Wira Tak Didendang: PAHLAWAN DEVISA

Pahlawan Devisa, sebuah kata yang sudah sangat akrab dan bahkan telah sangat melekat di setiap ingatan para kaum buruh atau pekerja. Tidak jelas dari mana asal-usul lahirnya kata ini, yang terdengar begitu manis, namun seringkali terasa amat sinis bahkan tragis.

Pahlawan, dalam pemikiran kebanyakan orang seringkali terlintas sebagai sosok yang agung, yang telah mengorbankan seluruh kehidupannya untuk mencapai sebuah cita-cita yang mulia dan luhur, atau bagi saya pribadi sewaktu masih kecil, pahlawan adalah individu yang mulia, yang telah berjasa pada bangsa dan negara, serta selalu terbayang ketika mengheningkan cipta. Hehehe..! Maaf, itu hanya pemahaman cetek saya terhadap pemaknaan kata pahlawan.

Baiklah, kita akan mencoba untuk merungkai silsilah lahirnya kata-kata manis ini. Bagi Indonesia dan Philipines, sektor ketenagakerjaan mempunyai nilai dan posisi yang sangat setrategis dalam pondasi perekonomian nasionalnya. Hasil pengiriman berupa uang dari luar negeri terus mengalir setiap tahunnya. Data remitansi/remitance, menunjukan jumlah yang diterima sampai akhir 2013 lalu sudah mencapai lebih dari Rp100 Triliun, atau kurang lebih setara dengan 10% dari nilai APBN yang ada. Fantastis..! Mungkin berangkat dari data inilah, kata-kata julukan atau pujian yang indah itu kemudian lahir.

Konon, sewaktu kita mengalami krisis multidimensi tahun 1998, nilai persentasenya bahkan jauh melebihi angka 10% dari APBN kita. Hal yang bisa kita maklumi, apabila mencermati kondisi perekonomian kita saat itu, hampir tidak ada aktivitas perekonomian yang berarti di kantong-kantong industri yang kita miliki. Semua perekonomian kembali bergerak dari hutan-hutan, kebun, ladang, sawah, tambak dan laut. Untungnya, kita adalah bangsa yang kaya..! Setidaknya, masih ada berkah terpendam yang tersimpan di setiap jengkal tanah dan laut kita.

Perkiraan masyarakat dunia terhadap akan musnahnya nama besar bangsa Indonesia, pudar sudah..! Fakta membuktikan, tetesan keringat bangsa Indonesia yang tersebar di antara hamparan sawah dan ladang, di balik belukar dan gelapnya hutan, di antara kering kerontang bukit dan bebatuan, di bawah atap langit hitam dan ganasnya gelombang pasang, di tengah rintihan pengemis, pelacur dan gelandangan, di dalam khusyuknya doa para pendeta dan alim ulama, serta diantara kerinduan syahdu musyafir kita yang tersebar di berbagai belahan dunia. Tuhan masih merestui bangsa Indonesia untuk tetap berdiri. Kini, perjuangan pahit itu telah mengantarkan bangsa Indonesia sebagai salah satu di antara penguasa ekonomi makro terbesar di dunia. Sebuah sejarah manis, yang baru tercapai setelah sekian puluh tahun kita merdeka, bahkan hanya beberapa tahun setelah kita terbebas dari cengkeraman krisis ekonomi.

Tapi kerja kita belum selesai. Jalan panjang nan terjal dan berliku masih terhampar luas di hadapan. Perjuangan kita masih panjang, dan langkah kita belum waktunya untuk berhenti. Kekosongan, kekurangan, kebobrokan, kerapuhan, keribetan dan keruwetan masih tersisa dan menyangkut dimana-mana. Masih diperlukan waktu yang cukup panjang dan orang-orang yang berkemampuan untuk menyingkirkan segala penghalang dan rintangan yang ada. Kerja keras kita jangan pernah menemui batas, nyatanya, negeri ini belum tuntas..! Ibarat keris Empu Gandring yang direbut Ken Arok saat belum kelar, sangat mematikan, tapi belum bisa menghidupkan, apalagi menghidupi…!

Dalam legenda masyarakat Jepang dikenal sebuah senjata pedang dengan kualitas dan kemampuan yang paripurna, yakni pedang Katana. Pedang ini sangat mematikan. Siapapun yang tergores dan tertusuk oleh ujungnya, maka akan segera menemui ajalnya. Namun disebalik kemampuannya yang mengerikan, pedang ini juga dibekali oleh kemampuan untuk menyembuhkan. Artinya, selain mematikan, pedang ini juga masih bisa menghidupkan. Ujung pedang yang beracun, diimbangi oleh penawar bisa yang tersimpan di ujung gagangnya..! Pendek kata, saya ingin mengatakan bahwa bangsa kita belum sampai pada tahap yang paripurna.

Kita masih wajib untuk berlari kencang mengejar ketertinggalan, bekerja keras untuk mencukupi kekurangan, serta belajar yang tekun untuk meningkatkan kemampuan. Jangan pernah terlena dengan segala keberhasilan yang telah diraih, sejatinya, masih begitu banyak saudara-saudara kita yang gagal melangkah dalam barisan, tereliminasi dalam dunia kompetisi dan terkubur dalam doa dan harapan yang terlampau panjang. Sekedar untuk mengingatkan kita semua, saya ingin memetik tragedi pilu yang baru saja di alami saudara-saudara kita yang bekerja di Malaysia, yang mengalami nasib naas saat mereka berniat pulang kampung dengan menaiki kapal-kapal kayu yang biasa digunakan untuk mengangkut barang.

Kapal-kapal itu pecah di tengah lautan, dan beberapa di antara mereka harus meregang nyawa diterjang gelombang, beberapa lagi hilang dan belum ditemukan, serta sebagian selamat tetapi harus dirawat di rumah sakit. Sungguh sangat memilukan, sekaligus juga sangat memalukan, apabila pemerintah tidak segera bertindak, melakukan segala perbaikan yang diperlukan. Kejadian ini bukan hanya terjadi saat ini, sudah sangat sering dan akan selalu terjadi di setiap menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Lebaran, setiap tahun..!

Setiap tahun mereka menjadi korban, dan setiap saat mereka menjadi komoditas politik dan ekonomi bagi para pemimpin dan pemimpi yang tak bertanggung jawab. Dalam setiap orasinya, nama mereka harum semerbak kesturi, dipuja bak dewa, dianugerahinya gelar Pahlawan Devisa, dijadikannya sebagai simbol kekuatan bangsa dan negara. Tapi dalam realitinya, mereka seringkali menjadi sapi perah yang kurus kering, dipandang sebelah mata, mendapat perlakuan yang diskriminatif, bahkan dianggap busuk bak sebongkah tai. Pahlawan hanya menjadi sebuah kata rayuan, bukan sebuah kata pengakuan yang tulus, apalagi sebuah penghargaan. Hehehe..! Dalam tahun politik, kehadirannya seperti malaikat dan setan, begitu dekat dan begitu rapat. Tetapi setelah itu, mereka amat jauh dari jangkauan ataupun pandangan.

Kata Pahlawan Devisa akan selalu menghiasi setiap epilog di panggung politik, tetapi setelah mereka gagal atau berkuasa, para Pahlawan Devisa itu tidak pernah menemukan berkah dan titik cerah, yang ada hanyalah titik noktah alias titik akhir. Ketika cerita petualangan mereka berakhir, segalanya pun turut berakhir. Doa, harapan, cinta dan cita-cita, terkubur dalam getir. Selamat jalan saudaraku, semoga damai di sisi sang Khalik..! Doa dan cinta kami akan selalu ada untukmu..! Dari kami yang amat mencinta, tapi belum bisa memberikan makna apa-apa..! Salam hangat bung..! (yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 21 June 2014).

Leave a Reply