Oct 142015
 

353105_620

Indonesia, Irak, dan Malaysia telah mengajukan pembelian amunisi dan dua jenis rudal dari Amerika Serikat. Total dari pembelian alat perang oleh tiga negara itu sekitar US$ 431 juta atau setara Rp 5,6 triliun.

Seperti yang dilansir UPI.com pada 7 Mei 2015, ketiga negara itu memesan amunisi mortir daya ledak tinggi, AIM-9X-2 rudal Sidewinder, dan rudal AIM-120C7 AMRAAM melalui program Foreign Military Sales.

Badan Kerja Sama Pertahanan Keamanan AS yang mengelola program Foreign Military Sales (FMS) menyatakan kepada Kongres bahwa penjualan itu untuk melayani kepentingan keamanan nasional AS. Pemesanan oleh tiga negara tersebut juga telah mendapat persetujuan dari Departemen Luar Negeri AS.

Irak, lembaga itu menyatakan, secara khusus memesan satu paket berisi 5.000 amunisi mortir peledak 81 milimeter, 684 ribu amunisi M203 40 milimeter peledak tinggi, 532 ribu amunisi MK19 40 milimeter, dan 40 ribu bahan peledak 155 milimeter. Total semua amunisi senilai US$ 363 juta (Rp 4,7 triliun). Juga termasuk permintaan amunisi kecil untuk senjata, suku cadang dan perbaikan, dukungan peralatan, publikasi dan dokumentasi teknis, pelatihan personel, serta peralatan pelatihan.

“Penjualan ini juga mengusulkan amunisi tambahan yang sangat penting dalam memberikan kemampuan daya tempur lanjutan bagi Irak dalam memerangi pemberontakan ekstremis terorganisasi di Irak,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Terakhir, Irak pada Desember 2014 memesan 175 tank Abrams dan Humve, serta senapan mesin dan peluncur granat.

Indonesia telah memesan 30 AIM-9X-2 rudal Sidewinder dan sistem terkait agar mampu mengalahkan ancaman terhadap stabilitas regional dan dalam negeri. Sidewinder adalah rudal dari Raytheon lintas udara yang menggunakan homing inframerah sebagai kontrolnya.

Selain 30 rudal operasional, permintaan Indonesia terhadap FMS juga termasuk AIM-9X-2 rudal captive pelatihan udara, Blok II unit bimbingan rudal taktis, dan rudal udara pelatihan dummy. Kontainer, set tes dan dukungan peralatan, suku cadang dan perbaikan, pelatihan personel dan pelatihan peralatan, serta logistik senilai US$ 47 juta atau sekitar Rp 611 miliar.

Malaysia memesan peralatan militer senilai US$ 21 juta atau setara Rp 273 miliar. Permintaan Malaysia adalah untuk sepuluh unit AIM-120C7 Air-to-Air Missiles, atau AMRAAM, ditambah suku cadang dan aksesori yang akan memastikan kemampuan berkelanjutan pesawat F/A-18D.

Tempo.co

Dikirim oleh : Didiet Trian Hendrata

Berbagi

  61 Responses to “Wow Indonesia Beli Alutsista dari AS Rp 611 Miliar”

  1.  

    Test

  2.  

    Hehehhehehe..salam sehat bung..!!!

  3.  

    beli ke rusia triliunan

  4.  

    gak ada TOT nya ya gan..??

  5.  

    andai saja bisa produk sendiri,,,,

  6.  

    aim doang?

  7.  

    Yaaah elah… sideminder lagi… percuma aja dibilang f-16 blok 52kw bisa bawa amraam sama harpoon…. ujungnya minder lagi minder lagi…

  8.  

    Barang yang diizinkan dibeli masih kalah dibandingkan dg malaysia ….

  9.  

    Indonesia merapat aja ke rusia tahun 60 an indonesia jadi macan asia karena pakai arsenal rusia setelah tahun 65 pakai mamarika jadi macan ompong. Sekarang TNI mulai bergigi lagi berkat hadirnya su 27/3o, Bm3f ,rudal yakhont dll arsenal dari Rusia dan ini fakta.

  10.  

    sabar gan.. ASUe emang suka gitu orangnya..

  11.  

    mari minder berjamaah

  12.  

    Betul bung bajigur kita beli paspur F 35 sekalipun percuma dong kalau di downgrade dan hanya diijinkan pake sidewinder sahaja sementara malon ausir dan singapok pake AMRAAM

  13.  

    Mamarika jual arsenal ke Indonesia tidaklah tulus bisa dilihat pernyataan ke kongres bahwa penjualan itu untuk melayani kepentingan keamanan nasional As. Berarti kita ini dianggap pembantunya mamarika dung.

    •  

      Anda hebat Bung @murai Batu, anda telah sadar. Sayangnya para petinggi kita belum pada sadar, kalau beli arsenal dari ASU itu otomatis akan jadi kacungnya. wkwkwkwkwk.

  14.  

    Rudal sidominder…… Ruaadal andalanya.

  15.  

    Semoga para pemimpin kita sadar karna uang yg dipakai beli senjata dari mamarika itu uang rakyak masak uang rakyat dipakai untuk melindungi kepentingan mamarika..sadarlah para pemimpinku

  16.  

    bangun pagi lihat yang ngedumel jadi kasih.. hehehe…

  17.  

    Nasib indonesia dikasih sidewinder. Semoga nanti untuk su 35 borong R 77 1000 buah sekalian untuk imbangi tetangga yg udah pake Aremarem semua.

  18.  

    Perasaan baru kali ini saya baca artikel di jkgr yang isinya gak se’WOW judulnya.
    ada sih WOWnya(dikit) tapi bukan ditujukan untuk indonesia melainkan Irak & malaysia. WOWnya salah alamat tuh dan itu menyakitkan T_T

  19.  

    emang kenape kalau buang-buang duit rakyat ?

    apa memadamkan kebakaran setelah api membesar tidak termasuk buang-buang duit rakyat ?

    lalu apa gunanya punya satelit pemantau titik api ?

    TNI kan bisa digerakkan sejak awal untuk memadamkan api, toh sekarang tidak ada perang …

    kerja … kerja … kerja …

    •  

      ngemeng doang ente…

    •  

      Ni org membandingkan masalah kok gag nyambung, membandingkan antara memadamkan hutan dgn beli senjata abal2. Klo memadamkan hutan itu karena sdh menjadi bencana bung, dan klo terjadi bencana siapa yg pertama turun???TNI bung.emg Komnas HAM? Kok gag dr kmrn2???? Ya yg salah pemerintah tw titik apinya banyak gag segera nyewa pesawat Be-200. Duit rakyat itu duit kita dr pajak, kecuali klo elu gag pernah bayar pajak laen urusannya. Sedih mmg mending tu F-16 dipensiunkan saja atw jd jet wisata atw jet sewa buat org yg buru2 atw kehabisan tiket pesawat. Enak jg rasanya naik pesawat yg biasanya 2 jam cmn 30 menit, gag ada pramugari gag papa deh

  20.  

    Maaf, bukannya ni berita dah pernah di update di jkgr 1 bulan yg lalu?….

  21.  

    Ah gila yang bener saja! Benar2 menyedihkan belum juga dikasih AMRAAM.

  22.  

    garis besarnya TNI — RSAF
    pesawat f16 block 52ID (32+) — f16 blok 52
    asal pesawat blok 25 usang — blok 52 baru
    produksi 1984 – 1987 — 1999 – 2004
    berat maks Toff 43.000 ponds — 52.000 ponds
    mesin f100-pw220 — f100-pw229
    radius tempur 500km — 2100 km
    penggunaan selain insurgensi — bebas
    embargo sangat besar — tidak ada
    Radar apg68 (v) msa — racr (an/apg -79) aesa
    link 16 one way — 16 two way
    standar data link tidak ada — link 16, 22 nato

  23.  

    ha ha ha….

  24.  

    jangan kuatir KONTRAK FREEPORT SUDAH DIPERPANJANG oleh seseorang sampai tahun 2041 (walaupun seharusnya baru tahun 2019 bisa renegosiasi kontrak, tapi … lebih cepat lebih baik)

    … emas kita banyak dan berlimpah ruah …

    TERIMA KASIH FREEPORT …

    saatnya kerja … kerja …kerja …

  25.  

    Dan masih ada aja yang membanggakan F16 Asu, mau viper kek, ular kadut kek. Tidak heran banyak yang lebih pro Rusia dalam hal alutsista.

  26.  

    Apa sih yang diharapkan Indonesia dari ASU?
    Berbagai peristiwa yang terjadi disini selalu saja ada kaitannya dgn ASU. Perusahaan² ASU yg ada disini jg selalu melanggar aturan² yg telah kita berlakukan. Tp mengapa kita dekati dia terus. Hanya ada satu solusi agar negara kita bebas dari pengaruhnya, yaitu kita harus setidaknya bisa menjaga jarak dgnnya, bukan terus di dekati, apa lagi sambil menghambur² kan uang yang bgt banyak..
    Kalau ada peralatan militer berkualitas tinggi dari negara lain dengan harga yang lebih murah, maka kenapa kita harus membeli yang lebih mahal? Apa lagi kita tidak akan mendapatkan keuntungan lain darinya.

  27.  

    Ya lumayanlah F 16 buat Fly Pass HUT RI, HUT TNI, HUT TNI AU murah sih ongkosnya xixixixixixixixi. ( biar USA ngga dongkol2 amat sama NKRI) .. kalau buat efect ngebully rebut FIR ya pakai sukhoi lah, F 16 cukup nonton dari jauh… di situs F 16.net nggak diaku block 52 tapi diakuinya block 25…

  28.  

    Memang kalau dr sekolaan barat kita beda kelas bung, tp kalau dr sekolaan timur? Hihihi

  29.  

    Beli rudal dummy… Mungkin buat pamer nanti kalau Ultah TNI di Monas

  30.  

    ngapain beli sido minder,mending rudal dari rusia,udah pensiunin smua alutsista dari barat,ngga penting cuma membebani negara klo perang cuma mungkin di bully/udah diremot dari jauh/kedeteckh musuh klo musuh masih seKUTUnya,kita nonblock tapi dimata barat RI ancaman bagi mereka.perkuat alutsista dari RUSIA CS,udah terlalu lama kita di khianati/bumi pertiwi dijadikan sapi perahan nya(sekutu).

  31.  

    F-16 penting sebagai penjahatnya supaya pilot Sukhoi TNI AU tidak perlu pening cari sparing partner …

    coba anda lihat pilot F-16 singapura mereka susah untuk berlatih dengan Sukhoi karena mereka tidak punya Sukhoi …

    saya sokong Indonesia membeli 1 unit F-35 supaya pilot Sukhoi TNI AU bisa terbiasa berhadapan dengan F-35 …

    yang penting kerja … kerja … kerja …

  32.  

    Haduuhhh cuma sidominder sama si amran gemana tni au bisa ditakuti hihihi jadinya minder terus dong??

  33.  

    ASU lagi ketawa terbahak-bahak karena pemerintah Indonesia mau MEMPERPANJANG KONTRAK FREEPORT yang habis tahun 2021 padahal belum tahun 2019, buru-buru amat

    … emang ada deal apa sih ?

    suruh aja presiden terpilih tahun 2019 yang mengambil keputusan soal FREEPORT …

    ayo kerja … kerja … kerja …

  34.  

    apalagi kalau ente pejabatnya. Paling ga punya nyali buat nolak

  35.  

    Wow.. sidewinder!! Kirain apa.. judul nya heboh gitu.

  36.  

    Ke Amrik nggak perlu beli yang mahal. Amram nya beli dari Rusia saja. Yang penting ada beli ke Amrik biar mereka senang, nggak usil. Buying time, kita terus perkuat kemampuan dalam negeri melalui TOT dan pengembangan sendiri.

  37.  

    eh ada tukang cebok …

  38.  

    Sabar bro tni bei senjata kan karena kebutuhan…ketika haus mesti yg di beli air…ataupun ketika lapar mesti yg di beli nasi buat mkn..kita pantau saja kemauan user to dia lebih tau dari pada kita.

  39.  

    kenapa ya kita tidak seperti Vietnam, Thailand…?? mereka benahi dulu sektor pertanian, perkebunan, lihat sekarang, terbukti mereka membeli alusista untuk pertahanan seperti curahan ujan.. mereka sudah siap dengan tubuh yang kokoh.. tinggal melengkapi pedang dan baju perang…

  40.  

    xiixixxixixixi ad timbal balik dr perpanjangan freport
    dan dengar2 freeport akan bangun tambang bwah tanah terbesar di dunia xixiixixixixi hati2 bs2 djadikan markas pasukan usa tuk melatih org2 untuk mlakukan ,,,,,,,xixiixixixi
    skali lgi waspada

  41.  

    dasar asu pilih ksh,gk dikasih rudal aim 120 mlh rudal jarak pendek mulu padahal freeport kita dijarah habis2an ribuan triliun

  42.  

    Emang doi sering maen kesana?

    Tar kejadiannya kayak heron kemarin…yang dibeli pythoon, ngakunya derby?!!!

  43.  

    611 milliar ke Amerika sedikit lah utk beli alutsista ecek ecek agar ASU ga ngambek dan kita diobok obok. Bandingin donk pembelian kita ke Rusia Ukraina Germany Korea Selatan mana yg lebih besar. Menurut saya bagus donk uang kita cuma keluar 600an M ga lebih dan itu menandakan kita benar benar berpaling dari barat.

  44.  

    “pemerintah telah mengirim surat ke PT FREEPORT yang isinya MEYAKINKAN PT FREEPORT MASIH bisa tetap menambang emas di Papua setelah kontrak karya berakhir tahun 2021”

    INI APA NAMANYA KALAU BUKAN PERMAINAN KATA-KATA ?

    Kontrak karya diganti nama jadi yang lain, tapi intinya tetap sama, yaitu dari sejak 1967 sampai 2021 sampai entah kapan itu freeport masih betah di sini …

    apa Rusia tidak punya perusahaan tambang emas ya ? entahlah …

  45.  

    Malon lagi kere cuma ada duit 273 M tapi dapet AMRAAM…. kita punya 611 M cuma dapet AAM yg cuma bisa buat nembak curut….. curut malon !!… wkwkwkwkwkwk…

  46.  

    COMPLICATED OF KFX PROJECT.

    (I): AWAL SEBUAH PROGRAM AMBISIUS

    Empat tahun lalu, pada Seoul Air Show 2011, pejabat Korea Selatan memperkirakan bahwa 2013 akan melihat awal dari pengembangan pesawat tempur negara itu yang telah lama direncanakan yakni KFX. Penerbangan pertama pesawat kemungkinan akan dilakukan pada 2015, dan produksi pada 2021. Seoul akan memiliki 60% saham dalam proyek tersebut, sementara calon mitra Indonesia dan Turki akan masing-masing memiliki 20%. Tetapi saat ini semua rencana itu meleset.

    Pesawat yang direncanakan memang cukup ambisius dan akan menjadi pesawat paling canggih yang dikembangkan Korea Selatan. Pesawat ini diharapkan akan membawa negara tersebut masuk dalam jajaran negara di lapis kedua produsen pesawat tempur.

    Defense Acquisition Programme Administration (DAPA) Korea Selatan memberikan daftar panjang persyaratan: kontrol penerbangan fly-by-wire, hands-on-throttle-and-stick pilot controls, helmet-mounted display dan night vision imaging system. Selain itu pesawat juga akan memuat teknologi yang menjadikan pesawat memiliki sifat radar cross section (RCS) rendah. KFX juga akan memiliki radar active electronically scanned array (AESA) dan sensor infrared search and track (IRST).

    Sebenarnya sudah umum di dunia pengembangan pesawat tempur bahwa hal-hal yang direncanakan tidak berjalan sesuai rencana.Turki akhirnya tidak jadi bergabung KFX, dan memutuskan untuk membangun pesawat tempur sendiri yang dikenal dengan TFX. Pada Seoul Air Show 2013, pejabat Korea Selatan masih dalam pembicaraan dengan berbagai pemasok, tapi belum ada prototipe pada papan gambar. Memang, itu masih jauh dari keputusan apakah Korea Aerospace Industries (KAI), atau KAL-ASD, sebuah unit dari Korean Air yang akan mengembangkan KFX.

    Mungkin unsur terbesar dalam penundaan adalah program kompetisi tempur FX III yang akan menentukan transfer teknologi yang dialokasikan untuk pekerjaan KFX. Sejumlah pesaing berjuang dengan kesepakatan FX III termasuk Lockheed Martin F-35, Boeing mengusulkan F-15 Silent Eagle, dan Eurofighter Typhoon. Eurofighter selalu dianggap orang luar untuk kompetisi, tapi menyatakan setuju untuk transfer teknologi ke KFX. Pada 2013, setelah menit terakhir dari F-15SE, F-35 muncul sebagai pemenang program FX III, meskipun Seoul memotong persyaratan jumlah pesawat dari 60 menjadi 40 saja karena masalah anggaran.

    (II): MENCOBA MENJADI PEMAIN BARU

    Pada 2013, KAI memiliki dua model proposal KFX yakni bermesin tunggal dan bermesin ganda. Insinyur KAI menyukai jet bermesin tunggal karena menyederhanakan produksi dan menjaga harga bisa lebih murah. Mereka juga berfikir pesawat model mesin tunggal akan lebih memiliki potensi ekspor. Agency of Defense Development (ADD) Seoul tidak setuju dan memilih model dua mesin menyerupai F-15. Angkatan udara Korea Selatan juga ingin dua mesin. Menurut mereka dengan dua mesin maka KFX akan lebih kuat dan besar untuk bisa membawa senjata lebih banyak dan tentu saja terbang lebih cepat.

    Akhirnya, pada bulan Mei 2015 DAPA Korea Selatan akhirnya menyatakan KAI sebagai pemenang dalam program ini dengan Lockheed Martin menjadi perusahaan yang membantu dalam hal teknis. Keberhasilan KAI diambil setelah sempat tender diulang pada bulan Februari, ketika KAL-ASD (yang bermitra dengan Airbus Defense & Space) memutuskan untuk tidak mengajukan penawaran.

    “Manfaat bagi Korea Selatan dari program KFX akan memberikan pesawat modern untuk menggantikan F-4 Phantom dan Northrop F-5,” kata analis Forecast Internasional Daniel Darling. “[Hal ini juga dimaksudkan untuk] menambah inovasi industri dirgantara lokal dan kompetensi melalui knowhow yang diperoleh KAI dari bekerja sama dengan Lockheed Martin pada pengembangan pesawat, dan mengurangi biaya lebih signifikan dalam pengadaan anggaran pertahanan Korea Selatan karena pembagian beban biaya proyek, dengan 20 persen yang akan digawangi oleh tim KAI-Lockheed, dengan 20 persen lagi oleh Indonesia. ”

    Analis Teal Grup Richard Aboulafia setuju bahwa program KFX memiliki potensi untuk memajukan sektor kedirgantaraan Korea Selatan.

    “KFX akan membantu industri Korea Selatan mencapai kemampuan dan otonomi tingkat baru,” katanya. “Jika mereka dirancang dengan pasar ekspor itu berpotensi akan membangun industri Korea Selatan sebagai pemain di pasar pertahanan global.”

    Meskipun potensi ekspor KFX akan sulit menemui hambatan mengingat banyak teknologi yang digunakan adalah milik asing seperti Amerika yang sangat pilih-pilih melepas teknologi ke negara lain.

    (III): JANJI PALSU AMERIKA

    Ahli pertahanan Korea Selatan telah lama mengeluh tentang sikap Amerika dalam hal transfter teknologi sensitif. Sumber yang dekat dengan program ini mengatakan tantangan terbesar adalah mendapatkan izin ekspor dari pemerintah AS terkait dengan teknologi AESA, mesin, integrasi sistem, dan lainnya.

    Sebagai gambaran betapa sulitnya mendapatkan teknologi Amerika adalah dalam program KAI T-50, di mana Lockheed Martin memberikan bantuan yang sangat diperlukan. Tetapi sebuah sumber yang dekat dengan T-50 mengatakan Washington menempatkan pembatasan besar ketika Indonesia mengakuisi pesawat ini dengan hanya memberi batasan 16 pesawat T-50, khususnya di sekitar radar dan misi komputer pesawat.

    Pada akhir 2014, tim aerobatik Eagles Korea Selatan yang terbang dengan varian T-50B juga membatalkan penampilannya di Airshow China di Zhuhai. Ini tidak penjelasan resmi dari keputusan itu namun laporan media menyatakan bahwa AS tidak senang bahwa pesawat yang mengandung banyak teknologi Amerika akan menghadiri acara di China.

    Ketakutan tentang lisensi ekspor Korea Selatan menjadi kenyataan pada akhir September 2015 ketika DAPA mengumumkan bahwa AS telah menolak untuk memberikan izin ekspor pada empat teknologi kunci KFX: yakni radar AESA, IRST, perangkat pelacakan sasaran elektro-optik, dan jammers.

    Berita ini memunculkan kehebohan di media Korea Selatan, dengan laporan yang mengatakan bahwa kepemimpinan negara itu akan melakukan investigasi ke dalam program tersebut. Laporan menunjukkan bahwa DAPA gagal untuk menjaga kepemimpinan bangsa sampai dengan kecepatan pada kemajuan dengan lisensi ekspor.

    Sebuah tema kunci dalam liputan media Korea masalah ini adalah bahwa teknologi untuk program KFX yang telah diturunkan dari offset yang terkait dengan pembelian F-35. Kebijaksanaan beberapa pertanyaan DAPA dalam memilih F-35 ketika transfer teknologi tampaknya tidak meyakinkan. Selain empat teknologi “inti” yang telah ditolak, 21 teknologi lainnya telah disetujui oleh Departemen Pertahanan AS, namun masih menunggu persetujuan Departemen Luar Negeri.

    Meskipun DAPA tidak menyebutkan bahan penyerap radar (RAM) dalam pernyataan September lalu, hal ini akan menjadi daerah lain di mana KFX akan menghadapi pembekuan headwinds. Pada tahun 2011, para pejabat Korea mengatakan mereka akan mengerahkan pesawat pada tahun 2020 dengan kemampuan dasar siluman, meskipun mereka menolak untuk menjelaskan apa artinya ini.

    Mereka berpendapat bahwa membentuk sebuah badan pesawat untuk mengurangi RCS adalah rahasia besar. Semua baik dan bagus, tetapi tidak mungkin bahwa akuisisi F-35 oleh Seoul melalui mekanisme penjualan US Foreign Military termasuk ketentuan izin ekspor terkait dengan formula rahasia yang digunakan dalam RAM.

    (IV): INDONESIA TERANCAM DISINGKIRKAN

    Sementara itu, meski mengalami sejumlah penundaan salah satu yang konstan dalam program ini adalah dukungan Indonesia. Memang ada sedikit keraguan tentang minat Jakarta dalam hal KFX, dengan pernyataan akan menunda program ini. Tetapi baru-baru ini Indonesia mengumumkan peletakan batu pertama fasilitas KFX di pusat produksi PT Dirgantara Indonesia di Bandung. Selain itu secara konstan disebutkan program ini nanti akan melahirkan 120 pesawat untuk Korea Selatan dan 80 pesawat untuk Indonesia.

    Sayangnya, uang tunai Jakarta yang bisa membantu mengembangkan KFX, juga telah menjadi pengalang dalam hal transfer teknologi. Washington cenderung belum percaya dengan Indonesia untuk bisa mendapatkan teknologi sensitif, apalagi rahasia yang dijaga ketat seperti RAM. Karena baru pada tahun 2006 Washington tidak mengangkat embargo senjata pada Indonesia.

    Beberapa sumber Korea menyalahkan keterlibatan Indonesia yang menjadikan Amerika enggan untuk mengeluarkan izin ekspor. Seorang pakar bahkan mengatakan bahwa mengeluarkan Indonesia dari program ini akan menjadi cara yang baik untuk menenangkan Washington.

    Untuk mengatasi keraguan dan kekhawatiran Washington tentang keterlibatan Indonesia, saat ini direncanakan untuk memberikan Jakarta dengan jet dalam konfigurasi Blok I. Blok I tidak akan menggunakan pelapis siluman, tangki bahan bakar konformal, tetapi tidak ada senjata internal. Blok II, yang akan diperuntukkan untuk angkatan udara Korea Selatan dengan akan memiliki tangki bahan bakar konformal selain teluk senjata internal dan kemungkinan pengenalan pelapis siluman.

    Jika ide Blok I tidak cukup untuk meluluhkan Washington, cara lain untuk menjaga Indonesia dalam program dan mendapatkan izin ekspor bisa berkembang dua varian yang berbeda luas dari KFX dan IFX. dan tentu saja kemampuan IFX akan jauh berkurang dibanding KFX. Pendekatan trek ini kembar, bagaimanapun, akan menaikkan biaya dan kompleksitas. Seorang pakar mengatakan bahwa saat kegagalan lisensi ekspor mungkin bisa menyebabkan Seoul untuk meninjau ulang ambisinya membangun jet tempur dengan kembali pada desain mesin tunggal seperti yang disuka KAI.

    Tantangan lain utama untuk KFX dan sangat tergantung pada Amerika yakni perangkat lunak. Para pejabat Korea Selatan mengatakan di masa lalu Korea Selatan mampu menghasilkan sensor dan sistem canggih, memiliki sedikit pengalaman dengan fungsi sensor yang sangat penting dalam memberikan pilot gambaran terpadu dari ruang pertempuran. Hanya pesawat tempur Korea Selatan, FA-50 varian dari T-50 yang pada dasarnya merupakan pesawat yang efektif tapi itu masih jauh dari kemampuan yang diharapkan pada KFX.

    “Meskipun Korea Selatan memperoleh teknologi dari pengembangan KT-1 dan T-50 untuk mengembangkan jet tempur, bangsa ini belum memiliki teknologi inti,” kata Kim Dae Young, sekretaris jenderal Forum Pertahanan & Keamanan Korea (KODEF), dan konsultan pemerintah Korea Selatan. “Transfer teknologi inti akan sangat tergantung pada izin ekspor pemerintah AS.”

    Seperti ahli lainnya ia menggemakan pandangan bahwa keterlibatan Jakarta dalam program mungkin menjadi iritasi bagi AS. Menurut Kim, salah satu rencana cadangan adalah untuk memperoleh teknologi inti dari Eropa. “Masalah lain adalah untuk mencari tahu berapa banyak kebutuhan pembatasan pada suatu tempat akan diperlukan.

    Dia menambahkan bahwa program ini akan menelan biaya sekitar US$ 15 miliar, dan menjadi proyek pengadaan terbesar dalam sejarah Korea Selatan. “Seperti yang kita lihat dari program jet tempur negara lain, sangat mungkin bahwa program ini akan melebihi anggaran. Ada anggaran untuk pengembangan sistem KFX, tetapi jika program pembangunan tidak berjalan dengan baik, lebih anggaran harus diinvestasikan. Ini akan menjadi beban besar bagi pemerintahan berikutnya.”

    (V): TETAP BERHARAP PADA AMERIKA

    Mesin KFX sepertinya tidak begitu masalah mengingat ada sejumlah pilihan untuk mencari daya dorong pesawat pada 20.000 pon. Salah satunya General Electric F414 yang menjadi kekuatan Super Hornet, dan Eurojet EJ200 yang menjadi kekuatan Eurofighter Typhoon yang oleh Eurojet Rolls-Royce ditawarkan dalam varian EJ200 KFX. Menjadi powerplant KFX akan bermanfaat besar untuk kedua program mesin, namun para ahli industri mengatakan mesin GE memiliki tepi yang jelas. Korea Selatan memiliki pengalaman panjang dengan mesin tempur buatan Amerika. Perusahaan lokal Samsung Techwin telah menghasilkan sejumlah mesin GE di bawah lisensi, seperti F100 untuk KF-16, F110 untuk F-15K, dan F404 untuk T-50.

    Dari pasangan, mesin GE juga tampak ditakdirkan untuk lebih lama menjalankan produksi. Meskipun platform utamanya, F / A-18 E / F dan EA-18G, kemungkinan untuk keluar produksi pada akhir dekade ini, telah menemukan sebuah rumah di jenis asing seperti Hindustan Aeronautics Tejas Mk II dan baru Saab Gripen NG.

    “Berdasarkan pendapat kedirgantaraan industri Korea Selatan, F414 GE adalah kandidat terkuat dalam hal kemampuan dan harga,” kata Kim. Dia mencatat bahwa GE memiliki lebih banyak pengalaman dengan program dalam negeri , termasuk T-50 dan FA-50, yang didukung oleh F404 itu.

    “GE juga telah membangun hubungan jangka panjang dengan industri kedirgantaraan Korea Selatan dan Hanhwa Techwin memproduksi berbagai bagian mesin GE saat ini,” tambahnya. “Kelemahan terbesar Eurojet adalah bahwa ia hanya memiliki pengalaman dalam program Eurofighter. Sementara mesin F414 memiliki banyak pengalaman lapangan dengan F / A-18 E / F. Oleh karena itu, saya percaya ROKAF lebih percaya diri dengan mesin GE. ”

    Satu bidang lagi yang terkait dengan KFX adalah mengembangkan solusi sendiri dalam hal senjata. Korea Selatan telah bekerja untuk menghasilkan senjata dipandu 225kg yang disebut bom Korea GPS-guided bomb (KGGB), yang pada dasarnya merupakan versi dari Boeing joint direct attack munition (JDAM) dengan beberapa perubahan. Senjata ini juga yang dijatuhkan dari sejumlah platform termasuk FA-50, F-5, dan F-15. Seoul juga telah menyatakan minatnya untuk mengembangkan rudal udara ke udara senjata KFX.

    Sektor lain di mana Seoul telah mengembangkan beberapa keahlian yang berguna adalah teluk senjata internal. Pada tahun 2010, Boeing dan KAI meneken nota kesepahaman di mana perusahaan Korea akan merancang, mengembangkan, dan memproduksi teluk senjata konformal untuk F-15SE, runner up di FX III. Meskipun Silent Eagle pernah muncul sebagai varian produksi F-15, pada bulan Juni 2012 Boeing mengatakan bahwa pihaknya telah menyelesaikan tes wind tunnel untuk CWB jenis ini.

    Korea Selatan dapat membawa teknologi berharga ini untuk program KFX, tapi jauh lebih akan diperlukan untuk mengembangkan jet tempur modern yang efektif. KFX tidak bisa lepas dari masalah lisensi ekspor. Meskipun kerasnya Washington saat ini, ada harapan bahwa pemerintah AS dan Korea Selatan akan dapat memilah-milah perbedaan mereka dan bergerak maju KFX. Indonesia masih berada integral dalam program, tetapi jika Seoul dipaksa untuk memilih antara Jakarta dan Washington kecil kemungkinan loyalitas mereka terhadap Amerika kalah dibandingkan kepada Indonesia.

    Chae Woo-seok, ketua Asosiasi Studi Industri Pertahanan Korea, menegaskan KFX sebagai perkembangan alami untuk industri kedirgantaraan nasional.

    “Sektor kedirgantaraan meningkatkan kemampuan pertahanan diri kami dan menurunkan ketergantungan kita pada peralatan asing,” katanya. “Jika kita merancang dan mengembangkan jet tempur di rumah, mereka dapat dioptimalkan untuk lingkungan kita sendiri. Hal ini juga akan mudah untuk mengoperasikan dan memelihara dalam hal logistik. Mengingat tingkat teknologi kami saat ini, saatnya untuk mengembangkan jet tempur kita sendiri. ” (Selesai)

    Sumber: Flightglobal
    Yesterday at 03:26 · Public

  47.  

    irak dulu belanja sama papa bear…sekarang belanjanya ke paman sam…takut di proxywarin lagi sama asu…kalo condong ke timur

  48.  

    malaysia rudal AIM-120C7 AMRAAM sedangkan indonesia AIM-9X-2 rudal Sidewinder……..!!!

    what do you think?

    dari dulu sampai sekarang itu aja gk peningkatan… klw masalah AIM 😀

    upgrade pesawat buatan USA ini…itu…msih aja paling canggih rudal sekelas AIM-9X-2 rudal Sidewinder

    blm lagi F16 viper…klw jadi yg mmbuat indo pemakai pertama.
    & yg pertama juga f16 viper hanya menggunakan rudal paling canggih AIM-9X-2 rudal Sidewinder 😀

 Leave a Reply