oleh petugas diminta melalui pintu imigrasi khusus TKI. Saya hanya menarik nafas ternyata di sini di negaranya sendiri mereka malah merasa tidak aman dan ketakutan. Nb: TKI/TKW ini bekerja di sektor informal.

    •  

      Assalamualaikum wr.wb
      terima kasih bung sharing informasinya,
      kalau menurut bung sendiri sistem pengawasan seperti apa untuk meminimalisir atau bahkan menghilangkan petugas” yg nakal seperti yg d sampaikan bung πŸ™‚
      serta apa ada komite etik untuk hal tersebut kalau ada sejauh mana perannya πŸ™‚
      karena jujur kasian mereka para TKI/TKW yg sudah berjuang mati”an untuk bangsa ini.
      tp sayang sekali jg bung saya cuma bs sharing” pendapat aj namun tidak punya akses kemana” saya hanya orang biasa bung πŸ˜€

      •  

        Sebetulnya susah juga bung kalo memang mental oknum aparat, pejabat, dan rakyat kita seperti itu. Sistem prosedur dan pengawasan yang dibuat pun tergantung kepada orang yang menjalankannya. Jika memeang itikadnya tidak baik, pasti ada celah yang bisa mereka manfaatkan. Itu sekelumit kisah TKI kita yang saya dengar langsung dari mereka. Walaupun memang sempat santer di media mengenai pungli terhadap TKI yang pulang ke tanah air tercinta ini, toh tetap saja pungli tetap terjadi walaupun pejabat institusi tersebut pernah bilang tidak ada pungli bagi para TKI dan kendaraan dinas yang dipersiapkan oleh B**2*** untuk menjemput TKI dari bandara ke rumah mereka masing-masing tidak dikenakan biaya. Tapi yang terjadi dilapangan tidak seperti itu.
        Saya yakin sebetulnya pejabat yang berwenang tau apa yang terjadi di institusi nya, cuma apakah berani dan mau membabat oknum-oknum tersebut sehingga menjadi pelajaran juga bagi yang lain. Apalagi klo ternyata pemimpinnya juga menikmati hasil nya.
        Bos saya yang orang India pernah bercerita sebuah kejadian di imigrasi Soetta ketika beliau akan kembali ke Indonesia setelah perjalanan dinas. Waktu itu beliau melihat ada seorang pria yang diduga dari timur tengah dibarisan antrian imigrasi terlihat gelisah sambil memegang paspor. Kemudian dia menyelipkan uang di paspor tersebut, dan ketika melewati petugas imigrasi lancar saja tanpa ada pertanyaan dan lain-lain padahal di bandara banyak terdapat cctv. Bos saya hanya geleng-geleng kepala dan berasumsi bahwa ada yang salah dengan orang timur tengah ini karena perilakunya yang tidak semestinya. Tapi dengan menyelipkan sejumlah uang, semua berjalan lancar. Kebetulan Bos saya berada persis dibelakang orang tersebut. Kejadiannya Tahun lalu klo saya nggak salah. Jadi sistem pengawasan apapun yang diterapkan selama orang yang menjalankan sistem itu tidak memiliki itikad baik maka sistem tersebut akan sia-sia. Sistem hanyalah benda mati, semua tergantung kepada pengguna sistem nya. Yang saya tau sebetulnya ada institusi ombudsman yang bertugas menerima pengaduan masyarakat sehubungan dengan pelaksanaan tugas aparatur pemerintahan, cuma kembali lagi apakah orang yang menjalankan sistem nya memiliki itikad baik. Akhirnya masyarakat pun skeptis terhadap semua institusi.

        •  

          Assalamualaikum wr.wb
          tp bukan berarti semua mental kita seperti itu dong.
          kalau anda menggaris bawahi semua mental kita kek gitu ya anda salah πŸ˜€
          misal ada sebuah kasus di mana anda di daerah wabah korupsi, sedangkan anda tidak melakukan korupsi namun kebanyakan dari rekan anda korupsi, apa mau anda dikatakan korupsi juga? sehingga perlakuan yg anda terima sama yaitu masuk penjara πŸ˜€
          hehehehe πŸ˜€
          kalau salah ya maaf πŸ˜€
          maaf kalau oot πŸ˜€

        •  

          yang perlu di ubah sebenarnya adalah dimana hari esok dan seterusnya masih ada jaminan bahwa keperluan kita masih bisa terpenuhi semua πŸ˜€
          yaitu ketenangan pikiran πŸ˜€
          dulu saya masih ingat dimana saat harga pangan masih murah, saat berkunjung kerumah seseorang mesti kita banyak disuguhi oleh berbagai macam makanan, namun sekarang orang” terkesan pelit karena memang kondisinya yang mendukung untuk tercipta hal itu, la sekarang aj kencing aj bayar beda dengan jaman dulu dimana seorang yg berpenghasilan 2500 perhari bisa membeli makanan dengan ikan daging bahkan dalam porsi besar plus minum lagi πŸ˜€

  8.  

    Terima kasih untuk segala masukannya. Salam hangat bung..!

  9.  

    Pada hasil riset
    McKinsey dan Standard Chartered mengatakan bahwa ekonomi
    Indonesia akan melampau Jerman
    dan Inggris pada tahun 2030….sapa tau dmasa yg akan datang bukan hanya malaysia tujuan pekerja asing tp indonesia juga….ngomong2…kata alay populer juga kah di malaysia bung yayan??hehehe…salam hangat bung…

    •  

      Setiap hari orang Malaysia dicekokin sinetron Indonesia, gimana gak sampe ketularan bung? Hehehe..! Kalau saya sering dengar dari anak saya aja.

  10.  

    Pengen sekali ketemu teman2 warjager di Malaysia. Saya senin malam Insyallah di Kuala lumpur, kita kopdar gimana?

    •  

      Wah menarik sekali bung Jalo..! Tapi sayang, besok sore saya harus ke Serawak dan Sabah. Biasa, tugas rutin saya setiap minggu terakhir. Nyesel banget nih. Seandainya hari ini kita berada di KL, tadi pagi saya ajak berlayar. Bung Jalo juga bisa bertanya banyak tentang perkembangan militer Iran dari ipar-ipar saya. Kami lagi ngumpul semua. Semoga masih ada kesempatan lain untuk bersua. Selamat datang di Malaysia. Selamat menikmati hawa panas yang menyengat. Disini sudah lama gak turun hujan. Siap-siap aja t-shirt dan baju berbahan katun. Hehehe..! Tapi jangan khawatir, Sogo lagi sale tuh. Tshirtnya murah-murah..! Gini aja, saya akan konsolidasi dengan teman-teman, nanti setelah oke, saya undang bung Jalo dkk. Saya akan minta sponsor untuk menyelenggarakannya. Kalau perlu, kita ajak military blog di Malaysia juga, biar seru. Nanti saya undang beberapa individu yang selama ini menjadi sumber informasi saya. Soal tempat, saya yang bertanggungjawab..! Salam hangat bung..!

      •  

        @bung jalo n bung yayan .. Kalo dh kopdar, jgn lupa hasil diskusinya d sharing dsni y πŸ˜€ .. Ngarep.com

        Back to SR

      •  

        Hla iya toh bung..Semoga bertemu Anda berdua. Nanti rumusan apa-apa di sana yang dapat dirupakan artikel monggo nanti suguhkan. Dibumbui sana dan sini dengan perisa ya ndak papa. Turut berduka atas kecelakaan TKI bung. Ya Allah menyedihkan betul nasib TKI kita. Ditambah ungkapan Bung Cakra itu. Insya allah yang meninggal memperoleh maqam mukhlisin..amien.

      •  

        Siap bung Yayan, nanti kalau main kesana saya kabarin lagi. Cuman beberapa hari aja disana, lalu lanjut ke Myanmar, πŸ™‚

        Mudah2an ada kesempatan lain, thanks atas undangannya bung
        πŸ™‚

  11.  

    Turut berduka cita , semoga arwahnya diterima disisi-Nya…amin….

  12.  

    Salam bung yayan. Saya turut berduka atas kejadian yg menimpa saudara kita. Semoga capres yg terpilih yg mengerti permasalahan bangsa dan negara ini dan mengetahui kesusahan rakyatnya dan bisa memberikan solusinya. Teeimakasih bung yayan atas tulisanya. Bung yayan adalah salah satu anak bangsa yg telah peduli pada bangsa dan negara ini. Bung yayan bisa mengajak bersimpati, berbangga, membanngkitkan nasionalizme, bisa msngajak berfikir untuk bangsa ini. Melalui karya tulisanya. Menurut saya bung yayan adalah pahlawan juga. Menurut saya pahlawan bukan hanya yg mengankag senjata. Dengan pena pun seseorang juga bisa menjadi pahlawan. Teruskan perjuanganya bung yayan melalalui karya tulisan yg banyak bermanfaat ini. Smoga Allah SWT selalu melindungi, memberikan kebaikan kpd bung yayan sekeluarga….amin…

  13.  

    Kekuatan besar ini seharusnya dikelola dng baik, maka akan menghasilkan kesejahteraan lebih baik.ciptakan wiraswastan muda indonesia,beri fasilitas kredit yg mudah.agar dapat menciptakan lapangan kerja.

  14.  

    Salam hangat jg buat bung yayan.
    Trma ksh bung yayan atas artikel2 anda. Sy sngt menyukai gaya bahasa anda. Tata bahasa dlm kalimat2 anda mengingatkan sy kembali dgn novel2 sastra lama indonesia.. Klu anda berkeinginan utk mjd seorang penulis novel, sy bersedia utk mjd pembeli pertamanya! Hehehe

    Dan terima ksh jg buat para sesepuh JKGR lainnya atas artikel2nya yg mencerdaskan dan memupuk rasa nasionalisme para readernya. Maju terus JGKR!

  15.  

    Assalamualaikum…membaca artikel ini,jadi teringat kisah bapak saya dan teman”nya sewaktu jdi tki di malaysia..mulai ditipu agen,gaji yang gag sesuai karena disunat sana sini,keluar masuk hutan demi menghindari aparat,bahkan pernah kami di rumah menunggu uang kiriman untuk biaya sekolah harus gigit jari lantaran uang itu dipakai bapak buat nebus temannya yang ditangkap aparat negeri jiran sana.tapi alhamdulillah bapak bisa pulang dengan selamat setelah lima tahun kerja disana.bahkan ada seorang teman saya yang masuk kehutan dan tdak berani keluar selama setahun lebih dan akhirnya bisa keluar karena ditemukan oleh tki yang lainnya..semoga kedepannya tidak ada lagi kasus” seperti ini yang terjadi.semoga pejabat” terhormat yang ada dipemerintahan lebih mementingkan nasib rakyatnya daripada perut mereka sendiri….salam hormat untuk anda bung@yayan…

  16.  

    Ass, makna yg dalam tp menawan di tutur dg bhs indah. Sy baru sebulan ini mengikuti warjager. Menyesal ndak sejak dulu. Hati2 di negri orang. Was

  17.  

    Pedih

  18.  

    Bung Karno ;
    ” Perjuanganku Lebih Ringan Karena Mengusir Penjajah, Sebailknya Tugasmu Lebih Berat Karena Musuhmu Bangsamu Sendiri”

  19.  

    @Bung Yayan,, Luar biasa….. saya hanya bisa mendoakan semoga Bung Yayan dan keluarga selalu dilindungi oleh Allah SWT dari ancaman apapun itu, dan terus berkarya utk kita permirsa warjager disini. aminnnn..
    salam hangat bung.
    Dari kami penjual kaos oblong rawa lele.

  20.  

    45 buat atom 50 jadi TKI.
    88 buat pespur 98 jadi TKI.
    20 buat Thermoelektrik 15 jadi TKI.
    “Tahun 2045 Indonesia menjadi negara yang
    kuat dan akhir abad 21 menjadi negara maju,”
    ucapnya

 Leave a Reply